Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa

Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa
Catatan Kecil


__ADS_3

"Hoek! Hoek!"


Perlahan, tubuhnya mulai ambruk di lantai kamar mandi. Kirana berusaha berdiri meski tubuhnya terasa sangat lemas dan lemah. Wanita itu membersihkan mulutnya kemudian menatap dirinya di cermin.


Sudah beberapa hari ia merasakan hal ini. Bunda bilang biasa disebut morning sickness. Awalnya, ia mengira bahwa kehamilan hanya akan membuat tubuhnya melar. Tapi tak menyangka bahwa lebih dari yang ia duga selama ini.


"Kirana?!" teriak bunda dari luar kamar mandi. Wanita itu membuka pintu dan memeluk sang ibu.


"Lemes Bun," keluhnya sembari memejamkan mata. Saat terbuka, mata itu kembali berkaca-kaca karena mengingat Akbar yang entah bagaimana keadaannya. Jika ditanya, Abi hanya mengatakan bahwa Akbar baik-baik saja dan Kirana berusaha percaya.


"Duduk dulu!" Bunda membantu Kirana duduk di tepi ranjang. Kirana menyenderkan tubuhnya.


"Pengen Abang ...." keluhnya tanpa suara.


***


Kirana menatap foto USG bayinya. Baru saja ia dan bunda memeriksa kandungannya dan dokter mengatakan bahwa Kirana maupun bayinya sehat-sehat saja.


Wanita itu merengek pada sang bunda agar singgah ke apartemen Akbar dan Kirana dulu, baru kembali ke rumah. Bunda menyetujui dengan syarat harus ditemani. Kirana mengangguk meski keberatan. Dari pada tak diizinkan sama sekali. Bunda kurang suka Kirana kesana karena tau bahwa hal itu membuat putrinya tak enak hati. Selalu memikirkan sang mantan suami.

__ADS_1


Saat sampai di apartemen, Kirana langsung menuju ruang pribadi Akbar. Apartemen itu dibersihkan oleh pelayan kepercayaan keluarga Bratajaya. Tapi khusus ruangan Akbar. Kirana sendiri yang membersihkannya. Ia tak mengizinkan siapapun untuk masuk ke sana dan menyentuh barang-barang suaminya. Wanita itu duduk di depan meja besar dan menatap laptop di hadapannya. Perlahan, Kirana mulai membuka apa yang ada di dalamnya.


"Kita lihat apa isinya!" seru Kirana sembari mengusap perutnya. Seolah berbicara pada bayinya. Wanita itu sejak kemarin ingin tau, tapi berusaha menahannya. Hingga hari ini rasa penasaran sudah di ambang batasnya.


Kirana menautkan alis saat tak menemukan apapun di sana. Tak ada foto Akbar ataupun keluarga. Hanya berisi beberapa naskah yang nampaknya tak sempat Akbar kirim ke penerbit. Hingga ia mulai tertarik pada setiap kata yang tertulis. Membaca status Akbar di sosial media. Sebagai penulis, Akbar memang memiliki akun dengan nama penanya.


"Dengan menulis saya bisa mengeluarkan segala rasa dan keluhan yang memberatkan jiwa dan raga."


"Puitis amat ya elah abang!" kikih Kirana dalam hati.


Membaca kata terakhir Kirana jadi mengingat Raga. Dengan kuasa nama keluarga Lesmana. Laki-laki itu mendapatkan hukuman seminggu saja di penjara. Saat sudah keluar ia meminta maaf pada Kirana dan wanita itu jelas memaafkannya. Lagipula, bagaimanapun Raga dulu pernah menyelamatkan hidupnya.


"Mengeluarkan rasa dengan tulisan." Kirana bergumam teringat kalimat abang. Hingga sebuah ide menghinggap di kepala, wanita itu mulai mencari kertas karton putih dan peralatan lainnya yang diperlukan.


Kirana membentangkan kertas karton itu di atas meja dan menatap dengan kedua sudut bibir terangkat sempurna. Ia mengambil foto USG bayinya dan menempelkan di sana. Menulis catatan kecil untuk menumpahkan rasa.


Foto USG, umur 18 Minggu.


"Aku gak pernah minum pil penunda bang, ini bayi kita. Masih kecil banget, 'kan? kata dokter dia berjenis laki-laki. Semoga gak kayak abang meskipun abang ayahnya. Jangan sampai jadi cowok yang ngeselin tapi juga ngangenin."

__ADS_1


Kirana tergelak sendiri membaca kembali catatan itu. Receh banget! pikirnya. Tapi Kirana merasa ada rasa lega. Ia kemudian memutuskan untuk lanjut melakukan hal ini. Akan menumpahkan segala perasaannya pada kertas putih untuk orang yang ia cintai. Tentang sebuah perasaan dan kerinduan. Lalu ia tempelkan kertas itu ke dinding di ruangan itu.


Hari demi hari terlewati. Setiap bulan, Kirana melakukan USG dan ada foto baru bayinya lagi. Setiap bulan pula ia menempelkan foto bayinya dan catatan kecil berisi curhatannya.


Foto USG, usia 23 Minggu.


"Aku kangen bangeet bang ... kapan pulang? aku bingung milih nama buat bayi kita. Aku pengen abang yang kasih namanya. Terus abang juga yang semangatin aku pas lahiran nanti. Ya bang?"


Kadangkala, ia menulis sembari menitikkan air mata. Kerinduan semakin besar sama seperti perutnya. Kirana terus berdoa. Semoga orang yang ia cintai baik-baik saja di sana.


Bersambung


Siapa yang pernah kek Kirana. Waktu hamil atau ngelahirin gak ditemani suami? gimana rasanya? :(


Doakan Abang dan Kirana cepet bersatu yaa, jangan lupa likenya buat author Zaraa. Banyakin komentarnya dan tambahin votenya. Up lagi hari ini kalau banyak yang komentar😌


Terimakasih atas apresiasi


dari kalian semua ❤

__ADS_1


__ADS_2