Terpaksa Menikahi Gadis Ingusan

Terpaksa Menikahi Gadis Ingusan
Pindah diam-diam


__ADS_3

"Ra, seperti aku harus belanja pakaian dalam. kamu temani aku ya ke mall."


"Oke, tapi jangan lupa ditraktir ya."


"Baiklah, kali ini kamu bebas pesan apapun yang kamu inginkan."


"Terimakasih ya, kamu memang sahabat terbaikku."


Mereka tertawa bahagia memasuki pusat perbelanjaan, Ayuna ingin mengganti semua pakaian dalamnya. selain bentuk tubuhnya yang bertambah montok, membuat semua pakaian dalamnya terasa sempit dan hal ini membuat nya merasa tidak nyaman saat mengenakannya.


"Ayuna, kamu ngeborong ya?"


Rara menatap heran, karena Ayuna membelinya lumayan banyak.


"Ya, karena aku mengganti semua pakaian dalamku."


"Apa kamu dan Ziko udah ehem....ehem?"


"Maksudnya?"


"Ya sapa tahu aja, perubahan bentuk tubuhmu yang semakin semok dan montok ini, karena sering digituin mas Ziko yang tampan, ah ngak kebayang gimana rasanya ya?" Rara kembali otak ngeres nya.


"Dasar kamu ya."


Ayuna langsung membayar belanjaan nya, setelah itu mereka menuju restoran. karena dia sudah menjanjikan akan mentraktir Rara sepuasnya makan hari ini.


Ayuna dan Rara langsung memesan menu favorit mereka, sambil sesekali tertawa lepas. tanpa sengaja Ayuna seperti melihat Ziko dan seorang gadis yang sangat cantik tengah makan bareng. posisi mereka tidak jauh dari posisi Ayuna dan Rara.


"Ternyata mas Ziko tidak pernah berubah, siapa gadis cantik yang bersamanya itu, apa pacar barunya. karena aku merasa dia, bukanlah Khanza." Ayuna berusaha memperjelas penglihatannya, namun karena posisi mereka dari arah samping. dia tidak bisa melihat dengan jelas, perasaan Ayuna terus menerka-nerka hubungan mereka berdua.


"Ayuna, kenapa wajahmu berubah melow?"


"Ngak kok, yuk kita lanjutkan makan. habis ini kita senang-senang bagaimana?"


"Oke, emang itu yang aku mau. kita harus menikmati masa remaja kita yang indah ini. yang tentunya tidak akan terulang kembali."


"Rara benar, aku tidak boleh larut dengan perasaan ini. aku harus mencari kebahagiaanku sendiri." gumam Ayuna.


Selesai makan, mereka puas-puasin kembali belanja. masuk ke wahana permainan yang diakhiri dengan nonton bioskop berdua.


"Aku puas hari ini jalan-jalan bareng kamu, Ra."


"Sama, lain kali kita seperti ini lagi ya."


"Tentu, bestie."

__ADS_1


Setelah turun dari mobil Rara, Ayuna melambaikan tangannya kearah sahabat baiknya itu.


"Dada Rara... hati-hati ya."


***


Diapartemen Ziko mulai berjalan mondar sambil sesekali melirik jam dipergelangan tangannya.


"Kemana sih Ayuna, kenapa jam segini belum juga pulang." Ziko mulai cemas, ketika jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. namun Ziko tetap menunggu Ayuna di sofa ruang tengah. dengan lampu yang sengaja dimatikan nya.


Diluar Ayuna mulai merasa was-was, dia yakin Ziko pasti marah besar. dia berdiri mematung didepan pintu unit apartemen nya.


Dia mengintip celah, nampak gelap dari dalam. Ayuna tiba-tiba tersenyum.


"Syukurlah, sepertinya mas Ziko sudah tidur."


Dia menekan password pintu masuk apartemen, masuk layaknya maling sambil berjalan berinjit pelan.


"Aaagggh...."


Ayuna berteriak kaget, saat lampu tiba-tiba menyala sempurna, dia seperti kucing tersiram Air got saat melihat Ziko yang tengah duduk menghilangkan tangannya kedada, menatap marah kearah Ayuna.


Ziko berdiri, berjalan mendekati Ayuna yang mundur secara perlahan.


"Aku jalan sama Rara, mas. belanja kebutuhanku."


"Jalan sama Rara, kenapa sampai malam seperti ini." suara Ziko Mulai meninggi, Ayuna yang takut langsung berlari menuju kamarnya. tapi dia kalah cepat dari Ziko. saat tangan mungil nya ingin menutup pintu, Ziko berhasil menahannya dan ikut masuk kekamar Ayuna. Ziko langsung mengunci pintu tersebut.


