
Ziko pulang agak telat malam ini, karena dia harus memimpin meeting terlebih dahulu, mengingat ada masalah penting yang menyangkut produk baru perusahaan mereka yang akan segera diluncurkan.
"Sudah malam, aku harus segera pulang. kasihan Ayuna, pasti dia merasa kesepian dan takut diapartemenku sendiran." gumam Ziko segera bersiap pulang, langkah panjang Ziko terayun menuju mobilnya.
Sampai di unit apartemennya, Ziko segera masuk. namun bukan langsung kekamar nya dilantai dua. melainkan pergi menuju kamar tidur Ayuna.
Perlahan dia membuka pintu, nampak Ayuna terlihat sangat fokus dalam belajar, sehingga dia tidak menyadari kedatangan Ziko. berjalan masuk mendekatinya.
"Serius banget belajar nya, hingga suami pulang kerja pun, kamu cuekin." Ziko duduk disisi ranjang Ayuna.
"Iya mas, karena besok aku harus try out." balas Ayuna tanpa menoleh pada Ziko.
"Apa kamu mengalami kesulitan dalam belajar?"
"Iya mas, ada beberapa materi yang kurang aku pahami, apa mas bisa membantuku menyelesaikan nya." Ayuna berdiri berjalan mendekati Ziko sambil membawa buku-buku nya.
"Baiklah, aku akan membantumu sebisaku."
Ziko memperhatikan materi pelajaran Ayuna, yang sangat dimengertinya. mengingat Ziko merupakan orang yang sangat cerdas, dengan mudah Ziko mengajarkan lalu menerangkan pada Ayuna.
"Terimakasih ya mas, sekarang aku sudah mengerti. ternyata mas Ziko cerdas ya, bahkan bisa mengajariku." ucapan Ayuna yang polos membuat Ziko tersenyum, tidak pernah terbayangkan jika dia mempunyai istri yang masih anak sekolah, bahkan dia ikut membantunya dalam belajar.
"Kamu sudah makan?"
"Sudah, tadi aku makan duluan. karena mas Ziko belum pulang."
"Ngak papa, kalau lapar langsung makan saja, jangan nungguin mas."
"Apa mas, sudah makan malam juga?"
"Sudah,"
Ziko berbohong, sebenarnya dia belum makan malam. karena sudah terbiasa makan masakan Ayuna, tapi karena melihat Ayuna yang fokus belajar, Ziko berfikir jika dia tidak sempat memasak.
"Yah, Mubazir deh. padahal aku udah capek-capek masak lho buat mas makan malam."
"Jadi kamu udah masak?"
"Sudah, mas."
"Baiklah, mas akan makan." Ziko berdiri, berjalan menuju meja makan, Ayuna mengekor dibelakang nya.
"Kelihatannya enak, kamu tahu dari mana jika ini makanan kesukaan ku." ucap Ziko duduk sambil menunggu Ayuna mengambilkan piring dan mengisinya dengan makanan.
"Dari mama, dia yang mengajariku resep masakan kesukaanmu, mas."
__ADS_1
"Ini, mas."
"Apa kamu ngak ikutan makan sekalian,"
"Ngak, mas. aku masih kenyang."
Ziko makan dengan lahapnya, dia sangat senang karena sekarang Ayuna bisa memasak makanan kesukaannya yang rasanya juga sama persis dengan masakan mama dirumah.
Beberapa kali Ayuna menguap, dan berusaha menahan kantuk nya. tapi semakin ditahan semakin berat matanya untuk dibuka, sehingga dia tertidur dikursi sedangkan kepalanya ditekuk dimeja makan.
Ziko yang sedang asyik makan, menghentikan makannya. dia menguncang pelan tubuh Ayuna.
"Ayuna....Ayuna kamu kenapa."
Ziko sempat panik dan berfikir istri kecilnya itu kenapa-napa, namun saat mendengar dengkuran halus disudut bibir Ayuna, membuat Ziko kembali tersenyum.
"Syukurlah, ternyata dia cuma ketiduran. kasihan kamu Ayuna. pasti kamu kecapean."
Ziko menyudahi makanya, diapun berinisiatif untuk menggendong istri kecilnya masuk ke kamarnya. menyelimuti Ayuna hingga batas dada. setelah itu Ziko menatap wajah Ayuna yang terlihat Imut.
"Cantik dan mandiri, bahkan dia terlihat lebih dewasa dari umurnya."
Saat hendak pergi menuju kamarnya sendiri, Ziko menyempatkan dirinya untuk mencium sekilas kening Ayuna, yang sangat wangi beraroma bedak bayi yang membuat Ziko merasa nyaman.
