
LIKE DULU SEBELUM BACA PLIS!
Happy reading ^_^
***
Mata itu bergerak. Mengerjap. Menyesuaikan cahaya yang masuk di retina. Kirana menatap Akbar yang juga tengah menatapnya. Sejenak mata mereka terkunci satu sama lain. Lalu, bibir tipis Kirana berkerucut. Akbar tersenyum sangat tipis. Istrinya merajuk.
Tanpa berkata, Akbar berdiri dari tepi ranjang tempat ia duduk. Kemudian sebuah tangan menariknya hingga ia terjatuh di atas tubuh Kirana. Sejenak merasakan keterkejutan, akhirnya mereka saling menyadarkan. Kirana mendorong Akbar, sedangkan Akbar sendiri berusaha bangkit.
"Aku ... Takut." Akbar diam menatap dalam kedua mata istrinya.
"Listrik gak akan mati lagi." Akbar berdiri lalu melangkah ke dapur. Ia menoleh dan menatap Kirana yang mengikutinya. Akbar mengabaikan. Tetap lanjut melangkah ke dapur dengan Kirana yang mengikuti di belakang.
Menyiapkan makan malam lalu makan bersama dengan hening dan canggung yang tercipta. Sesekali, Kirana melirik Akbar yang lahap memakan masakan yang entah di masak suaminya atau berasal dari luar.
Ia menelan saliva. Tersenyum tipis ketika terlintas bayangan kemungkinan saat bundanya tau mengenai sikapnya. Sebagai seorang istri, ia hanya sibuk sendiri. Jangan di kasur, ia bahkan tak pernah melayani Akbar di dapur.
Makanan selalu tersedia. Mungkin saja karena Akbar hanya di rumah sedangkan ia harus bekerja. Setelah selesai makan, ia langsung membereskan piring dan perkakas lainnya kemudian mencuci semuanya. Akbar membantu di sebelahnya. Kedua suami istri itu mencuci piring bersama tak ada kata yang terucap.
***
Akbar duduk di sofa kamar dengan laptop di pangkuan. Tangannya menari di atas keyboard. Mengetik beberapa kata yang membuat ia menghasilkan uang. Sementara Kirana terus menatap di balik selimutnya. Ia mengigit bibir bawahnya. Kebiasaan saat ia merasakan keraguan.
"Ehem!" Kirana berdehem lalu duduk di atas ranjangnya. Menatap Akbar yang tak bergeming. Ia mendengus kesal.
Kirana turun dari ranjang lalu mendekat pada Akbar. Tanpa berkata, Akbar menyodorkan sebuah black card. Mata Kirana membulat sempurna. Siapa lelaki di hadapannya ini? Mengapa tau, bahwa ia kehabisan uang sedangkan untuk meminta pada ayahnya sangat tak mungkin. Ia enggan.
__ADS_1
"Apa ini milik keluargamu?" tanya Kirana polos sembari mengambil kartu itu. Akbar menatapnya dengan ekpresi datar tapi mata itu sangat tajam.
"Aku bekerja." Kirana menatap Akbar yang sekarang sudah mengalihkan tatapannya pada layar laptop.
"Kerja?" tanya Kirana dengan dahi berkerut dalam.
"Hmm." Kirana memutar bola mata.
"Apa ini boleh aku gunakan sepuasnya?"
"Hmm."
"Gak papa? Serius?"
"Hmm."
"Hmm."
Kirana mendengus kesal. Lalu berjalan ke ranjangnya lagi dengan kaki yang dihentakkan. Akbar meliriknya sekilas. Sekarang ia tau, mengapa Kirana selalu lebih dulu tidur dari pada dirinya. Dan lampu kamar tak pernah ia matikan.
Ia takut kegelapan.
Akbar keluar dari ikon microsoft word. Lalu ke situs untuk *s*earching mengenai nyctophobia.
***
Pancaran sinar sang mentari mengintip melalui celah jendela di kamar kedua suami istri baru ini. Kirana mengerjapkan mata lalu menatap Akbar yang tidur tepat di sebelah ranjang. Sudah beberapa hari, Akbar menghindarinya dengan tak tidur seranjang dan setiap hari terkesan menjaga jarak.
__ADS_1
Kirana sebenarnya tak nyaman. Akbar lelaki dengan watak mengerikan. Menurutnya. Wajah suaminya itu datar. Sahutan dari pertanyaannya yang dingin. Lalu kedua bola mata yang tajam.
Kirana memilih ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Hari ini ia masih ada pemotretan. Beberapa saat kemudian ia keluar kamar mandi dan melihat Akbar yang sudah bangun dengan secangkir kopi di tangannya.
"Tunggu aku."
"Hah?" Akbar tak mengubris Kirana yang menganga tak mengerti maksud ucapannya. Ia lalu masuk ke kamar mandi.
***
Kirana melirik beberapa kali, makhluk menyebalkan yang sedang duduk mengemudi di sebelahnya. Tiba-tiba saja Akbar mengantarnya.
Hening seperti biasa. Meski tak suka. Tapi Kirana memilih tetap diam saja. Ia sudah hafal, jika Akbar di ajak bicara akan menyahut dengan deheman saja. Sangat irit kata.
Beberapa saat kemudian mobil Akbar sampai di tempat pemotretan. Sebelum Kirana beranjak dari tempat duduk, Akbar menariknya. Wajah Akbar mendekat ke wajahnya. Dari jarak sedekat ini, Kirana sedikit melihat sebuah kulit berkerut yang sedikit keluar dari topeng Akbar. Sadar apa yang tengah di perhatikan Kirana. Akbar menjauh lalu menghela napas.
"Mulai sekarang, Aku yang akan mengantar dan menjemput Kamu," ucap Akbar tegas tanpa menatap Kirana. Ia menatap lurus ke depan.
"Dan jauhi Bagas Gerald."
Kirana menautkan alis, bukan hanya karena perintah terakhir Akbar tapi tangan Akbar yang ada di atas roda kemudi mencengkram erat.
"Bagaimanapun Aku suamimu. Dan harus melindungimu," sambungnya dalam hati.
Bersambung
Tap jempolnya yaa ❤
__ADS_1