"Mau apa kamu mas?"


Ayuna mulai cemas, dia takut Ziko akan berani berbuat macam-macam terhadap nya.


"Berhenti kamu mas, jika tidak aku akan laporkan pada mama dan papamu."


Ziko tidak bergeming sedikitpun dengan ancaman Ayuna, dia tetap maju mendekati gadis yang mulai ketakutan ini.


"Jelaskan dulu, kamu habis dari mana saja, apa kamu pacaran dengan pemuda ingusan yang bernama Reno itu."


"Tidak mas, aku sama Rara. jika tidak percaya kamu tanya Rara langsung."


Ziko terus maju, hingga kaki Ayuna terbentok sisi ranjang dan jatuh terlentang di kasurnya. Ziko yang masih terbakar kemarahan. menindih tubuh Ayuna.


"Mas kamu mau apa?"


"Aku suamimu, Ayuna. apa kamu sudah lupa hal ini."

__ADS_1


"Aku tahu mas, dan belum melupakan nya."


"Sekarang tatap mataku, aku ingin melihat kejujuranmu."


Ayuna memberanikan membalas tatapan mata Ziko, seketika pandangan mereka bertemu. Ziko tersenyum ketika melihat kejujuran Ayuna. meskipun begitu dia seakan tidak ingin bangkit dari tubuh Ayuna.


Rasanya sangat nikmat, buah dada Ayuna semakin empuk dan kenyal. pikiran Ziko mulai berkabut dengan gairah yang mulai minta untuk segera disalurkan. bahkan dia bisa mendengar dengan jelas detak jantung Ayuna.


"Cepat minggir mas, kamu berat."


Ziko tidak peduli dua ingin mencium bibir Ayuna, refleks gadis itu mengelak. mendorong kasar tubuh Ziko. lalu berlari menuju kamar mandi.


Ayuna menutup rapat pintu kamar mandi dari dalam. rasa gerah sehabis jalan-jalan membuat nya memutuskan untuk mandi dan berendam dalam bactub.


Cukup lama Ayuna mandi, dia ingin Ziko capek menunggu nya. agar pria itu segera keluar dari kamarnya.


"Mudah-mudahan mas Ziko udah pergi." Ayuna membilas tubuh nya. mengeringkan dengan handuk. perlahan Ayuna membuka pintu kamar mandi, mengintip keluar. berharap sudah tidak ada lagi Ziko.


"Syukurlah dia sudah pergi."


Ayuna langsung keluar, namun hal pertama yang dilakukannya mengunci pintu masuk kedalam kamarnya. dia masih takut jika Ziko tiba-tiba kembali masuk.


Ayuna mengunakan piyama tidur tanpa dalaman, hal ini sudah biasa dia lakukan. agar merasa tidur lebih nyaman. rasa capek membuat nya langsung tertidur begitu saja.


***


Dikamarnya, Ziko uring-uringan tidak bisa memejamkan matanya barang sepicingpun. pikirannya masih terbayang sikap lucu Ayuna. buah dada yang terasa padat dan kenyal dan bibir yang manis. membuat Ziko terus berkhayal.


"Sudah setengah dua dinihari, namun aku masih uring-uringan. tidak bisa dibiarkan. Ayuna harus bertanggungjawab karena sudah membuat ku mabuk kepayang seperti orang bodoh."


Ziko turun Menuju kamar Ayuna, namun saat menarik handel pintu. tidak bisa dibuka.


"Ternyata dia cukup cerdik, tapi aku tidak akan kehabisan akal."


Ziko membuka laci kecil disamping sofa. tempat dia menyimpan kunci cadangan kamar Ayuna.


Ceklek... membuka pintu lalu menutup kembali pelan-pelan, agar Ayuna tidak terbangun. perlahan Ziko ikut berbaring disebelah Ayuna. menarik guling yang dipeluk gadis itu, lalu menggantikan dengan dirinya sendiri.


"Ternyata, posisi seperti inilah yang membuatku benar-benar nyaman dan tenang."


Setelah berhasil memeluk tubuh Ayuna, Ziko mulai merasakan ngantuk. dia langsung tertidur pulas hingga pagi hari yang cerah membangunkan Ayuna, saat membuka matanya, gadis itu dikejutkan dengan keberadaan Ziko disisinya.


"Aaaaaaaggh....mas Ziko, kenapa bisa masuk kedalam kamarku?" teriak Ayuna kaget.


"Apasih ribut-ribut." Ziko mengucek matanya yang masih berat dengan wajah tampa berdosa.

__ADS_1


__ADS_2