Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa

Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa
Extra part lagi


__ADS_3

Setelah kelahiran Athaya, kehidupan Kirana benar-benar menjelma secara langsung menjadi ibu rumah tangga. Menunggu sang suami pulang dan memasak makanan.


Mengurus bayi mungil, buah hati cintanya bersama Akbar. Dulu, Kirana berpikir bahwa kehidupan ibu rumah tangga sangat melelahkan. Yang lebih menyedihkan, banyak orang di luar sana yang berganggapan bahwa seorang ibu rumah tangga disebut tak bekerja.


Kenyataan sebenarnya, sejak pagi hingga petang. Pekerjaan ibu rumah tangga tak ada habisnya. Beberapa kali Akbar menyarankan untuk mencari asisten rumah tangga, tapi sang istri menolak rencana itu.


Apartemen yang ditempati mereka memang cukup luas dan Kirana merasa mampu untuk membersihkan seorang diri. Setelah Athaya terlelap nyaman tentunya.


Hari ini, Kirana nampak duduk di sofa setelah membersihkan apartemennya. Memangku bayi berusia tiga bulan yang terlihat sangat menggemaskan. Kirana menatap Athaya dengan penuh cinta.


Mengecupnya beberapa kali, hingga kedatangan Akbar membuat wanita itu tercengang.


"Lho? kok udah pulang?" Kirana melirik jam dinding sejenak kemudian menatap Akbar yang terlihat mencebikkan bibirnya.


Duduk di sebelah istrinya, Akbar lantas berkata, "Gak suka banget kayaknya, suami pulang jam segini."


Kirana menggelengkan kepala dan berkata, "Bukannya gitu Abang, aku 'kan cuma nanya." Kirana menatap gemas suaminya. Lelaki itu kadang bersifat manja. Pernah juga katanya cemburu pada Athaya.


"Kehausan banget kayaknya anak Papa," ucap Akbar sembari menatap sang putra yang tengah melahap asi dari dada Kirana.


Kirana memundurkan tubuhnya saat suami terlihat menelan Saliva. Seperti dugaannya, Akbar kembali mengeluh hal serupa.


"Padahal 'kan ada dua. Kok bisa suami gak boleh ngerasain lagi tuh dua bukit surga!"


Kirana tertawa sembari menggelengkan kepala. Kalimat Akbar bukan pertanyaan. Tapi sebuah pernyataan berisi keluhan.


"Aku kangen Dek," ucap Akbar manja sembari mengecup kilat bibir Kirana. Spontan sang istri terlonjak kaget hingga membuat Athaya hampir terbangun sebab baru saja memejamkan mata.


Kesibukan Akbar dalam bekerja membuatnya sangat kelelahan hingga saat pulang bahkan sangat jarang menghabiskan waktu bersama istrinya.


"Gimana kalau nanti malam dinner, mau gak?" Akbar berucap dengan tatapan menggoda.


Kirana tak menjawab ucapan sang suami namun berjalan menuju kamar dan meletakkan Athaya yang sudah tertidur.


Wanita itu tersentak saat sebuah tangan melingkari perutnya. Akbar memejamkan mata sembari menghirup dalam aroma Kirana. Lelaki itu kemudian duduk di tepi ranjang dan membawa sang istri ke pangkuan.


"Kenapa Bang?" Kirana mengusap lembut pipi sang suami. Sementara Akbar memejamkan mata lagi.


"Athaya udah tidur 'kan." Pertanyaan untuk memastikan itu membuat Kirana mengerti saat Akbar membuka mata dan menatapnya dengan sorot mata mendamba. Satu hal yang biasa, saat sang suami menginginkannya.

__ADS_1


Kirana mulai memejamkan mata saat bibir kenyal dan lembut itu menyapu bibir kemerahan miliknya. Mendesah pelan sembari memperdalam ciuman. Akbar tersenyum senang.


Aktivitas selanjutnya tentu saja hal biasa. Saling bertukar saliva, lalu menyatu dengan sorot mata sayu. Saling menyentuh dengan penuh perasaan dan dambaan.


***


Malam harinya, Akbar benar-benar membawa Kirana dinner romantis. Memanjakan sang istri dengan luapan kasih sayang. Sementara Athaya di titip pada bunda Kirana.


Menghabiskan waktu berdua dengan sorot mata sama. Penuh cinta dan mendamba. Bertukar cerita yang tak ada habisnya. Sekarang, Akbar dan Kirana menuju rumah keluarga Cakrawangsa. Untuk menjemput Athaya tentu saja.


