
Pagi hari yang cerah, mereka berdua menemui pihak wedding organizer, setelah itu melakukan photo prewedding. Ayuna sangat bahagia melewati semua sesi pemotretan dengan berbagai gaya.
Ayuna terlihat jauh lebih cantik, apa lagi setelah didandani oleh tangan perias artis ternama. Ziko sempat terpana menatap sang istri, bahkan dia tersenyum bangga karena sudah mendapatkan Ayuna.
"Kamu cantik sekali sayang, aku merasa sangat beruntung mendapatkan mu." bisik Ziko disela-sela pemotretan.
"Gombal, mas." mereka berdua tertawa lepas, namun justru saat seperti ini lah mereka dipotret lagi, sehingga hasilnya sangat Natural.
Beberapa kali sesi pemotretan mereka lewati, meskipun harus beberapa kali ganti pakaian dengan tema yang berbeda juga.
"Hasilnya, cukup memuaskan ya mas." ucap Ayuna tersenyum puas melihat hasil foto-foto mereka berdua.
"Tentu, karena mereka semua sudah profesional. aku ingin yang terbaik untuk pernikahan pertama dan terakhir kita ini." jawab Ziko yang bahkan sudah memesan pakaian pengantin dari perancang terkenal.
Setelah selesai, pasangan ini melanjutkan perjalanan menuju pusat perbelanjaan terbesar. Ziko membibing mesra tangan sang istri memasuki sebuah toko perhiasan.
"Mas kita mau ngapain kesini?"
"Kamu lihat ini tempat apa?" tanya Ziko.
"Toko perhiasan."
"Sekarang kamu pilih cicin pernikahan kita. aku ingin mengganti nya dengan yang lebih bagus dan mahal." ucap Ziko mengajak Ayuna untuk segera memilih-milih koleksi-koleksi terbaik toko ini. namun setelah sekian lama Ayuna tidak menemukan satupun yang menarik hatinya.
"Bagaimana sayang?"
"Menurutku semuanya biasa saja mas, tidak ada yang menarik." jawab Ayuna santai.
"Kenapa bisa begitu, setahuku setiap perempuan menyukai perhiasan mahal dan kemewahan."
"Tapi aku tidak mas, lihat penampilankubdan aku sangat nyaman menjadi diriku sendiri." jawab Ayuna.
Ziko akhirnya tersenyum, istri nya memang sederhana dari dulu hingga sekarang, sifat yang sangat jauh berbeda dengan Khanza yang suka kemewahan dan foya-foya.
"Ya udah, biar aku saja yang memilihnya, bagaimana pun kamu harus mengunakan cincin kawin, agar orang-orang tahu jika statusmu sudah menikah."
Ziko meminta manager toko perhiasan, untuk mengeluarkan sepasang cincin berlian dengan harga paling mahal dibandingkan dengan yang lainnya. dan Ziko merasa cukup puas, karena sangat indah dan cantik setelah melekat dijari manis Ayuna.
__ADS_1
"Mas, aku lapar. gimana jika kita makan setelah ini."
"Baiklah."
Setelah mengurus semuanya, Ziko membibing Ayuna menuju restoran dan memesan makanan kesukaan mereka. Ayuna merasa selera makanya akir-akir ini semakin meningkat, bahkan dia tidak malu untuk memesan banyak makanan.
"Sayang, kamu sekarang semakin bersisi dan montok ya." ucap Ziko tersenyum sambil mengelus dagu Ayuna.
"Apa aku terlihat gendut, mas." tanya Ayuna menjadi cemas, membayangkan tubuhnya berubah jelek.
"Tidak, justru kamu terlihat semakin cantik dan berisi. jangan takut, aku mencintaimu apapun perubahan dan bentuk fisik mu. karena cintaku berasal dari hati yang terdalam sayang." jawab Ziko sambil meletakkan tangan Ayuna didada nya.
"Semakin hari kamu bertambah gombal ya mas, jangan-jangan ada maunya." ledek Ayuna.
"Ya, aku ingin bercinta terus-terusan. karena tubuhmu sudah menjadi candu bagiku sekarang, apalagi juga tubuhmu bertambah montok gini rasanya jauh lebih legit."
"Tukan, sudah aku duga."
"Tapi kamu menyukai permainan ku, kan?" goda Ziko yang membuat Ayuna tersenyum malu, mendengar kata-kata suaminya yang fulgar.