***
Pagi hari yang sangat cerah.
"Astagfirullah, aku ketiduran pagi ini. mana aku belum nyiapin sarapan untukku dan mas Ziko."
Ayuna langsung berlari menuju kamar mandi, mengingat pagi ini, dia juga harus ikut try out disekolah. sehingga Ayuna lebih mementingkan untuk bersiap-siap dan berangkat sekolah, dia yakin Ziko pasti memaklumi nya kali ini.
Ayuna, nampak cantik dengan seragam abu-abu yang dikenakanya. olesan bedak tipis, lipsgloss dan juga body lotion agar kulitnya tidak kering. tidak ada yang berlebihan dari penampilan Ayuna yang cantik natural.
Saat hendak memakai sepatunya, Ziko tiba-tiba muncul dari arah dapur sudah membawa segelas susu dan roti tawar untuk Ayuna.
"Ayuna, minum susu dan makan roti ini dulu. biar perutmu ngak kosong." ucap Ziko duduk disebelah Ayuna dengan pakaian kantor yang sudah melekat sempurna, sehingga Ziko terlihat sangat rapi.
"Maaf mas, Ayuna ketiduran. jadi nggak sempat buat sarapan untuk kita."
"Ngak papa Ayuna, aku tahu kamu pasti ketiduran. makanya aku langsung nyiapin susu dan roti ini, agar kamu bisa sarapan sebelum berangkat sekolah."
"Makasih ya mas."
Ayuna minum susu, namun melihat Ziko terus menatapnya, membuat Ayuna kesekek dan terbatuk-batuk.
__ADS_1
"Uhuuck.... uhuchk..."
"Hati-hati Ayuna."
Ziko segera mengambil gelas susu ditangannya, lalu menepuk-nepuk pelan punggung Ayuna.
"Gimana sekarang?"
"Udah ngak papa, mas."
"Apa uang jajan sekolahmu masih ada?"
"Masih, mas."
Meskipun begitu, Ziko tetap mengeluarkan dompetnya. mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu, laku menyerahkan ketangan Ayuna.
"Ini buat pegangan mu."
Ayuna menerimanya, bagaimanapun juga Ziko adalah suaminya yang bertanggung jawab terhadap dirinya.
"Ternyata mas Ziko tidak seburuk yang aku pikirkan dulu, meskipun di awal-awal pernikahan kami dia bersikap cuek dan sangat angkuh. apalagi jika sedang bersama kekasihnya Khanza. tapi sekarang aku mulai menyukai sikap manisnya, mudah-mudahan mas Ziko akan seperti ini seterusnya."
"Ayuna, kita berangkat bareng ya."
"Apa mas ngak telat masuk kantornya. Karena kita beda arah."
"Ngak masalah, aku pimpinan disana. takutnya kamu yang malah telat datang kesekolah."
"Oiya..., ayo kita langsung berangkat mas."
Tanpa sadar, Ayuna langsung menarik sebelah tangan Ziko menuju mobilnya. sepanjang perjalanan Ziko tersenyum sesekali melirik Ayuna. yang tengah fokus menghafal pelajaran.
"Ayuna, kita sudah sampai. nanti pulangnya mas jemput."
"Ya mas, dada...." Ayuna melambaikan tangannya melepas mobil Ziko yang mulai meninggalkan gerbang utama sekolah.
"Duuuuh manisnya, aku jadi iri pengen ngerasain jadi kamu juga, Ayuna." Rara tiba-tiba muncul disamping Ayuna, dia sengaja sedari tadi menunggu sahabatnya.
"Benaran, kamu juga pengen nikah muda seperti aku. ntar yang ada kamu malah nyesal."
"Tidak akan nyesal Ayuna, apalagi jika laki-laki tampan seperti mas Ziko. tapi kamu jangan kawathir. aku nggak bakalan nikung sahabat sendiri."
Dari kejauhan, Reno terus memperhatikan Ayuna yang turun dari mobil, berjalan sambil bercanda dengan Rara.
"Aku jadi penasaran, siapa laki-laki yang terus bersama Ayuna. tidak mungkin dia suami Ayuna, mengingat Ayuna yang masih sekolah, lantas apa hubungan mereka. apa dia kekasihnya. tidak...aku tidak boleh kalah oleh laki-laki itu, aku harus mendapatkan cinta Ayuna." Reno mulai mencari perhatian Ayuna. tersenyum ramah menyapa saat Ayuna melewatinya, namun malah Rara yang terlihat antusias membalas senyuman Reno.
__ADS_1