Terpaksa Menikahi Gadis Ingusan

Terpaksa Menikahi Gadis Ingusan
Merubah kesepakatan


__ADS_3

Tiba-tiba Ziko membatalkan niatnya untuk turun, ketika sudah sampai didepan restoran, dia memutar balik mobilnya meninggalkan lokasi yang merupakan favoritnya dengan Khanza. Membuat Ayuna mengerutkan keningnya bingung, karena Ziko tiba-tiba membatalkan niatnya untuk turun.


“Kok ngak jadi mas?” Tanya Ayuna yang sudah merasa sangat lapar.


“Makanan disini ngak enak, kita cari tempat lain saja, yang jauh lebih enak dan lezat." Jawab Ziko asal memutar arah balik mobil Nya.


“Restoran itu saja sangat ramai pengunjung, tidak mungkin makanan disana tidak enak.” balas Ayuna namun tidak dihiraukan oleh Ziko, dia terus melajukan mobilnya kerestoran lain.


“Ayo Ayuna kita turun. Ini Restoran favorit mama. Pasti kamu ketagihan jika sudah mencoba makan makanan disini, mengingat selera kamu dan mama banyak kesamaannya.”


Ayuna mengangguk, mereka masuk dan langsung menuju ruangan VIP. tempat yang sangat nyaman bagi pasangan untuk ngobrol leluasa.


“Ayuna, aku ingin berkata sesuatu. aku harap kamu juga mengerti dengan apa yang aku sampaikan.” nampak Ziko tengah memikirkan kata-kata yang tepat.


“Apa mas?”


“Aku ingin membatalkan kesepakatan, yang aku buat dulu, mas sadar  benar-benar telah mengambil keputusan yang salah. Tanpa menyadari perasaanku yang sesungguhnya terhadap mu, Ayuna.” Menatap sayang wajah Ayuna


“Maksud mas Ziko, bagaimana. Ayuna masih kurang mengerti?"


“Mulai sekarang, aku ingin hubungan kita layaknya suami dan istri yang sesungguhnya. Ayuna, mas janji akan menjadikan mu wanita satu-satunya dihati mas, tidak ada yang lain.” Ziko sudah memantapkan keputusan nya, bahkan dia sudah berniat untuk meninggalkan Khanza.


“Bagaimana dengan Khanza mas?” Ayuna menatap bola mata Ziko, mencari kesungguhan dari ucapannya.


“Dia hanya masa lalu bagiku. Dan kamulah masa depan mas sekarang sayang, mas akan mencari waktu yang tepat untuk memutuskan Khanza.” Mengelus-elus wajah putih mulus Ayuna.


Ayuna tersenyum manis, dan mersa kebahagiaan nya berlipat-lipat dengan perlakuan istimewa dari Ziko dan ke-dua mertuanya yang sangat baik. Dia tidak pernah membayangkan hal ini sebelumnya.


"Tapi mas, Ayuna belum siap untuk hamil."


"Tidak masalah, mas ngerti apa yang kamu pikirkan. kita akan tetap tidur terpisah. sampai kamu tamat sekolah dan sudah benar siap untuk menjadi istri mas yang sesungguhnya."


Ayuna memeluk Ziko, yang langsung mendapat sambutan yang tidak kalah hangat dan mesranya. Bahkan Ziko menghujani wajah Ayuna dengan ciuman panjang.


“Udah mas, malu dilihat orang.” Ayuna berusaha lepas dari rangkulan tangan Ziko yang kekar.


“Untuk apa malu sayang, anggap lah kebahagiaan ini hanya milik kita berdua.” Memulai kata-kata gombal nya. Sehingga sebuah cubitan kecil melayang dipinggang Ziko. Namun dengan sigap dia meraih tangan Ayuna dan menguncinya. sehingga Ziko dapat dengan leluasa, menggelitik pinggang Ayuna.


“Mas jangan nn....geli tau...ha...ha...aduh ampun mas.” Ucap Ayuna sambil meronta agar terlepas. Dia sangat kegelian dicampur tawa tertahannya.


***

__ADS_1


Pagi-pagi sekali Ayuna sudah rapi. Dan mulai mempersiapkan segala sesuatunya, setelah beres dia keluar. sarapan bareng dengan Ziko.


Ziko mengulum senyum, melihat kesibukan Ayuna yang sebentar lagi akan ujian akhir.  hubungan mereka berdua sangat membaik. meskipun begitu Ziko belum mengambil dan menuntut haknya sebagai suami pada Ayuna. Karena dia tahu jika istri kecilnya belum siap. Ziko akan sabar menunggu sampai Ayuna sudah siap lahir batin.


