Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa

Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa
Terpaksa


__ADS_3

"Aku udah nikah Ga ...."


Hening


Kirana menelan saliva dan berusaha mengatur napasnya. Entah mengapa ia merasa bersalah dan ingin menangis karena menyakiti Raga. Wanita itu bahkan tak berani mengangkat kepala dan menatap lelaki yang ada di hadapannya. Mereka hanya terbatasi sebuah meja namun Kirana merasa begitu jauh dari Raga.


Sedangkan Raga masih terdiam dengan mengerjap tak percaya. Tentu ini bukan lelucon karena melihat Kirana yang benar-benar menangis di hadapannya. Lelaki itu menghela napas berat kemudian berusaha berkata meski tenggorokannya terasa tercekat.


"Kok bisa, Na?" tanyanya pelan sembari berdehem pelan. Nada suaranya yang gemetar sudah menjadi tanda bahwa Raga cukup terluka. Lelaki itu menatap dalam mata Kirana saat wanita itu mengangkat kepalanya dan membalas tatapan Raga dengan sorot mata yang sama terluka.


"Aku ... terpaksa," sahut Kirana dengan mengerjapkan mata. Ia menepis air mata yang ada di pipinya dengan kasar. Raga menyodorkan minuman ke hadapannya. Kirana mengambil gelas itu dan meminumnya.


"Jangan nangis Na, aku gak papa," ucap Raga dengan senyum tulusnya. Justru hal itu semakin membuat perasaan Kirana tak karuan di buatnya.


"Terpaksa kenapa Na?" desak Raga. Ia ingin wanita ini memberi tahunya, apa yang terjadi sebenarnya.


"Aku gak bisa ngasih tau kamu alasannya," sahut Kirana dengan menghela napas lega. Meski ada perasaan sesak di dada, ia sudah lega memberitahukan Raga bahwa ia menikah karena terpaksa. Dan Kirana tak bisa memberitahu Raga karena kehamilan Puspa adalah aib keluarga. Tak seharusnya di umbar bahkan kepada Raga yang tentu akan menjaga rahasia dua keluarga.


"Udah lama?" tanya Raga dengan dada berdegup kencang. Ia takut Kirana sudah lama menikah dan memiliki rasa pada suaminya. Membayangkan hal itu membuat Raga menelan saliva. Hingga jawaban Kirana membuat Raga menghela napas lega.


"Udah beberapa bulan sih Ga," sahut Kirana pelan. Raga tersenyum lebar menatapnya. Membuat Kirana menatap lelaki itu dengan alis yang bertaut.


"Kamu cinta sama ... dia?" tanya Raga hati-hati dan menatap dalam mata Kirana. Wanita itu menggelengkan kepala dan membuat Raga kembali menarik kedua sudut bibirnya hingga terangkat sempurna.


"Ceraikan dia Kirana," ucap Raga dengan nada perintah. Kirana menatapnya dengan sorot mata yang tak terbaca.


"Dan nikah sama aku," imbuh Raga dengan kedua sudut bibir terangkat sempurna. Kirana masih menatapnya dengan tatapan tak terbaca hingga terdengar helaan napas berat Kirana.


"Kamu yakin Ga? nikah sama aku yang janda?" tanya Kirana dengan menaikkan satu alisnya. Raut wajah serius menunggu jawaban Raga. Dan respon Raga membuatnya mengerjap tak percaya.


"Iya, katanya janda lebih menarik," sahut Raga dengan terkekeh pelan. Kirana mencebikkan bibirnya.


"Ngeselin banget sih Ga!" ucapnya dengan nada kesal. Raga tertawa.


"Aku cinta banget sama kamu Na ...." ucap Raga dengan nada pelan.


"Dan itu gak akan berubah bahkan kalau tau kamu janda," imbuhnya dengan senyuman khas seorang Raga Fatah Lesmana.


"Manis banget sih Ga, aku terharu nih," sahut Kirana dengan mata berkaca-kaca. Raga menatapnya.


"Jangan nangis lagi Na, aku gak suka lihat air mata kamu," ucap Raga dengan raut wajah serius. Kirana mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Gombal," cibir Kirana kesal. Raga tertawa lagi Hingga raut wajahnya kembali serius dan menatap wanita di hadapannya.


"Jadi kapan kamu menceraikan dia?" Raga berdehem pelan. Sebelum Kirana menyahut ia kembali berkata dengan nada pelan. "Kok aku kayak perusak hubungan orang ya?" tanyanya dengan tawa sumbang. Menertawakan dirinya yang terlambat untuk melamar Kirana.


Kirana menatap cincin nikahnya bersama sang suami Akbar Giandra Bratajaya. Cincin keemasan dengan nama diamond narrow shape yang tentu saja limited edition. memadukan emas dan leaf diamond sebanyak 6 buah.


"Udah seharusnya kami pisah Ga, hubungan ini karena keadaaan yang memaksa," sahut Kirana dengan sorot mata terluka. Menatap cincin itu dan terlintas jelas bagaimana Akbar dengan cepat menyetujui gugatan cerainya. Ia tersenyum getir lalu kembali berkata. "Kami juga gak saling mencintai Ga," imbuhnya pelan dengan penuh keraguan.


"Ya udah kalau gitu," ucap Raga dengan senyuman lebar. Lalu kembali melanjutkan ucapan dengan menghela napas kasar. "Jadi, kapan kalian pisahnya Na?"


"Beberapa bulan lagi kayaknya," sahut Kirana sembari mengalihkan tatapannya dari cincin pemberian sang suami ke cincin pemberian Raga yang masih ada di atas meja.


