Terpaksa Menikahi Gadis Ingusan

Terpaksa Menikahi Gadis Ingusan
Melepas segel


__ADS_3

"Mas, aku belum terbiasa dengan sentuhan dan elusan tangan mu ini." Ayuna berusaha menepis, tapi bahasa tubuhnya seakan bertolak belakang dengan apa yang diucapkan nya.


Ayuna merasa sesuatu yang aneh, seiring dengan tubuh yang terasa memanas, bahkan dia juga merasakan pusing saat cumbuan Ziko yang terus kebawah.


"Ayuna, meskipun bibir mu berkata tidak. tapi tidak dengan bahasa tubuhmu, yang menyukainya." goda Ziko mengulum senyum.


"Tidak, aku masih gadis kecil dan masih ingin belajar." tolak Ayuna pelan. namun dia tidak bisa mengendalikan bahasa tubuhnya dan ******* yang sedari tadi berusaha untuk ditahan.


"Mendesahlah sayang, aku suka mendengar suara manjamu ini."


Ziko memperdalam ciumannya yang semakin kebawah, sehingga ******* Ayuna sukses keluar dari mulut nya, namun dia dengan cepat menutup dengan punggung telapak tangannya, melihat hal itu Ziko menepisnya dengan lembut. lalu dia mencium lama bibir Ayuna yang kenyal dan terasa manis. sehingga dia ketagihan untuk bermain lebih lama dibibir Ayuna.


Ayuna yang ikut terhanyut permainan Ziko, tidak menyadari jika pakaian yang melekat ditubuhnya sekarang sudah terlepas sebagian, begitu juga dengan Ziko yang tidak merasa malu lagi.


"Mas, ini baru pertama bagiku."


"Aku paham sayang,"


"Jangan diteruskan, ya." mata Ayuna mulai berkaca-kaca, berusaha menahan tubuh Ziko.


Ziko akhirnya menghempaskan tubuhnya kesal, apalagi sikap Ayuna yang terus beralasan ini dan itu, tanpa banyak kata lagi, Ziko tidak ingin membuang waktu lagi, dia langsung melakukan nya, tidak menghiraukan teriakan kesakitan Ayuna yang mencakar dan memukul punggung nya.


"Mas ...tolong hentikan."


Sebenarnya, Ziko juga merasakan sakit di milikinya, karena memaksa masuk sesuatu yang sangat sempit. tapi untuk menahan terlalu lama lagi Ziko ngak sanggup, sebagai pria Dewasa dia sudah cukup bersabar selama ini.


Rasa sakit berangsur-angsur menghilang, Ayuna sudah bisa menikmati permainan Ziko yang pekan namun pasti, hingga kedua nya kelelahan dan tertidur sambil berpelukan.


Sudah lama mereka tertidur, hingga suara burung yang saling bercicit membangun kan tidur Ayuna, diliriknya Ziko masih tertidur sangat pulas, dengkuran halus terdengar dari sudut bibirnya.


Ayuna, merasakan badan begitu remuk dan area sensitif nya begitu perih. dia mencoba bangkit namun tidak bisa. dia merasakan lengket dan menyibak selimut, nampak cairan yang bercampur *** di seprai warna putih.


"Aku telah melakukan kewajiban ku sebagai seorang istri dari mas Ziko, bagaimana pun aku menolaknya hal ini akan terjadi juga." Ayuna tiba-tiba menangis sesenggukan.


"Apa yang harus aku lakukan? setelah kejadian ini perasaanku tambah kuat dan takut berpisah dari mas Ziko. aku gagal membentengi diriku agar tidak jatuh cinta padanya, ya Tuhan. semoga mas Ziko bisa menjadi suami yang baik buat ku nantinya. sehingga tidak ada lagi Khanza dan Khanza yang lainya hadir dalam pernikahan kami kedepannya."


Perlahan Ayuna menyeret tubuhnya, dia tidak ingin membangunkan suaminya yang masih pulas, dia tahu Ziko saat ini pasti kecapean sekali. Ayuna berendam kedalam bactub, membuat pikirannya menjadi tenang dengan bau aroma mawar yang dicampur nya dengan air.


"Sekarang aku tidak gadis lagi, bagaimana pun ini pasti akan terjadi juga. jika aku hamil anaknya, mas Ziko. tentunya aku berhasil membahagiakan mama dan papa mertua yang sudah aku anggap sebagai keluargaku sendiri." Ayuna akirnya tersenyum dengan perkataan nya sendiri.

__ADS_1


Lamunan Ayuna buyar, saat mendengar pintu kamar mandi dibuka, dan langkah kaki yang semakin mendekat. sebuah pelukan hangat dari arah belakang mendekap nya.


"Kok mandi sendiri, kenapa ngak bangunin mas?"


