
"Aku Dimana?"
"Kamu sedang berada dirumah sakit? jangan banyak bergerak kakimu masih cidera." terang dokter.
Ayuna memijid pelipisnya, mencoba mengingat kejadian yang menimpa mereka barusan.
"Dimana sahabatku Rara?"
"Dia ada dikamar sebelah, kondisinya tidak jauh beda dengan dirimu. tapi jangan cemas. hari ini kalian berdua juga sudah diperbolehkan untuk pulang, mengingat kalian berdua hanya mengalami cindera ringan."
Diluar ruangan, Ziko berjalan mondar-mandir. dia sangat cemas dengan kondisi Ayuna. namun dia juga tidak berani untuk memberitahu kepada kedua orang tuanya. Ziko sudah yakin jika mama dan papanya akan kompak untuk menyalahkan dirinya atas kejadian yang sudah menimpa Ayuna. sehingga Ziko memilih untuk diam dan merahasiakan kejadian ini.
"Mudah-mudahan gadis kecil itu tidak kenapa-napa, jika tidak. riwayatku bisa habis oleh kedua orang tua ku sendiri, yang lebih menyayangi menantu mereka ketimbang anak kandungnya." gumam Ziko sambil melamun, deringan panggilan masuk dari ponsel Ziko, membuyarkan lamunan nya.
"Khanza, ada apa sih dia menghubungi ku lagi, padahal aku sudah bilang untuk tidak menghubungi aku saat ini."
Ziko tidak mengangkat panggilan masuk dari sang kekasih, dia membiarkan begitu saja, hingga panggilan itu berakhir.
Khanza tidak menyerah, dia kembali menghubungi ponsel Ziko, hal ini berulang-ulang kali, hingga Ziko kesal. mau tidak mau Ziko akhirnya menganggakat panggilan masuk tersebut.
"Hallo ada apa sih Khanza, tadi aku sudah mengatakan jika saat ini aku masih berada dirumah sakit."
"Ziko, gadis ingusan itu cuma mengalami kecelakaan ringan, jadi kamu tidak perlu sebegitu perhatian dan mengkhawatirkannya."
"Ingat Khanza, sekarang itu Ayuna istri ku, jadi apapun yang menimpa dan yang terjadi padanya. sudah menjadi tanggung jawabku untuk mengurus dan merawat nya."
"Ziko kamu sudah mulai berubah sekarang, apa kamu sudah jatuh cinta pada bocah yang tidak mempunyai sopan santun itu."
"Khanza, please ngertiin posisiku saat ini. jika kedua orang tuaku sampai mengetahui Ayuna kecelakaan. mereka bisa marah besar dan menyalahkan aku atas semua yang menimpa gadis itu, bahkan mungkin mereka akan mengeluarkan aku dari kartu keluarga lalu menggantikannya dengan nama Ayuna berbagai anak mereka."
"Aku heran, pelet apa sih yang sudah diberikan oleh perempuan itu, sehingga kedua orang tua mu. begitu menyukai nya hingga mereka rela dan memilih gadis itu, dari pada kamu yang merupakan anak kandungnya sendiri." ucap Khanza marah.
"Sudahlah, nanti jika urusan ini selesai aku akan menghubungimu kembali." ucap Ziko menutup Panggilan nya.
__ADS_1
"Kalau aku mengusut kecelakaan Ayuna, kedua orang tuaku pasti bakal mengetahui masalah ini. Aaagggh.... sebaiknya aku tidak mempermasalahkannya, mengingat Ayuna dan sahabat nya itu juga tidak kenapa-napa, cuma luka-luka kecil. toh mungkin penabrak nya juga tidak sengaja, dan sedang terburu-buru." pikir Ziko, dia tidak pernah menduga jika ini perbuatan kekasihnya Khanza yang sakit hati pada Ayuna dan Rara.
Kedua orang tua Rara nampak kwuatir, mereka terlihat tergesa-gesa berjalan mendekati Ziko. setelah Ziko menerangkan apa yang terjadi dia mengantarkan mereka menuju ruang perawatan Rara yang sudah diperbolehkan untuk kembali pulang.
Ziko juga memasuki ruangan Ayuna, nampak istri kecilnya itu balas balik menatap kearahnya, seketika pandangan mata mereka bertemu. namun secepatnya Ziko mengalihkan tatapannya kearah lain. dengan perasaan gugup.
"Mas Ziko, terimakasih ya. karena sudah menolong aku dan juga Rara."
"Ya, lain kali kamu itu harus hati-hati. masih untung aku juga kebetulan lewat dan segera menolong kalian."
"Iya, mas."
