Terpaksa Menikahi Gadis Ingusan

Terpaksa Menikahi Gadis Ingusan
Kecemburuan Ziko


__ADS_3

Dikantor, Ziko mulai sibuk kembali bekerja seperti biasa, meskipun begitu senyum manja dan tawa manis Ayuna tidak pernah lepas dari ingatannya, bahkan ingin rasanya Ziko berada setiap saat disamping istri kecilnya itu.


"Aaagggh... Ayuna, sekarang bayanganmu mulai mengikuti setiap arah pandanganku." Ziko mengusap kasar wajah tampan nya. mengentikan sejenak kesibukannya, untuk sekedar memikirkan Ayuna, bahkan dia seperti sudah lupa jika dia memiliki Khanza yang dulu begitu dicintainya.


Lamunan Ziko buyar, ketika sekretaris Tia masuk kedalam ruangan kerjanya, membawa beberapa berkas yang harus segera ditanda tangani oleh Ziko.


“Tia apa kamu bisa membantuku?"


"Bisa, pak. tapi dalam hal apa?"


"Carikan rekomdasi kampus terbaik buat Ayuna,"


"Bukankah, Nona Ayuna masih ada satu semester lagi, pak." ucap Tia yang sudah mengetahui siapa Ayuna sebenarnya.


"Ya, tapi sebelum itu, aku sudah harus menyediakan universitas terbaik untuk nya nanti."


“Baiklah pak, saya akan mencoba mencarikan nya nanti, saya permisi dulu."


"Silahkan."


"Setelah, Ayuna lulus nanti, aku ingin menjauhkan Ayuna dari bocah tengil yang bernama Reno itu. karena aku merasa dia mempunyai tujuan yang lain, selain sekedar sahabat, tapi kenapa aku sekarang mulai cemburuan ya. apa aku sudah benar-benar jatuh cinta pada Ayuna." Ziko perang batin dengan persamaan sendiri. yang kadang membuat nya ingin melompat ke kolam yang tidak ada airnya, sehingga lebih nyata sakitnya jika seandainya Ayuna akan berpaling darinya.


Satu jam berlalu, sekretaris Tia kembali keruangan Ziko, membawa beberapa lembar brosur rekomedasi universitas terbaik negeri ini.


“Ini pak, beberapa universitas terbaik beserta brosur nya.” Meletakkan dimeja Ziko.


"Ya, terimakasih Tia."


Ziko mengehentikan sejenak pekerjaannya, dan mulai membaca dan memperlihatkan satu persatu kelebihan dan kekurangan campus tersebut. Hingga dia memutuskan salah satu kampus yang dirasanya lebih baik dibandingkan dengan yang lainnya.


“Tia, nantinya kamu daftarkan Ayuna kuliah ditempat ini.” Ziko memberikan salah satu brosur ketangan Tia kembali.


“Bapak tahu saja, jika kampus ini benar-benar bagus, dibandingkan dengan yang lain.” Ucap Tia yang merasa sependapat dengan Ziko.


“Tahu dari mana kamu?”


“Aku, pernah kuliah disana pak.” Jawab Tia.

__ADS_1


Sore saat jam pulang kerja, Ziko bersiap dan langsung meluncur pulang menuju apartemen mereka. rasanya sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan Ayuna.


Panggilan masuk mengagetkan Ziko, dia segera mengangkat panggilan yang ternyata dari sang mama tercinta. sambil terus fokus nyetir mobil.


"Hallo assalamualaikum, ma."


"Waalaulikumsallam, nak. Oya Ziko hari ini kamu langsung pulang kerumah mama ya, kita kedatangan tamu musuh kecilmu dulu."


"Baiklah ma, tapi Ziko jemput Ayuna dulu ya."


"Ngak usah Ziko, karena Ayuna sudah berada dirumah mama sekarang."


Setelah menutup Panggilan, Ziko kembali putar balik pulang menuju rumah kedua orang tuanya, namun saat memasuki gerbang utama rumah besarnya, Ziko melihat mobil yang sangat dikenalnya, yang merupakan milik Aldo saudara sepupu Nya.


"Jadi gara-gara ini, mama memintaku pulang." gumam Ziko masuk. langkah kaki Ziko terhenti saat melihat Ayuna ngobrol begitu akrab. dengan sepupunya Aldo bahkan Ayuna tertawa bahagia sesuatu yang belum pernah ditunjukkan pada dirinya.


Seketika Ziko merasa geram dadanya tersa panas. Dia mendekati mereka yang sedang asik ngobrol. sementara mama sibuk dengan kado yang dibawakan oleh Aldo.


“Ayuna cepat kekamar.” Terdengar suara Ziko yang dingin dan datar.


