
"Mama."
Ayuna langsung menyalami kedua mertuanya yang datang berkunjung secara tiba-tiba kerumahnya.
"Ayuna sayang, mama kengen banget sama kamu." mama langsung memeluk dan mencium kening Ayuna, mereka menyayangi Ayuna layaknya anak kandungnya sendiri.
"Ayuna juga kangen sama mama." balas memeluk sayang sang mertua. diikuti oleh Ziko yang tiba-tiba ingin bermanja-manja juga dengan sang mama.
"Kalau kangen, kenapa kamu dan Ziko jarang banget berkunjung kerumahnya mama. kasihan kami yang sudah tua ini, selalu merindukan kehadiran anak-anaknya." ucap mama pura-pura merajuk.
"Iya, ma. Ayuna minta maaf karena akir-akir ini. aku dan mas Ziko lebih sering menghabiskan waktu berdua saja dirumah." jawab Ayuna polos, namun tidak dengan Ziko yang malu saat mana tersenyum dengan ekspresi aneh melirik kearahnya.
"Tapi jika dipikir-pikir bagus juga, jika kalian sering menghabiskan waktu berdua. agar keinginan mama dan papa segera terkabulkan." jawab mama antusias. mereka ngobrol-ngobrol santai, berjalan menuju ruangan keluarga yang nyaman dan terasa hangat karena kedatangan mama dan papa Ziko.
"Ayuna, apa kamu bahagia dengan pernikahan mu dengan Ziko?" tanya mama ingin memastikan sebelum dia mengutarakan keinginannya pada anak menantunya.
Ayuna nampak terdiam, seperti memikirkan sesuatu. Ziko menatap lekad wajah Ayuna. dia juga ingin tahu bagaimana perasaan Ayuna yang sesungguhnya.
"Iya ma, aku sangat bahagia bisa menikah dengan mas Ziko, dan mendapatkan mertua yang begitu menyayangiku, sehingga aku merasa memiliki orang tua ku lagi."
"Tentu nak, kami disini semua menyayangi mu. meski semula kami ragu karena kalian berdua sama-sama dijodohkan. namun sekarang kami merasa sangat lega. dan semuanya berjalan sesuai dengan harapan kami selaku orang tua yang ingin terbaik untuk anak-anak nya." ucap papa.
"Sebenarnya, tujuan mama dan papa datang kesini ingin membicarakan tentang pesta pernikahan kalian berdua." ucap mama sambil menatap Ziko dan Ayuna bergantian.
"Pesta pernikahan?"
"Ya, mengingat tidak banyak yang mengetahui tentang pernikahan kalian, yang dulunya dilakukan secara tertutup dan diam-diam dirubah sakit. mama pikir sekarang adalah waktu yang tepat untuk kita melakukan pesta besar, sebelum Ayuna hamil atau bahkan setelah dia mulai kuliah." ucap mama menerangkan.
"Kalau aku terserah mas Ziko, mama dan papa saja." jawab Ayuna.
"Ziko juga sependapat dengan Ayuna, ma."
"Alhamdulillah, jika kalian sudah sama-sama siap. gimana untuk pestanya kita lakukan bulan depan saja, bertepatan dengan hari lahirnya Ayuna."
"Baiklah ma, kamu sangat setuju dengan ide mama."
***
Malamnya, Ziko yang masih sibuk diruang kerjanya. dia ingin melakukan dauble cek terhadap hasil laporan pekerjaan yang baru saja dikirim Rey.
__ADS_1
Ayuna masuk sambil membawakan segelas kopi hitam, yang merupakan minuman kesukaan Ziko, terlebih lagi jika dia sedang lembur seperti ini.
"Ini mas kopinya."
"Terimakasih sayang." balas Ziko dengan suara lembut, membuat Ayuna klepek-klepek.
"Iya mas, aku balik kekamar dulu ya."
"Ngapain?"
"Aku ngantuk, pengen tidur duluan."
"Ya udah, tapi sini dulu." ucap Ziko menjulur tangannya ingin menarik tubuh Ayuna.
Ayuna mendekat, Ziko langsung mendudukkan Ayuna diatas pangkuannya. ciuman hangat mendarat di pipi dan bibir nya.
"Ini adalah ciuman selamat malam, tidurlah duluan. aku masih banyak pekerjaan yang perlu aku selesaikan."
Iya mas."
Ayuna yang tidak ingin mengganggu kesibukan suaminya, pergi meninggalkan ruangan kerja Ziko. sambil menutup pintu perlahan. letak ruang kerja Ziko hanya bersebelahan dengan kamar tidur mereka.