Ayuna lebih banyak membeli buah-buah segar, yang kebayangkan dengan rasa asam, bahkan dia pengen mangga muda, namun karena nggak ada yang jual. terpaksa Ziko menyuruh asistennya Rey untuk segera mendapatkan mangga muda keinginan istri nya tersebut dalam waktu cepat.
Bahkan, sekarang Ayuna tidak menyetok pembalut dirumah, membuat rasa penasaran Ziko. namun dia belum menanyakan langsung.
"Kemanapa Ayuna ngak membeli pembalut ya, apa dia lupa, atau memang sudah tidak datang bulan lagi?" berbagai pertanyaan berkecamuk dipikiran Ziko saat ini.
"Mas, kenapa aku mudah capek ya sekarang." ucap Ayuna bergelayut di lengan Ziko.
"Ya udah, kamu duduk di kursi tunggu itu, biar aku yang bayar belanjaan kita di kasir." perintah Ziko.
Ayuna meninggalkan Ziko, berjalan menuju kursi yang terdapat didepan pintu masuk. sambil sesekali memperhatikan Ziko yang tengah menunggu antrian di kasir, mengingat Minggu ini mall sangat ramai pengunjung.
***
Pagi ini, Ayuna merasa sangat pusing. sehingga dia tidak kuat untuk menahannya lagi. dengan tergesa-gesa Ayuna berlari menuju westafel.
"Weeeak.... wuuaakk...."
__ADS_1
Ayuna merasa lemas, dan ingin memuntahkan seluruh isi perutnya. bahkan keringat dingin terus membasahi pipi dan tubuhnya.
Ziko yang baru bagun, berfikir jika istri nya kebelet pipis, sehingga berjalan cepat. namun setelah cukup lama Ayuna belum juga keluar dari kamar mandi. membuat Ziko menjadi resah.
"Sayang kamu kenapa?"
Ziko segera memapah tubuh Ayuna yang lemas.
"Aku pusing banget mas." ucap Ayuna.
Ziko mengangkat tubuh Ayuna yang menyandar Kedinding kamar mandi, lalu membaringkan nya kembali di ranjang.
"Kamu sakit atau masuk angin sayang."
Ziko mengolesi perut Ayuna dengan minyak kayu putih.
"Entahlah mas, aku pusing dan muntah-muntah terus. atau jangan-jangan karena mangga muda yang dibawakan Rey?" tanya Ayuna karena dia makan cukup banyak, meskipun Ziko sudah memperingatkan.
"Bisa jadi,"
Ayuna memejamkan matanya, agar rasa pusing nya bisa berkurang. namun baru beberapa menit dia kembali berlari menuju westafel dan muntah.
Ziko menjadi tidak tenang melihat kondisi istri nya, dia mengelus-elus punggung Ayuna. setelah selesai muntah Ayuna memeluk erat tubuh Ziko, hal ini mampu membuat rasa pusing dan mual nya berkurang.
"Kita periksa ke Dokter ya?"
"Ngak mau." tolak Ayuna yang selama ini i paling takut yang namanya jarum, jika sudah berbicara dokter dan rumah sakit Ayuna menjadi takut sendiri.
"Tapi kamu pucat baget sayang, aku takut terjadi sesuatu pada mu." bujuk Ziko. namun Ayuna menolak dan mengajak Ziko untuk kembali tidur sambil berpelukan.
Setelah melihat Ayuna yang kembali tertidur pulas, Ziko menghubungi mamanya. untuk menjaga Ayuna selama dia bekerja, Ziko tidak boleh saja libur sesuka hatinya lagi, karena perusahaan nya sangat membutuhkan kehadiran Ziko untuk produk baru perusahaan mereka yang tidak lama lagi akan diluncurkan.
Perlahan Ziko bangkit, setelah berganti pakaian dia mencium perlahan Ayuna. agar tidak terbangun karena pergerakan nya.
Ayuna mengeluarkan pelan, kemudian kembali tidur memeluk guling yang sengaja ditaruh Ziko untuk menggantikan dirinya.
Setelah mama datang kerumah mereka, Ziko langsung berangkat Menuju kantor. sebenarnya dia tidak tenang meninggalkan Ayuna dengan kondisi lemah, namun dia juga tidak mempunyai pilihan lain saat ini.
__ADS_1