"Bang, ke minimarket dulu yaa," ucap Kirana di tengah jalan.


Akbar menatap Kirana dan bertanya, "Mau beli apa?"


"Pembalut, aku datang bulan. Baru aja," sahut Kirana sembari menatap suaminya.


Itu kabar buruk bagi Akbar dan terlihat jelas wajahnya nampak tak suka. Mau bagaimana lagi coba? padahal cuma seminggu saja biasanya Kirana mendapat tamu bulanan.


Menghentikan mobilnya di sebuah minimarket, Kirana menatap sang suami dengan penuh arti.


"Beliin yaa bang ...." ucap Kirana manja.


"Perhitungan!" sahut Kirana namun akhirnya melakukan juga apa keinginan sang suami. Bayaran berupa kecupan.


Kirana tercengang saat menyatukan bibir mereka, Akbar jutsru menahan tengkuk Kirana. Memperdalam dan melumatt bibir sang istri dengan penuh perasaan.


Saling bertukar saliva dan memejamkan mata hingga tautan terlepas saat Kirana kehabisan napas.


"Udah Bang," ucap Kirana mengingatkan.


"Sekali lagi," sahut Akbar sembari meraih tubuh sang istri


"Curang ish Abaaang!" Kirana melototkan mata dan itu sama sekali tak membuat Akbar menghentikan aksinya.


Saat sudah puas dan ciuman itu justru semakin memanas, Akbar menahan diri dan lekas turun membeli sesuatu yang diinginkan sang istri.


Saat membeli, Akbar bingung membeli merek apa untuk Kirana. Karena memang baru pertama kali ia membeli hal ini. Lelaki itu memutuskan bertanya pada orang di sana.


"Mbak, merek yang paling nyaman yang mana?" tanya Akbar sembari menatap wanita di sebelahnya.

__ADS_1


"Ini bagus, terus ini nyaman juga. Mau beliin siapa Mas? Biasanya beli yang pakai sayap apa enggak?" Wanita itu menjawab Akbar dengan antusias.


"Gak tau juga pakai sayap apa enggak, tapi istri saya sebenarnya bidadari yang gak bersayap," sahutnya nyeleneh.


Wanita itu tertawa sembari menggelengkan kepala, lalu berkata, "Bisa aja Masnya."


"Itu yaa istrinya?"


Akbar menatap arah tatapan wanita itu. Matanya membulat sempurna saat melihat Kirana menatapnya dengan mata yang hampir keluar dari tempatnya.


Wanita yang berada di sebelahnya beranjak pergi saat Kirana mendekat pada mereka.


"Pantesan lama, ngobrol sama cewek ternyata," ucap Kirana sinis sembari menatap suaminya.


"Bukan gitu Dek, Abang nanyain ini ...." kilah Akbar dengan sorot mata memelas minta pengampunan. Ia tau bagaimana sensitifnya seorang wanita yang sedang datang bulan.


"Kan bisa telpon aku bang dan tanya sama istri sendiri," sahut Kirana.


"Iya juga, kok gak kepikiran yaa ...."


Yang terjadi selanjutnya, Kirana terus mengomel hingga sampai rumah tentang kecemburuannya pada Akbar yang hanya berbicara dengan seorang wanita.


Bagaimanapun sang suami membujuknya, Akbar tau, bahwa wanita yang datang bulan selalu memperbesar hal yang kecil karena hormon tamu bulanan. Sedikit memanjakan sang istri membuat Kirana akhirnya memaafkan sesuatu yang bahkan Akbar tak yakin itu adalah kesalahan


***


Ini ada bonchap lagi karena ada yang minta di grup kemaren, udah ke janji juga :)


Btw, yang nanya visual nanti di season dua yaa, makasih banyak atas dukungannya. Jangan lupa like nya โค


Mampir juga ke novel Zaraa lainnya. Yang suka teenlit bisa mampir ke My Nerd Girlfriend. Kisah romansa anak SMA.


Dan yang masih penasaran apa Bener Raga yang nolong Kirana. Memang itu beneran Raga yaa sayang,,, ish gemes aku tu๐Ÿ˜‚


Kalau yang nolong pemeran utama wanita adalah pemeran utama pria. Kisahnya klise banget tau gak, dan seorang Zaraa selalu berusaha menyajikan kisah yang berbeda.


Gak percaya silakan baca semua karya Zaraa๐Ÿ˜‚


Sampai jumpa ๐Ÿ˜—

__ADS_1


__ADS_2