Terpaksa Menikahi Gadis Ingusan

Terpaksa Menikahi Gadis Ingusan
Kesengajaan, yang tidak disengaja


__ADS_3

Ziko berendam dalam bactub cukup lama, hingga panas didada dan kepala mulai mereda.


"Jangan harap Aldo, setelah ini kamu bakal mendekati istri ku juga. cukup sudah kamu merampas wanita murahan seperti Khanza. karena kalian berdua sama-sama pasangan yang cocok dan juga munafik dibalik sikap yang kalian tunjukkan selama ini."


Setelah merasa lega, Ziko menyudahi mandinya. dengan hanya menggunakan piyama tidur. dia turun kebawah untuk makan malam bersama Ayuna.


Dimeja makan, Ayuna terlihat sibuk menata menu makan malam mereka dimeja makan. Ziko tersenyum mendekati istri kecilnya. moodnya seketika membaik setiap melihat Ayuna.


"Wangi banget, ternyata kamu makin pintar ya masak sekarang." puji Ziko.


"Ah mas Ziko bisa saja." balas Ayuna ikut duduk disebelah Ziko. lalu mengambilkan makanan kepiring dan meletakkannya dimeja dihadapan Ziko.


"Apa kamu sudah selesai ujian?"


"Belum mas, masih ada beberapa hari lagi." ucap Ayuna was-was, mengingat Ziko yang akan menunaikan tugasnya selaku seorang suami sesungguhnya. membayangkan hal itu membuat Ayuna tiba-tiba menjadi gugup, sehingga refleks membuat sendok yang dipegangnya jatuh kelantai.


"Kamu kenapa Ayuna, dan terlihat gugup seperti ini?"


"Ngak, ngak papa kok mas." berusaha bersikap biasa-biasa saja, padahal kakinya dibawah meja sudah gemetaran.


"Sudah tidak sabar rasanya?" goda Ziko sambil mengedipkan sebelah matanya, dia sengaja menggoda Ayuna.


"Kenapa, mas."


"Menunggumu selesai ujian, sehingga malam ini aku ingin memutuskan untuk kita mulai tidur bareng. dikamar yang sama, selimut dan bantal yang sama juga."


"Apa mas, uhuck....uhuck..." Ayuna langsung keselek dan terbatuk-batuk karena ucapan Ziko.


"Hati-hati Ayuna," mengusap lembut punggung Ayuna dan membantunya minum, hingga Ayuna kembali tenang.

__ADS_1


"Mas, apa nantinya tidak gerah dan sesak. jika kita tidur satu selimut dan bantal yang sama, lagian sekarang musim kemarau dan cuaca juga panas, mas."


"Tidak, dikamarmu justru dingin dan adem ayem. karena AC disana masih berfungsi dengan benar, sama seperti yang ada dalam kamar tidur mu."


Ayuna menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mengingat dia tidak memiliki alasan lagi untuk mengelak.


"Jika kita tidur sekamar, mas Ziko janji ya ngak bakal ngapa-ngapain aku?"


"Jangan banyak alasan, aku adalah suamimu. aku akan menunggumu sampai selesai ujian. tapi jika aku khilaf melakukan nya, kita tidak akan berdosa. malah kamu akan mendapatkan pahala yang besar, karena sudah berhasil membahagiakan suamimu lahir dan batin." terang Ziko.


"Ayuna, aku tidak akan melakukan Nya sampai kamu selesai ujian dan sudah mulai libur sekolah, jika tidak kamu pasti akan malu dan ditertawakan oleh teman-temanmu nantinya, jika kamu berjalan tidak normal lagi karena senjataku yang jumbo ini dan bekas ciuman kissmark dari ku yang banyak terlihat oleh teman-temanmu." gumam Ziko dalam hatinya sambil senyum-senyum menatap kearah Ayuna.


Selesai makan, Ziko membantu Ayuna merapikan kembali peralatan makan mereka. lalu menarik tangan Ayuna menuju kamarnya sendiri.


"Mas, mau kemana?"


"Bobo bareng lah, istri ku."


"Oke, jika seperti itu. sampai kamu selesai ujian biar aku yang tidur dikamarmu. nanti setelah semuanya selesai. kamu harus memindahkan semua barang-barangmu kedalam kamar kita dilantai dua." ucap Ziko pergi ke kamarnya untuk mengambil ponselnya.