Gelak tawa mereka terhenti, semua pandangan tertuju terarah ke Ziko. Termasuk mama yang menghentikan senyumnya. mengerutkan kening heran melihat sikap Ziko yang terkesan aneh dan tidak seperti biasanya.


“Ngapain kamu kesini?” Tanya Ziko acuh.


“Aku kesini, selain kangen dengan Tante, juga penasaran saat mendengar jika Tante Qanita sudah mempunyai anak angkat perempuan yang sangat cantik.” goda Aldo. Dia sudah melihat api cemburu yang berapi-api terpancar dari wajah Ziko.


Ziko tidak menghiraukan lagi ucapan Aldo, dia langsung menyusul Ayuna, saat melihat Ayuna sudah berjalan menuju lantai atas kamar mereka.


Ziko menutup pintu kasar, membuat Ayuna terlonjak , namun gadis itu tidak berani bersuara. Dia membantu mengambil pakaian ganti untuk Ziko dan meletakkan diatas kasur. dengan jantung deg-degan takut melihat wajah seram Ziko sekarang.


“Ayuna siapkan air mandi.” Perintah Ziko dingin tanpa ekspresi.


“Baik mas.” Masuk kedalam kamar mandi dan mengisi bactub dengan air serta aroma terapi kesukaan Ziko. Saat hendak berbalik Ayuna langsung menabrak tubuh kekar tanpa pakaian didepan nya.


“Mas Ziko.” Ayuna langsung mengalihkan pandangannya kearah lain. Karena malu melihat tubuh Ziko yang polos.


Ziko melangkah santai masuk kedalam bathub, melihat hal itu Ayuna langsung ingin ngacir keluar.

__ADS_1


“Mau kemana kamu, cepat bantu mandikan dan gosok punggung ku.” Perintah Ziko dengan suara agak keras.


“Tapi mas...” Ayuna terlihat ragu.


“Cepat, ini tugasmu sebagai istriku. Bukan nya bercanda dan ngobrol dengan pria lain. saat suamimu tidak dirumah.” Suara Ziko terdengar penuh kemarahan.


Ayuna tidak mau berdebat lebih jauh lagi, dia membalikkan badannya, dan berjalan mendekati Ziko. Tangan Ayuna bergetar ini pertama kalinya dia menyentuh tubuh pria dalam kondisi seperti ini.


Perlahan tangan Ayuna yang bergetar, mulai menyabuni punggung Ziko, hingga menyampokakan Rambutnya dan *******-***** perlahan rambut itu, meskipun dia merasa begitu malu. Namun Ayuna tidak berani melihat wajah Ziko yang tidak seperti biasanya.


“Lanjutkan hingga kebawah,”


Ayuna memejamkan matanya, sambil terus mengikuti perintah Ziko, meskipun tangannya sering menyentuh atau tersentuh benda yang keras meskipun secara tidak sengaja, mengingat dia melakukan dengan Mata terpejam.


Mood Ziko kembali membaik, melihat Ayuna yang patuh dan tidak melawan perintah dan ucapan nya, bahkan bersuara pun Ayuna tidak berani.


“Sudah cukup.” ucap Ziko dan langsung berdiri berjalan menuju shower.


"Mata polosku, kamu kembali ternoda oleh tubuh mas Ziko, meskipun dia sudah menjadi suamiku, tapi aku benar-benar belum siap melihat ini kembali."


Ayuna pura-pura sibuk menyusun kembali botol sampho dan mengeluarkan air dalam bactub. Dia tidak ingin melihat sesuatu yang menodai matanya yang masih suci dan polos.


“Ayuna mana handuk nya?"


Segera Ayuna mengambil handuk yang tergantung dan menyerahkan dengan memicingkan kedua mata.


“Ini mas.”


“Mana Ayuna, kamu mengarahkan handuk nya pada dinding. bukan ketanganku langsung.” Ziko sengaja menggoda Ayuna yang sudah merah muka nya seperti kepiting rebus.


“Ini mas” ulang Ayuna kembali saat mersa posisi tangan sudah tepat terarah pada posisi Ziko berdiri.


“Belum sampai, kamu mendekat lah sedikit lagi.” Perintah Ziko yang semakin gemas melihat tingkah istri imut nya itu.


Ayuna seakan-akan hilang kesabaran, dia mersa Ziko sengaja menggodanya. Dengan kesal dia melemparkan handuk itu tepat diwajah Ziko yang masih tersenyum mesum, dan melangkah keluar kamar mandi. meninggalkan Ziko yang tertawa lepas melihat tingkahnya.


“Ayuna aku rasa, setelah ini kamu bakal kapok ngobrol dengan laki-laki lain, karena hanya aku yang boleh duduk dengan jarak seperti tadi dengan mu. Bukan plaboy cap ayam grepek seperti Aldo itu.” gumam Ziko merasa puas.

__ADS_1


 


 


__ADS_2