"Ya Allah, semoga kebahagiaanku bersama mas Ziko abadi selamanya. jangan biarkan permasalahan dan badai menghantam rumah tangga kami. Amiiin." doa Ayuna sebelum memejamkan matanya.
"Sudah pukul setengah dua malam, sebaiknya aku tidur menemani Ayuna. kasihan istriku pasti dia merindukan pelukan hangat dariku." gumam Ziko berjalan menuju kamar tidur mereka.
Ayuna yang tengah mimpi indah, terbangun ketika sepasang tangan meraba bagian dadanya.
"Mas, kamu mau ngapain?"
"Aku sedang ingin, malam ini kita main satu ronde ya." bujuk Ziko.
"Tapi ini sudah malam banget mas, aku sangat ngantuk." tolak Ayuna yang kembali ingin mencoba untuk memejamkan matanya.
"Please sayang, satu ronde saja." bujuk Ziko.
"Tapi mas."
"Kamu tidur dan cukup menikmati saja, biar aku yang bekerja."
__ADS_1
Tangan Ziko mulai melepas piyama tidur Ayuna, yang kembali memejamkan mata. seperti bayi Ziko terus memperdalam ciumannya di area dada, meskipun dengan mata terpejam, namun ******* lembut terdengar dari bibir Ayuna. yang tidak tahan dengan permainan suaminya yang mampu membuatnya puas meskipun dengan kondisi mata yang mengantuk.
Setelah selesai, Ziko menyelimuti tubuh mereka yang polos. dia langsung tidur dengan pulasnya. mengingat sudah sangat capek.
Pagi harinya, Ayuna terbangun namun dia tidak mendapati Ziko yang tidur disampingnya.
"Kemana mas Ziko?"
Ayuna mengedarkan pandangannya keseliking kamar yang kosong.
"Apa mas Ziko sudah berangkat kerja?"
Ayuna bangkit berjalan cepat Menuju kamar mandi, mengingat tubuhnya yang masih sangat polos. dia mandi lebih cepat dari biasanya. setelah selesai Ayuna langsung berpakaian, dengan posisi handuk yang masih melekat di kepalanya. Ayuna turun kebawah, nampak bi jah tengah sibuk menata sarapan dimeja makan.
"Bi, mana mas Ziko?"
"Tuan Ziko sudah berangkat kerja pagi-pagi sekali non, kayanya ada rapat penting. dia cuma pesan agar bibi nyiapin sarapan buat non Ayuna saja." terang bi jah.
"Apa mas Ziko ngak sarapan?"
"Tidak, katanya sarapan dikantor saja."
Ayuna duduk dan menikmati sarapannya sendiri, namun dia tidak bergairah untuk menghabiskan sarapan nya. karena Ayuna sudah terbiasa sarapan bareng dengan suaminya.
"Bibi, tolong bungkus sarapan ini ke kotak makanan ya. aku mau siap-siap dulu."
"Baiklah, memangnya non Ayuna mau pergi kemana?" tanya bi jah.
"Aku ingin mengantarkan sarapan buat mas Ziko kekantor nya." balas Ayuna menuju kamarnya.
Ayuna mengganti pakaian nya, kali ini dia mengunakan dress warna merah maroon, yang membuat penampilan nya dan warna kulitnya yang putih bersih semakin cantik.
Bahkan Ayuna sengaja melepas rambutnya, mengoles tipis bibirnya dengan lipstik warna pink muda, wewangian yang lembut. entah ide dari mana, kali ini Ayuna sangat ingin tampil cantik dihadapan suaminya nanti.
Ayuna berharap Ziko tidak akan pernah berpaling pada perempuan lain, bagi Ayuna cukup menikah satu kali saja dalam hidupnya, dan Ziko adalah pilihan terbaik yang dijodohkan oleh papanya sebelum meninggal Dunia.
Senyum mengembang dibibir Ayuna, ketika menuruni satu persatu anak tangga, bibi jah sempat terpana melihat keceriaan dan kecantikan Ayuna yang beda dari biasanya.
"Ini non bekalnya." bi jah menyerahkan bok makanan ketangan Ayuna.
__ADS_1
"Terimakasih ya bi."
"Hati-hati dijalan ya non." ucap Bi jah melambaikan tangannya ketika mobil yang dikendarai Ayuna sudah meninggal kan gerbang utama rumah besar peninggalan kedua orang tuanya.