“Ayuna, apa kita berangkat bareng?” 


“Ngak usah mas, soalnya Ayuna kali ini bareng Rara.” Jawab Ayuna, sambil melanjutkan sarapan nya.


Ayuna melirik jam dinding, yang tergantung disudut ruangan makan mereka.


"Mas, aku berangkat duluan, ya." Ayuna mencium punggung tangan Ziko.


“Sayang, tapi ini kan masih terlalu pagi sekali.”


“Ngak papa mas, biar ngak ngak telat, karena harus ketempat Rara dulu nantinya.” Jawab Ayuna.


“Ternyata istriku begitu semangat untuk belajar, mas jadi bangga melihatmu.” Puji Ziko sambil memasang sepatu kerjanya sendiri, setelah selesai Ziko kembali menahan Ayuna.


"Apalagi, mas?"


Ayuna mendekati Ziko. dengan cekatan dia membantu memasang buah baju kemeja Ziko yang lupa terpasang satu kancing.


“Terimasih sayang.” Setelah Ayuna selesai memasangkan dan membantu merapikan penampilannya.


“Maaf mas, Ayuna ngak bisa dan ngak tau caranya.”  Jawabnya jujur.


“Sini mas ajari.”


Ziko mengangkat tubuh Ayuna, lalu mendudukkan nya diatas meja. Biar tangan mungil Ayuna bisa sampai. Mengingat tinggi badan Ziko yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tinggi badan Ayuna.


"Perhatikan cara pasang nya, dan harus seperti ini."


Ziko mulai mengajari Ayuna, dengan memasang sendiri. Dan kembali membuka nya, lalu menyuruh Ayuna untuk memasangnya sendiri.


“Gantian, coba sekarang istriku yang imut ini memasangkannya.”


Ayuna mengikuti cara Ziko barusan, agak pelan namun dia akirnya bisa juga.


“Gimana mas.”


Ziko memperhatikan, sambil mengulum senyum.

__ADS_1


“Lumayan untuk awal, meskipun agak kurang pas.” memperbaiki Ziko memperbaiki kembali.


“Ayuna, aku ingin mulai sekarang dan seterusnya. kamu yang ngurusin keperluan pribadi mas ya.”


“Iya mas.”


“Ya udah sekarang kita berangkat dulu, Nanti jika mas ngak sibuk. Biar mas yang gantian antar jemput kamu ya.” Mencium hangat pundak Ayuna.


Mereka bergandengan menuju lobby apartemen, lalu berpisah disana.


"Ayuna, kamu hati-hati ya."


"Iya mas "


Ayuna tersenyum senang, paling tidak dia merasa tengah bersama Ziko terus. Kemanapun pergi. Dengan mencium aroma farfum tubuh Ziko yang masih melekat ditubuhnya.


Sampai disekolah, Ayuna dan Rara langsung pergi menuju kejelasan mereka. walaupun Reno berusaha untuk mendekati nya, namun Ayuna berusaha untuk mengelak. dia tidak mau Ziko mengetahui jika dia ngobrol dengan Reno, dia masih teringat wajah marah Ziko terakhir kalinya.


Bahkan Ziko menyuruh nya memandikan, sehingga mata Ayuna kembali ternodai. Hanya gara-gara dia ketahuan ngobrol dengan saudara sepupu nya sendiri Aldo.


"Iiih..serem juga, jika teringat bagaimana mas Ziko saat sedang marah." Ayuna bergidik ngeri membayangkan hal itu.


Ayuna mengikuti mata pelajaran dengan serius, semangat nya yang kuat. sehingga Ayuna cepat mengerti dan paham setiap materi yang diajarkan oleh gurunya.


“Pulang bareng yuk.” Ajak Reno tiba-tiba menghampiri Ayuna.


“Makasih, Reno. tapi aku bawa motor sendiri.” Elak Ayuna.


“Ya udah, kalo gitu aku duluan ya, Bey....” Reno melambaikan tangannya, tersenyum hambar karena penolakan Ayuna yang kesekian kalinya.


Reno mengepalkan tangannya, berusaha mengendalikan rasa kesalnya karena penolakan Ayuna.


"Sabar Reno, kamu harus bermain cantik untuk mendekati Ayuna. Beginilah sakitnya jika mencintai isteri orang, meskipun aku tidak yakin jika Ayuna benar-benar sudah menikah. seperti yang pernah diceritakan oleh Rara."


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2