Ayuna langsung menuju kamarnya, dia tidak kehabisan akal. segera dia mengunci pintu kamar nya dari dalam, sebenarnya dia tidak melanjutkan belajar. karena tadi siang adalah hari terakhir nya ujian. dia datang kesekolah hanya untuk classmeeting.


Selesai gosok gigi dan mengganti pakaian dengan piyama tidur, Ayuna segera naik keatas ranjang, dengan perasaan lega. dia yakin malam ini Ziko tidak akan berhasil masuk kedalam kamarnya, selesai berdoa Ayuna langsung mulai tidur dengan nyaman. dan lupa jika Ziko mempunyai banyak kunci cadangan.


***


Setelah mengambil ponsel, Ziko memeriksa laporan pekerjaan yang baru saja dikirim kan oleh sekretaris Tia yang sengaja dilemburkan nya. setelah selesai, Ziko mematikan ponselnya dan kembali turun menuju kamar Ayuna untuk tidur bersama, mulai dari sekarang dan selamanya, tidak peduli dengan berbagai alasan yang dikemukakan oleh Ayuna untuk membujuknya.


Ceklek.... Ceklek....Ziko memegangi gagang pintu masuk kamar Ayuna.

__ADS_1


"Terkunci rapat dari dalam, tumben sekali dia seperti ini." gumam Ziko.


"Tok..tok... Ayuna, ayuna tolong buka pintunya." teriak Ziko diluar kamar.


"Aku harus berpura-pura tidur, dan tidak mendengar teriakkan mas Ziko." Ayuna tersenyum karena merasa sudah berhasil mengelabui Ziko malam ini.


Ziko tidak kehabisan akal, dia mengambil kunci cadangan kamar Ayuna, yang tersimpan di laci khusus.


Ceklek.. terdengar pintu kamarnya dibuka dari luar, Ayuna yang belum tidur dibalik selimut, langsung panas dingin. sambil berdoa.


"Ya Tuhan, tolong Ayuna. mama...papa.... bagaimana ini, ternyata mas Ziko berhasil masuk kedalam kamar ku." gumamnya gemetar, saat mendengar langkah kaki Ziko yang semakin mendekati tempat tidurnya.


"Tarik nafas dalam-dalam, dan lepaskan dengan perlahan Ayuna. tetap tenang.... karena tidak akan terjadi apa-apa." Ayuna berusaha menguatkan hatinya, menari nafas dalam lalu mengeluarkan nya, namun dia salah strategi, saat mengeluarkan nafasnya, bukan dari mulut dan hidung melainkan dari bawah, sehingga terdengar bunyi yang sangat merdu, hingga refleks membuat langkah Ziko terhenti, dia terperanjat kaget mundur beberapa langkah kebelakang.


Sedangkan Ayuna, langsung menyibak selimut nya. merasa lucu dan tertawa lepas, karena usahanya yang gagal. bahkan dia lupa akan rasa groginya sendiri.


"Kenapa pintu nya dikunci?"


"Maaf mas, Ayuna lupa jika malam ini mas Ziko ingin tidur dikamar ini." mencoba mencari alasan.


Ziko langsung berbaring disebelah Ayuna, seketika Ayuna bangkit menuju kamar mandi. berpura-pura kebelet. cukup lama dia bersemi didalam.


"Pasti mas Ziko sudah tidur pulas?"


Ayuna keluar sambil berjalan pelan-pelan, mencoba untuk membuka kunci pintu kamar, agar sewaktu waktu bisa kabur. namun sayang. semua kunci sudah disimpan Ziko dibalik bantalnya.


"Pupus sudah harapan ku," Ayuna yang terhenyak pasrah, berbaring disebelah Ziko dengan perlahan, belum sempat Ayuna memejamkan mata, Ziko sudah beralih memeluknya, menyingkirkan guling yang semula dia keloni.


"Kamu wangi banget ya, pakai parfum dulu ya sebelum tidur dengan suamimu ini?"

__ADS_1


"Tidak... tidak mas." balas Ayuna gugup, ketika tangan Ziko sempat meraba bagian pribadinya, meskipun Ziko berdalih jika itu tidak sengaja. namun tangan itu seolah-olah tidak mau diam.


"Aku yakin mas Ziko pasti sengaja, mana ada orang yang tidak sengaja. bisa berkali-kali seperti ini. " gumam Ayuna kesal melihat sikap suaminya yang terlihat tanpa dosa, bahkan Ziko sudah membuat pikiran polosnya ikut-ikutan berkelana.


__ADS_2