Terpaksa Menikahi Gadis Ingusan

Terpaksa Menikahi Gadis Ingusan
Sahabat lama


__ADS_3

"Ayuna, tunggu."


"Mas Ziko, ngapain kesekolah ku."


"Ini nasi goreng, aku tahu kamu pasti belum sempat untuk sarapan Khan."


"Iya mas, terimakasih ya."


Ziko tersenyum, dan kembali masuk kedalam mobilnya menuju perusahaan, sesekali Ziko tersenyum. dia merasa sangat puas karena sudah berhasil mengerjai Ayuna yang polos.


"Ayuna, biarlah untuk saat ini kamu baru melihat penampakan nya saja. untuk seterusnya aku pastikan kamu akan ketagihan oleh benda pusakaku ini." gumam Ziko tersenyum sendiri dengan pikiran nakalnya.


Senyum Ziko pagi ini sangat cerah, sambil membalas sapaan karyawan nya.


"Pagi mas Ziko."


"Selamat pagi tuan."


"Ya."


Ziko membalas singkat, melangkah masuk Menuju ruang kerjanya. dia sudah tidak sabar untuk sarapan nasi goreng buatan Ayuna yang sengaja dibawanya. baru saja hendak menyuap, ponsel Ziko berdering tertera nama Khanza. bahkan sangat banyak panggilan tidak terjawab dari gadis itu.


"Ya, Hallo Khanza."


"Ziko, kenapa dari semalam aku menghubungimu tapi tidak satupun kamu angkat. bahkan hp mu juga dimatikan. apa semua ini gara-gara bocah sialan itu." Khanza yang sudah terlanjur kesal dan kecewa langsung menodong Ziko dengan berbagai pertanyaan.


"Khansa, jangan salahkan dan bawa-bawa Ayuna dalam hal ini, karena semalam aku lupa mengisi daya hp ku, aku kecapean pulang lembur jadi sampai dirumah langsung tidur."


"Benar seperti itu sayang."


Khansa mulai melunak, karena dia sangat takut kehilangan cinta Ziko, meskipun dia percaya Ziko tidak akan tertarik pada Ayuna. jika dibandingkan dengan dirinya yang cantik dan model papan atas, baginya Ayuna tidak ada apa-apanya. namun meskipun begitu hati terdalamnya tetap waspada.


"Tapi aku merasa kamu mulai berubah Ziko, bahkan kamu tidak semesra dulu lagi terhadapku."


"Khanza tolong ngertiin posisiku, perusahaan ku sebentar lagi akan meluncurkan produk baru. jadi waktu ku benar-benar tersita banyak untuk pekerjaan."


"Aku lega sekarang Ziko, aku percaya kamu pasti akan menjaga hatimu untukku. maaf ya aku tidak bisa balik ketanah air secepatnya, karena masih ada kontrak pekerjaan yang belum selesai."

__ADS_1


"Nggak papa, kamu baik-baik ya disana."


Setelah menutup panggilan nya, sesuatu yang aneh baru disadari oleh Ziko ketika dia merasakan lega saat mendengar Khanza yang menunda kepulangannya. biasanya Ziko akan melarang sang kekasih meninggalkan nya lama-lama, namun sekarang beda. bahkan perasaan yang dulunya begitu besar untuk Khanza berangsur-angsur mulai memudar.


Ziko melanjutkan sarapan nya, meskipun moodnya sudah tidak seperti semula, namun dia tetap menghabiskan nasi goreng buatan Ayuna tersebut.


Hari ini Ziko sangat sibuk, hingga tanpa terasa pekerjaan nya menyita banyak waktu.


Tok....tokk...


"Masuk."


Sektretaris Tia masuk, sambil membawa dua buah berkas yang harus ditangani oleh Ziko.


"Maaf pak, tamu kita dari perusahaan Malaysia sudah datang."


"Apa kamu sudah mengatur tempat pertemuan nya."


"Sudah pak, direstoran tempat biasa, sekalian bapak bisa makan siang di sana."


"Baiklah, saya akan segera kesana."


Dari kejauhan, Ziko melihat seorang wanita yang duduk menunggu dirinya dimeja yang sudah di pesan sekretaris Tia terlebih dahulu.


"Sepertinya seorang perempuan, tumben. biasanya mereka akan mengirim perwakilan laki-laki. apa perusahaan mereka sekarang sudah dipimpin oleh seorang perempuan?" gumam Ziko berjalan semakin mendekat.


