Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa

Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa
Demi Abang!


__ADS_3

Kirana memejamkan mata dan mengatur napasnya. Berusaha menetralkan degup jantungnya yang kian cepat. Kemudian menginjak pedal gas menuju bandara.


"Demi abang!" ucapnya dengan penuh keyakinan.


Ia harus bisa. Kirana menggelengkan kepala saat merasakan kepalanya yang terasa pusing. Lalu memutar musik agar tubuhnya rileks. Kirana melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Wanita itu kemudian berhenti saat melihat banyak orang berada di jalan yang hendak ia lalui.


Wanita itu menginjak rem lalu menurunkan kaca mobil dengan celingukan kemudian memanggil sebuah polisi yang ada di sana.


"Ada apa Pak?" tanya Kirana.


"Kecelakaan Bu," sahut Polisi itu yang membuat Kirana berdecak kesal. Apa aku se-tua itu? Terus ini gimana? pikirnya.


"Bisa lewat gak Pak? saya mau ke bandara," ucap Kirana sembari menatap polisi itu yang baru saja nampak sehabis menelpon seseorang.


"Gak bisa. Lagi nunggu ambulans dan rekan saya Bu. Kalau memang mendesak bisa lewat jalan pintas di sebelah sana." Polisi itu menunjuk sebuah jalan yang kelihatan dari tempat mereka. Hanya perlu mundur beberapa meter saja dari tempatnya. Namun, Kirana menelan saliva saat menatap jalan yang lebih mirip gang itu. Kegelapan memenuhi jalan itu.


"Itu aman gak Pak? saya perempuan lho!" ucap Kirana sembari mengerjap ketakutan. Polisi itu menatapnya kemudian berkata.


"Aman. Dua hari lalu pengacau di sana udah di tangkap. Gak bakalan ada begal Bu," sahut sang Polisi yang membuat Kirana mendengus kesal.


"Saya permisi dulu Bu," imbuhnya sembari menjauh dan menghampiri seorang berseragam polisi, terlihat baru saja datang yang bisa jadi rekan yang ia bicarakan tadi.

__ADS_1


Kirana menelan saliva, bukan begal yang ia takutkan tapi kegelapan. Wanita itu menghela napas kemudian melajukan mobil menuju jalan itu. Mengingat bahwa jalan itu nanti akan membawanya ke jalan raya lagi. Jalan yang terang, jadi tak akan lama ia berada dalam kegelapan.


Kirana mulai memasuki jalan tersebut yang terasa lengang. Tubuhnya menegang dengan keringat yang bercucuran. Wanita itu berusaha keras menahan rasa pusing yang mendera kepalanya.


Menarik napas beberapa kali dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Suasana malam yang sunyi dan kegelapan yang terus ada di sekitarnya sejak tadi membuat Kirana semakin merasa dadanya sesak. Matanya mulai berkaca-kaca. Sanggup kah dirinya mengejar sang suami?


Kirana menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang memiliki sedikit cahaya di terasnya. Bohlam lampu kecil satu-satunya yang ada di sana. Jalan ini sangat sepi dengan sedikit rumah atau warung di pinggirnya.


Wanita itu memejamkan mata. Lalu berkata sembari menitikkan air mata. "Abang ...." lirihnya dengan isakan.


"Jangan takut sama sesuatu yang bahkan gak bisa nyakitin Kamu Dek."


Kirana membuka mata saat mengingat pesan Akbar dulu. Wanita itu menarik napas berkali-kali lalu menyeka air matanya lagi.


Mengapa terasa jauh sekali? pikir Kirana sembari memijit pelipisnya. Wanita itu kemudian menginjak rem saat merasa kepalanya sangat pusing. Matanya sudah berkunang-kunang.


Aku gak mau pingsan!


Kirana menjerit dalam hati lalu mata itu mulai menutup bersamaan bulir bening yang jatuh di sudut matanya.


"Jangan pernah takut sama sesuatu yang gak bisa nyakitin kamu, anggap aja kegelapan adalah teman atau malam adalah Abang ...."

__ADS_1


"Abang ...."


Kirana mengepalkan tangannya kemudian berusaha keras membuka mata. Beberapa kali mencoba, pada akhirnya mata itu terbuka.Kirana Mengambil minum di dalam mobilnya kemudian meneguk cepat dengan tergesa. Menarik napas dan melajukan kembali mobilnya.


Kirana keluar dari jalan itu dengan menghela napas lega. Jalan raya yang cukup lengang membuat wanita itu nekat menaikkan kecepatan. Hingga sampai di bandara dan langsung bertanya. Penerbangan menuju Paris, Perancis.


"Sudah take off 30 menit yang lalu Bu."


Sorot mata Kirana nampak kecewa. Dengan mata berkaca-kaca wanita itu melangkahkan kaki dan menatap semua orang di bandara. Siapa tau Akbarnya ada di sana? pikirnya. Ia menatap beberapa orang yang masih di sana karena memang hanya sedikit sebab sebentar lagi jam operasi bandara habis.


Kirana kembali menangis saat tak menemukan Akbar. Wanita itu sesenggukan dengan isakan pelan. Hingga matanya berkunang-kunang dan Kirana sudah tak bisa menyangga tubuhnya lagi.


Ia tak sadarkan diri dan langsung di tahan sebuah tangan kekar yang ternyata milik seorang laki-laki. Semua orang tau, Sebanyak apapun menyesali, jarum jam tak akan pernah berputar kembali ke kiri.


Bersambung


Siapakah dia? 😐


Jangan lupa likenya, banyakin komentarnya dan tambahin votenya. Entah mengapa merasa komentar menurun dari part sebelumnya 😌


Terima kasih atas apresiasi

__ADS_1


dari kalian semua ❤


__ADS_2