"Mas tidurnya pulas baget, jadi aku mandi duluan." balas Ayuna. sambil mengusap tubuhnya dengan sabun.


"Sini biar mas bantu mandiin." Ziko mengambil spon lalu mengusap kan ketubuh Ayuna Perlahan.


"Ngak usah mas, aku bisa sendiri."


Ziko tidak mendengar penolakan Ayuna, tangan by terus mengusap bahkan ikut melingkari bagian *** Ayuna, yang membuat nya kembali bergairah.


"Sayang, apa kita bisa mengulangi permainan kita semalam."


"Jangan mas."


"Kenapa, apa ini masih sakit." tanya Ziko, bahkan Twitter nya sudah kembali menegang.


"Iya mas, bahkan terasa koyak."


"Apa separah itu, sayang maafkan aku. aku tidak bermaksud menyakiti." Ziko memeluk Ayuna, dia sangat keras bersalah sekali terhadap mu istri nya. dia menyadari jika sempat lepas kendali saat bersamaan dipuncak titik terindah *** mereka.


Ayuna akirnya tersenyum, melihat rasa bersalah dan permintaan maaf suaminya yang terus diucapkan berkali kali.


"Mas aku tidak marah, ini sudah kewajibanku, jadi kamu tidak perlu merasa bersalah seperti ini." Ayuna berbalik menatap mata dan tatapan lembut Ziko.


"Aku mencintaimu, Ayuna."


"Aku juga, mas."


Mereka berdua berpelukan, setelah itu kembali menyudahi mandinya. Ziko Mengendong tubuh Ayuna. bahkan membantu untuk memasang kan pakaian nya.


Sebenarnya, Ziko ingin mengulangi permainan yang sudah membuatnya benar-benar ketagihan, tapi dia mengerti kondisi sang istri. sehingga dia tidak ingin terlalu memaksakan kehendaknya pada Ayuna.


"Mas apa itu?"


"Ini salaf, buka kakimu?" perintah Ziko.


"Malu mas." tolak Ayuna merapatkan kakinya.

__ADS_1


"Untuk apa masih malu, semalam aku sudah melihat semuanya." tersenyum pada Ayuna.


"Ayuna akirnya mengikuti perintah Ziko, suaminya kembali membuka *** dalam nya. lalu memasangkan salaf pada area *** yang lecet karena senjata Ziko.


"Sudah, mas."


Sudah Sayang, karena jika terlalu lama. aku tidak bisa mengendalikan diri. sehingga kembali mengulangi nya." balas Ziko yang membantu menarik keatas ****** ***** Ayuna.


"Sabar ya mas, paling ini tidak lama."


***


Ziko hanya sanggup menahan untuk satu malam saja, pagi ini dia kembali uring-uringan diruangan kerjanya. bahkan sekretaris Tia dan asisten pribadi nya ikut terkena dampak emosi Ziko yang tidak stabil.


Asisten Rey dan Tia saling pandang, kalu mereka angkat bahu bingung.


"Pak Ziko kenapa sih?" bisik Tia.


"Ngak dapat jatah kali." balas Rey.


"Emang sampai segitunya ya jika ngak dapat jatah."


"Iyalah, apalagi baru nyoba. pasti ketagihan terus." mereka berdua tertawa sambil bisik-bisik, membuat emosi Ziko meningkat, dia menggebrak meja hingga Rey dan Tia terlonjak kaget, Mereka berdua seperti kucing tersiram air got melihat pancaran kemarahan Ziko.


"Berani ya, kalian berdua bergunjing dihadapan ku dan menertawakan bos kalian." ucap Ziko meninggikan nada suaranya.


"Maaf bos, kami tidak bermaksud seperti ini." balas mereka berdua ketakutan.


"Bonus kalian bulan depan dipotong Dua puluh lima persen." ucap Ziko sambil berdiri hendak meninggalkan ruangan kerjanya.


"Jangan." Teriakan Tia dan Rey serempak, mereka berdua benar-benar takut, langsung meminta maaf pada Ziko atas kelancagan Mereka.


"Baiklah, aku akan memaafkan kalian berdua. jika sampai dirumah nanti moodku benar-benar bisa kembali membaik, jika tidak terpaksa kalian berdua menerima hukuman dariku."


"Kan benar tebakan ku, bos pasti kurang mendapatkan jatah dari Bu Ayuna." tiba-tiba Rey kembali keceplosan. tapi tidak membuat Ziko tersulut emosi lagi.


"Kalian berdua berdoa saja, semoga sampai dirumah nanti aku mendapatkan jatah, sehingga suasana hatiku membaik. dan kalian juga tidak jadi mendapatkan hukuman, melainkan bonus dariku."


"Baiklah, kami akan langsung berdoa." ucap mereka, sedangkan Ziko menyambar kunci mobilnya, untuk segera pulang kembali.

__ADS_1


__ADS_2