"Selamat siang."


Degh... Ziko tercekat, begitu juga dengan wanita tersebut. dia seakan tidak percaya dengan penglihatannya.


"Nora, benarkah kamu ini?" tanya Ziko.


"Ya, Ziko. aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi." jawab Nora tersenyum senang dia mengulurkan sebelah tangannya kearah Ziko, mereka saling berjabat tangan. dua orang sahabat yang sudah lama tidak bertemu.


"Jadi kamu perwakilan dari perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaanku sekarang, bagaimana dengan suamimu, Riyan apa kabarnya?"


"Suamiku sudah setahun ini meningal Ziko, sehingga aku menggantikan nya bekerja, aku punya tanggung jawab untuk seorang anak laki-laki kami Cecilo."

__ADS_1


"Aku turut berdukacita ya, Nora. karena aku sebelumnya tidak mengetahui kabar suamimu, Riyan."


"Tidak masalah Ziko, Aku juga tidak mengabarimu, saat itu aku masih larut dalam kesedihan panjang." balas Nora sambil tertawa getir.


"Kamu sendiri apa kabarnya, apa kamu dan Khanza sudah mendapatkan restu."


"Tidak, bahkan sekarang kedua orang tua ku sudah menikahkan aku dengan perempuan yang umurnya jauh lebih muda dibawahku."


"Ha....ha...kok bisa, dan kamu setuju saja."


"Bagaimana lagi, semula aku menentang keras. namun seiring berjalannya waktu. aku merasa pernikahanku tidak terlalu buruk. bahkan aku mulai merasa nyaman dengan nya."


"Bagaimana dengan Khanza."


"Dia cantik, kamu tahu sendiri kan jika aku menyukai kecantikannya. termasuk semua teman-teman kita yang memujiku yang sangat beruntung mendapatkan seorang model seperti Khanza."


"Tapi menurutku, kamu sebenarnya tidak mencintai Khanza. tapi pada perempuan yang sudah membuat mu merasa nyaman, aku yakin sebentar lagi kamu pasti akan melupakan Khanza. karena cinta yang sesungguhnya adalah apa yang kita rasakan. bukan sekedar apa yang kita lihat. karena kecantikan sewaktu-waktu dapat luntur, namun tidak dengan cinta dan kasih sayang."


"Kamu benar Nora, tapi aku akan meyakinkan dulu hatiku. hingga akhirnya aku akan memutuskan pilihan ku nantinya."


"Kalau boleh tahu, seperti apa sih istri kecil mu itu"


Ziko mengusap layar ponselnya, dia memperlihatkan salah satu foto Ayuna yang berhasil dia ambil. lalu memperlihatkannya pada Nora.


"Namanya Ayuna, dan ini fotonya."


"Wah manis, cantik dan imut. dengan penampilannya yang sederhana dan Natural." puji Nora spontan.


"Tapi menurutku biasa-biasa saja, tapi aku malah menyukai Nya dari sisi lain, dia pintar masak, mandiri dan sangat kuat. mengingat kedua orang tua yang sudah meninggal."


"Kasihan dia, berarti hanya kamu tempat nya bergantung."


"Tidak juga, kedua orang tua ku sangat menyayangi nya, melebihi diriku yang anak kandungnya sendiri, selain itu Ayuna juga memiliki warisan yang lumayan banyak dari almarhum orang tuanya, meskipun tanpa aku, dia tidak akan kekurangan apapun."


"Ziko, aku rasa dia sangat jauh berbeda dengan Khanza yang selalu dipoles dengan bedak tebal, kesalon dan melekat barang-barang mahal. bahkan aku yakin jika Khanza tidak akan bisa mengurus mu dengan baik. jika kalian menikah." ucap Nora spontan.


"Kenapa kamu berfikir seperti itu?"

__ADS_1


"Khansa terlalu mencintai Dunia model dan kecantikannya, mana mungkin dia mau memasak ataupun mengurusmu dengan baik. yang ada dia malah shopping dan menghambur kan uangmu, maaf jika kata-kataku ini banyak menyinggung. tapi aku sangat mengenal kalian berdua. terutama aku ingin yang terbaik mendampingimu, Ziko."


"Terimakasih atas saranmu dan masukan mu Nora, aku akan pikirkan nantinya. sebaiknya kita makan dulu."


__ADS_2