"Ayuna, tolong kamu rahasiakan kejadian ini dihadapan mama dan papa, karena mereka bisa marah besar dan mengatakan jika aku tidak mampu menjagamu dengan baik."
"Ya mas, aku janji tidak akan menceritakan semua ini pada mama dan papamu. untuk kedepanya aku juga akan lebih hati-hati lagi."
"Baguslah, sehingga kamu tidak terlalu merepotkan aku lagi." ucap Ziko sok angkuh berusaha untuk menutupi perasaannya yang mulai tidak menentu.
"Apa kamu masih kuat, jika tidak kita pakai kursi roda."
"Aku kuat kok mas, lagian jika dimanjakan nantinya bakal lama sembuhnya."
" Iya juga, karena aku masih sangat membutuhkan tenagamu untuk memasak dan bersih-bersih apartemen."
Kata-kata Ziko memuat Ayuna merasa perih dihati nya, walaupun tidak sesuai dengan tindakan yang ditunjukkan oleh Ziko sendiri. bahkan saat Ayuna hendak masuk kedalam mobil, refleks Ziko menjulurkan tangannya dan menggendong Ayuna, lalu menundukkan nya dengan baik dan sangat hati-hati.
"Mas, bagaimana dengan motorku?"
"Motormu sudah aku kirim kebengkel, mungkin nanti sore juga sudah bisa diambil. kamu tidak perlu kawathir dan memikirkan hal yang tidak penting."
"Apaan sih mas Ziko, jelas aku memikirkan motor kesayangan ku. karena itu merupakan hadiah terakhir dari papa." gumam Ayuna dalam hatinya, sambil fokus menatap keluar jendela kaca mobil. mungkin dengan bersikap seperti ini, Ayuna merasa jauh lebih baik.
Dirumah Khanza mulai cemas, berharap sekali tidak ada yang mengusut kecelakaan yang menimpa Ayuna, terutama Ziko. dia takut Ziko bakal marah besar jika seandainya mengetahui jika dalang dibalik kecelakaan ini adalah dirinya sendiri.
__ADS_1
"Mudah-mudahan aku aman, mengingat Ziko pasti berusaha keras menutup kejadian ini agar tidak diketahui oleh kedua orang tuanya." gumam Khanza.
Diluar dugaan, kedua orang tua Rara tidak terima. dia memerintahkan asisten pribadi nya untuk mengecek cctv ditempat kejadian yang menimpa putri kesayangan mereka. tidak butuh waktu lama, mereka sudah mendapatkan bukti-bukti, bahkan papa Rara sempat syok begitu mengetahui jika kecelakaan ini ternyata disengaja.
"Astagfirullah, orang dalam mobil ini benar-benar keterlaluan dan mencari gara-gara denganku, dia dengan sengaja ingin mencelakai putriku dan sahabat nya. apa sebenarnya motif pelaku, mengingat Rara selama ini juga tidak memiliki musuh."
"Cepat kamu selidiki pemilik mobil tersebut, dan cari tahu apa alasannya mencelakai putriku."
"Baik tuan."
Orang-orang suruhan papa Rara sangat handal, dengan gerakan cepat mereka berhasil mendapatkan informasi tentang pemilik mobil yang bernama Khanza, seorang model cantik dan juga kekasih dari seorang pengusaha besar yang bernama Ziko.
"Bagaimana pa, apa papa sudah mengetahui penyebab kecelakaan kami?" Tanya Rara antusias, karena dia tidak akan merasa aman dan nyaman sebelum pelaku kecelakaan yang sengaja menimpa dirinya dan Ayuna ditemukan dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.
"Sudah, tapi dia berhasil kabur. sehingga statusnya menjadi buronan polisi."
" Alhamdulillah, tapi siapa orang nya pa?"
"Namanya Khanza, kekasih dari pengusaha besar yang bernama Ziko. papa sendiri tidak tahu siapa itu Ziko." balas papa Rara, yang tidak sadar jika laki-laki yang ditemui nya dirumah sakit itu adalah Ziko yang mereka maksud.
"Pa, sebenarnya Ziko itu adalah suaminya Ayuna, laki-laki yang dijodohkan oleh papanya sebelum meninggal Dunia."
"Berarti, dia laki-laki yang papa temui dirumah sakit?"
"Iya pa."
"Kasihan Ayuna, mendapatkan laki-laki seperti itu, bahkan setelah menikah dia masih punya kekasih diluaran."
"Makanya pa, mungkin ini salah satu alasan perempuan itu ingin mencelakakan kami berdua."
"Papa tidak akan tinggal diam, bagaimana pun Ayuna sudah papa anggap sebagai anak kandung papa sendiri."
"Ya pa, terimakasih. Rara senang jika papa juga menyayangi Ayuna."
__ADS_1