
LIKE DULU SEBELUM BACA PLIS!
Happy reading ^_^
***
Tepat setengah jam sebelum azan isya berkumandang. Kirana terbangun dari tidur nyaman. Matanya mengerjap. Berusaha menyesuaikan cahaya yang ada di ruangan. Sejenak terdiam. Mengingat saat terakhir kali ia menikmati pemandangan matahari tenggelam. Sadar bahwa ketiduran. Lalu, siapa yang membawanya ke ranjang?
Aroma masakan begitu menusuk. Suara samar-samar terdengar dari dapur. Kirana melirik ke jam dinding. Matanya membulat sempurna. Ia lupa sholat asar. Dan sekarang bahkan sudah hampir sholat isya. Kirana bergegas mensucikan diri lalu sholat maghrib.
Sementara itu Akbar yang sedang di dapur sedang memanaskan makanan yang baru saja ia pesan. Akbar memang tak pernah memiliki asisten rumah tangga atau pembantu. Sebelumnya, Umi menyarankan Bi Ijah. Pembantu di rumah untuk Akbar. Tapi pemuda ini menolak keras. Ia lebih suka sendiri dan berada dalam keheningan
Akhirnya, Akbar memang memasak sendiri atau jika malas, ia memesan. Sedangkan untuk membersihkan apartemen. Kadang Akbar meminta Bi Ijah untuk datang sesekali. Itu juga jarang sekali, Akbar biasanya lebih suka membersihkan sendiri. Dia pemuda yang sejak kecil sudah di ajarkan hidup mandiri.
Drrrtt! Drrttt!
Nada dering ponsel Akbar yang ada di atas meja pantri membuatnya tersentak. Ia lalu mengangkat telpon dengan senyuman samar.
"Assalamu'alaikum Ummi," ucap Akbar
"Wa'alaikumsalam Akbar. Apa kabar Nak? Gimana kabar Kirana?" suara di seberang sana terdengar tenang.
"Alhamdulillah kami baik, Ummi. Gimana kabar Ummi sama Abi? Terus Randy sama istrinya?"
"Alhamdulillah kami baik juga Nak, Puspa baru aja periksa kandungan. Bayinya sehat." suara Ummi di seberang terdengar sangat riang. Jika mereka saling berhadapan, Akbar yakin kedua mata teduh Ummi sekarang sedang berbinar.
__ADS_1
"Alhamdulillah," seru Akbar
"Kamu juga cepet-cepet yaa kasih kami cucu kayak Randy."
Deg!
Sekelebat ingatan datang di pikiran Akbar. Saat ia mengangkat tubuh Kirana ke ranjang mereka. Tanpa sadar. Bibirnya mengecup puncak kepala Kirana. Kemudian, kecupan itu beruntun ke pipi dan bagian wajah lainnya saat Kirana tak bangun karena ulahnya. Akbar bahkan mengecup dan mengecap bibir istrinya. Hingga beralih ke leher Kirana.
Saat itu Akbar kehilangan kendali. Bibirnya memberikan kiss mark yang cukup terlihat merah di leher Kirana. Hingga ia kemudian menyadarkan diri. Takut jika berbuat lebih. Bagaimana pun ia adalah lelaki yang normal dan bisa di bayangkan bagaimana ia tak bisa menahan diri untuk tak menyentuh wanita cantik yang sudah sah menjadi istrinya.
Sakit. Sangat.
Sebab yang ia inginkan ada di depan mata. Tapi ia tak bisa menjangkaunya. Itu adalah keadaan paling menyedihkan dan membuat sakit perasaan.
"Iya Mi?" Akbar tersentak dan spontan mejawab.
"Kamu kenapa Nak?" suara Ummi terdengar cemas.
"Gak papa Mi, udah dulu yaa. assalamu'alaikum!" saat jawaban salam terdengar, Akbar langsung memutuskan sambungan. Sejanak terdiam. Hingga sebuah aroma tak sedap membuatnya sadar bahwa masakannya di wajan sudah menghitam.
Akbar mematikan kompor dan menghela napas kasar. Sebuah langkah kaki terdengar mendekat.
"Kok gosong?" siapa lagi kalau bukan Kirana. Sebelum wanita itu mengomel panjang, Akbar berbalik dan menyambar ponselnya. Memesan lagi, karena sisa makanan ini sudah tak bisa di makan berdua.
Kirana terlihat sudah memakai piyama. Ia menatap Akbar yang masih asik dengan ponselnya. Kemudian meminum air mineral di kulkas dan pergi begitu saja.
__ADS_1
Saat makanan yang Akbar pesan sudah datang, Ia memanggil Kirana untuk makan.
"Gue gak makan." Kirana menjawab tanpa menatap Akbar. Ia sedang memainkan ponselnya untuk memesan salad buah.
"Gue mau diet. Barusan tadi siang di tawarin jadi model untuk cover majalah terbaru muslimah Style." Kirana mengucapkan dengan suara yang terdengar bahagia. Kemudian Akbar kembali ke dapur untuk makan.
***
"Lain kali, bangunin dong kalau waktu sholat!" Kirana lagi-lagi berucap tanpa menatap Akbar. Ia merebahkan dirinya dan mulai memejamkan mata.
Sementara Akbar memilih melanjutkan pekerjaannya. Menulis dengan fokus. Dalam sekejap, Akbar sudah larut dalam cerita tulisannya sendiri.
Drrttt! Drrrrt!
Suara ponsel Kirana membuat akbar tersentak. Melirik sekilas jam yang menunjuk angka tengah malam. Dahinya berkerut dalam. Siapa yang menelpon Kirana selarut ini?
Akbar kemudian berusaha menghiraukan. Jari-jarinya kembali menari di atas keyboard.
Dua jam berlalu, ia sudah lelah. Akbar memilih untuk mengambil selimut tebal di lemari dan tidur di sofa. Ia takut tak bisa menahan diri dan kehilangan kendali lagi. Saat melewati nakas. Lagi, ponsel Kirana berbunyi. Akbar melirik Kirana yang masih tidur dengan nyaman. Terlihat sangat nyenyak.
Tanpa sadar, Akbar melangkah mendekat dan mengambil ponsel Kirana. Matanya membulat sempurna ketika melihat nama di layar ponsel istrinya.
Bersambung
Hai readers. Tolong berikan like, komentar dan votenya yah! Jangan jadi sider yang nyebelin 😜
__ADS_1