"Gak." Kirana menatap Raga dengan alis yang bertaut. Terlihat Raga memasang raut wajah tak suka.


"Kalau kamu emang gak cinta sama dia. Ceraikan secepatnya Na, ada aku di sini yang udah nunggu cukup lama," ucap Raga dengan sorot mata memelas. Kirana menghela napas kemudian menganggukkan kepalanya.


"Dua minggu lagi aku akan gugat cerai dia."


"Enggak," sahut Raga dengan sorot mata tak suka. Lalu kembali berkata. "Seminggu Na, aku gak mau nunggu lagi," desak Raga dengan berdecak kesal.


"Ya udah deh," sahut Kirana pasrah. Ia menatap wajah Raga yang tengah tersenyum sumringah.


"Pengen banget Na, jadi suami Kamu," sahutnya dengan terkekeh pelan.


"Gimana sama kuliah kamu Ga?" tanya Kirana yang ingat pendidikan Raga


"Bentar lagi udah mau selesai Na, makanya aku ambil S2 jadi pas waktunya mau ngelamar kamu. Eh udah keduluan ternyata," sahut Raga dengan mendengus kesal.


"Tapi gak papa," imbuhnya lagi dengan senyuman lebar. Raga mengambil tangan Kirana dan menggenggamnya. Menyentuh cincin pemberian suami Kirana dan menatapnya dengan sorot mata terluka. Tangannya bergerak, berusaha melepaskan cincin itu dari jari manis Kirana.


Akbar yang tak jauh dari sana menatap Kirana dengan sorot mata terluka. Hingga senyumannya terangkat sempurna tatkala Kirana menarik kembali tangannya. Akbar pergi dari sana dan menuju apartemennya.


Sementara Raga menatap Kirana dengan alis yang bertaut. Kirana mengerjap gugup dan menatap cincinnya.


"Nanti kalau udah cerai baru aku lepas Ga," ucapnya pelan. Kemudian kembali melanjutkan ucapan. "Jangan sekarang ya ...."


Raga menghela napas kasar lalu menutup kotak cincinnya. Menyimpan ke saku jasnya lalu menatap Kirana.


"Makan siang dulu, habis itu kita jalan," ucapnya yang langsung di setujui Kirana.


Setelah makan siang, Kirana dan Raga berjalan-jalan dan berakhir shopping di mall ibukota. Raga dengan senang hati dan memang sudah sering seperti ini. Dulu ia memang sering menemani Kirana shopping. Karena itulah, Raga jelas tau bahwa Kirana memang sangat suka berbelanja dari brand ternama dunia. Membeli barang-barang branded dan limited edition adalah khas seorang Kirana.

__ADS_1


"Capek yaa?" tanya Kirana dengan kekehan pelan. Bukan bertanya ia hanya mengejek Raga. Lelaki itu sama sekali tak mempermasalahkannya hingga Kirana kembali memasuki sebuah toko dengan brand ternama dunia.


Raga menatap Kirana yang memilih beberapa tas dengan kedua sudut bibir terangkat sempurna. Ia lalu mengambil ponselnya kemudian menghubungi seseorang.


"Pesan sekarang juga semua tas dari brand ternama dan limited edition juga. Ingat! Brand ternama dunia. Kayak Gucci, Chanel, Prada, Mouawad, Cleopatra Clutch, Lana Markas, dan ... satu lagi LV (Luois Vuitton)."


Setelah itu, Raga kembali menghubungi seseorang tepat saat Kirana sampai di hadapannya dengan dua paper bag baru ia beli.


"Bayar sendiri?" tanya Raga dengan nada tak suka. Kirana menganggukkan kepala.


"Gak papa kali Ga, dari tadi pakai uang kamu mulu," sahut Kirana dengan terkekeh pelan.


Raga mendengus kesal karena tak ingin berdebat lalu mengajak Kirana untuk istirahat terlebih dahulu sambil menunggu seseorang ia tunggu.


"Tuan Muda ...."


Raga dan Kirana menatap lelaki yang sekarang menunduk hormat di hadapan mereka. Kirana mencebikkan bibirnya.


"Ras lemah!" cibirnya dengan tawa. Lelaki ini jelas adalah pengawal Raga yang diminta lelaki itu pasti untuk membawa belanjaannya. Dan Kirana memang benar. Saat lelaki itu sudah pergi dengan membawa belanjaan Kirana ke mobil mereka. Raga berucap dengan percaya diri yang luar biasa.


"Kalau ada yang mudah. Ngapain harus sulit sih. Lagian mereka di bayar juga," sahut Raga dengan smirknya


"Terserah deh tuan muda ....." cibir Kirana dengan tawa.


"Kamu lebih cantik kalau gak pakai make up Na," ucap Raga tiba-tiba. Sebelum jalan-jalan. Kirana menghapus seluruh make up nya sebab sudah berantakan karena tangisannya tadi.


"Tapi aku kurang puas kalau gak pakai polesan," sahut Kirana dengan serius.


****


Kirana dan Raga sudah berada dalam mobilnya. Sementara mobil Kirana sudah di antar ke apartemennya. Lebih tepatnya apartemen suami Kirana dan Raga tau itu.


"Kamu gak nanya siapa suami aku Ga?" tanya Kirana dengan mengerjap heran. Sejak tadi ia penasaran tapi menahan diri namun sekarang sudah tak tahan lagi.


"Gak penting juga," sahut Raga acuh.


Bersambung


Udah rajin mau ngitung debu ternyata udah di sapu. Jadi up lagi nih Aku 😂


Like dan komentarnya yaa tolong ^^

__ADS_1


__ADS_2