Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa

Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa
Sebuah Kecupan


__ADS_3

LIKE DULU SEBELUM BACA PLIS!


Happy reading ^_^


***


"Nah ini yang mau Gue omongin sama Lo Kirana!" ucap Dita sembari tersenyum manis.


Lelaki itu tersenyum manis menatap Kirana lalu mengulurkan tangannya yang langsung di sambut Kirana.


"Bagas Gerald," ucapnya.


"Kirana."


Jabatan itu terlepas bersamaan dengan Bagas yang memulai pembicaraan.


"Langsung aja yaa, Agency kami memerlukan seorang model. Dan kami memutuskan untuk menawarimu kesempatan ini."


Mata Kirana membesar. Bagas melanjutkan dengan sesekali tersenyum samar.


"Seperti yang kita semua tau, Kirana sudah di kenal sebagai selebgram cantik berhijab. Jadi ini juga cukup mempengaruhi kemajuan agency kami jika Kirana mau bergabung."


Kirana terdiam. Meskipun diam tapi hatinya berteriak girang. Ia sangat ingin menjadi model. Apalagi model berhijab. Tak perlu repot memikirkan bagaimana mungkin sebagai muslimah ia melepas hijab.


"Pikirkanlah dulu. Ini kartu namaku." Bagas menyodorkan benda kecil berbentuk segi empat panjang lebar itu. Kirana menyautnya sembari tersenyum.


"Baiklah, saya pergi dulu. Masih ada urusan yang harus saya selesaikan," pamit Bagas.


Sepeninggalnya Bagas, Dita menjelaskan secara rinci mengenai hal ini.


"Dia temanku saat kuliah di Korea dulu."

__ADS_1


"Pantesan mukanya imut gitu," ucap Nila sembari tertawa kecil.


"Tapi namanya Bagas Gerald." Kirana berucap sembari menatap kartu nama di tangannya.


"Bagas berdarah campuran. Korea Indo. Papanya Korea, mamanya Indonesia," sahut Dita. Lalu tangannya mengambil gelas kemudian mengesap cappucino kesukaannya.


"Jadi kita satu Agency?" Dita mengangguk sembari tersenyum. Mendengar apa yang di ucapkan Kirana, jelas wanita di sebelahnya ini sudah memutuskan bergabung.


"Yap, gue seneng banget karena akhirnya punya temen gini kalau di tempat kerja."


"Lho emang lo gak ada temen gitu selama ini?" Dita menggelengkan kepala sembari memutar bola mata. Ia memang sudah menapaki karier menjadi model selama dua tahun


"Setiap perempuan disana sangat memuakkan. Bersikap angkuh dan gak mau berteman. Seolah saingan gak bisa di ajak menjalin hubungan pertemanan. Jadi cuma sapa basa-basi gitu. Setelahnya cuma yaa gitulah!" curhat Dita panjang lebar.


"Gue harap, kita nanti jangan gitu yaa?" imbuhnya sembari menatap Kirana. Membuat gadis itu tertawa.


"Kita udah sahabatan lama Dit. Masa iya kayak gitu. Ada-ada aja kamu!" jawab Kirana dengan menggelengkan kepala.


***


Kirana memasuki apartemen dengan senyuman merekah. Wajahnya begitu bahagia dan sorot mata cantik yang berbinar.


Saat memasuki apartemen itu, ia mengernyitkam dahinya. Tak menemukan Akbar di dalam sana. Akbar sering di rumah dan bahkan Kirana tak pernah melihat suaminya itu keluar rumah. Hingga ia akhirnya memilih tak peduli.


Kirana menikmati waktunya dengan membaca novel sembari mengesap White coffe kesukaannya. Tanpa terasa hari sudah sore, Akbar belum kembali. Kirana memang sering lupa waktu jika membaca sesuatu. Seolah ia ikut tenggelam dan terbawa ke suasana yang tercipta di cerita itu.


Kirana memilih berhenti membaca dan mandi. Ia membersihkan diri. Berendam sejenak di bathub yang sudah di taburi aromaterapi lavender. Kesukaannya. Lavender di nilai memiliki aroma yang lembut, feminin, dan juga hangat.


Akbar di mana yaa?


Kirana memejamkan mata. Entah mengapa ia tiba-tiba saja terpikirkan tentang suaminya. Membuatnya berdecak kesal dan memilih mengakhiri mandinya.

__ADS_1


Kirana memasang bathrobe lalu mencari ponselnya. Ia kemudian menyadari bahwa tak mempunyai nomor ponsel suaminya sendiri. Jika meminta pada Puspa atau Randy, itu akan membuatnya malu. Kirana tipe wanita yang angkuh dan sangat tinggi gengsi.


Kirana berjalan ke balkon kamar. Menemukan sebuah kursi yang nyaman. Ia duduk di situ. Menikmati angin sore yang menghembus pelan ke wajahnya. Rambutnya yang masih basah tergerai. Suasana tenang dan nyaman.


Pemandangan selanjutnya sukses membuat Kirana tercengang. Pemandangan matahari yang tenggelam dengan semburat jingga yang memanjakan mata.


Kirana tersenyum menatap pemandangan di hadapannya. Pantas saja Akbar sangat suka dan betah di sini. Ternyata tempat sederhana di balkon kamar mereka ini cukup membuat tempat ini nampak istimewa.


***


Akbar masuk ke apartemen dengan tas berisi laptop yang baru saja ia perbaiki. Kakinya melangkah ke dapur lalu minum air mineral. Matanya mengedarkan pandangan.


Apa dia belum kembali?


Meski Kirana cenderung kasar dan menunjukkan sangat ketidaksukaan. Gadis itu tetap meminta izin padanya sebelum pergi tadi. Entah karena menghargai Akbar atau apapun itu. Akbar tak tau.


Akbar melangkahkan kakinya menuju kamar. Menaruh tasnya lalu ke balkon kamar. Hari sudah petang. Semburat jingga dari matahari terbenam hampir menghilang. Hanya sisa sedikit yang terlihat di depan mata.


Akbar berbalik dan mendapati Kirana duduk di kursi dengan mata terpejam. Kedua telinga gadis itu terpasang heandset. Sesaat ia hanya diam dengan mata yang terus mengamati istrinya. Rambut basah Kirana membuatnya terlihat sangat seksi dan menggoda. Gadis itu. Yang sudah menjadi istrinya hanya memakai bathore yang kemungkinan besar di dalamnya tak memakai apa-apa. Akbar menelan saliva.


Akbar mendekat dan sedikit jongkok untuk mensejajarkan wajahnya dengan Kirana. Ia menepuk pelan pipi gadis itu. Tapi Kirana hanya melenguh sembari menggeliat. Nampaknya ia tidur dengan nyenyak dan nyaman. Akbar kemudian melepaskan heandset itu. Mengangkat tubuh Kirana menuju ranjang mereka.


Perlahan ia meletakkan tubuh Kirana. Aroma lavender begitu menusuk indera pencium Akbar. Aroma yang begitu nyaman. Akbar semakin mendekatkan hidungnya pada puncuk kepala Kirana.


Cup


Bersambung


Apa yang di kecup Akbar thor? Wkwk


Kening, pipi, atau ... Bibir? 😁

__ADS_1


__ADS_2