Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa

Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa
Kembali


__ADS_3

TEKAN LIKE DULU SEBELUM BACA PLIS!


❤ Happy reading ❤


***


"Assalamu'alaikum!" Akbar masuk ke rumah dan mencari kedua orang tuanya.


"Bi, Umi sama Abi ke mana?" tanya Akbar tanpa menatap asisten rumah tangga yang baru berkerja itu. Ia terlihat masih muda dan raut wajahnya terlihat bingung dan ketakutan melihat Akbar yang memakai topeng. Menutupi sebagian wajahnya.


Merasa tak ada jawaban, Akbar menatap gadis di hadapannya. Dahinya berkerut dalam tanda tak suka. Sementara gadis itu menelan saliva.


"Sudahlah," ucap Akbar sembari melangkah ke belakang rumah. Nampaknya sebuah suara sedari tadi membuat Akbar langsung berpikir mungkin orang tuanya ada di belakang rumah dan benar saja.


Di bagian belakang rumah besar keluarga Bratajaya terdapat halaman yang luas serta taman mini yang terdapat berbagai banyak bunga. Bunga itu sendiri di tanam oleh umi. Beliau sangat suka menanam berbagai macam bunga yang cantik dan indah.


"Abang!" pekik umi dengan girang. Ia memeluk hangat putra sulungnya. Setelah terlepas, Akbar mencium punggung tangan umi kemudian abi. Tersenyum tipis pada Puspa yang juga duduk santai di sana.


"Tumben kesini," ucap abi dengan nada kesal.


"Abi kok ngomong gitu!" tegur umi sembari melotot galak.


"Emang tumben 'kan? Biasanya nih anak punya dunia sendiri!" keluh abi dengan nada santai. Beliau mengesap kopinya secara perlahan. Sementara Akbar tak menanggapi. Ia tau, ayahnya hanya sedang mengeluh. Mau bagaimana lagi? Sebagai seorang penulis. Dia harus bersifat produktif. Terlebih lagi, ia suka menyendiri.


"Sering-seringlah kesini Bang," ucap umi sembari tersenyum tenang. Abang memang panggilan untuk Akbar di dalam keluarga.


"Oh ya, Menantu Umi mana?"

__ADS_1


"Kirana lagi ada pemotretan." asisten rumah tangga yang baru tadi, datang dan membawa beberapa kudapan serta minuman.


"Lho maksudnya?" tanya abi antusias.


"Kirana dapat tawaran jadi model Bi," sahut Akbar sembari mengesap kopinya yang baru saja di berikan tadi.


"Model?" pekik abi spontan. Seolah tak percaya.


"Iya, kenapa?" Akbar menatap dalam lelaki yang memiliki garis wajah sama sepertinya. Jika saja wajahnya tak hancur. Ia memang seperti duplikat abi. Sedangkan Randy lebih mirip umi. Tentu saja dalam versi laki-laki.


"Kalian ngobrol aja dulu, Umi mau ngomong sama Abi dulu," ucap umi sembari menarik tangan abi. Akbar mengerjapkan matanya menatap kedua orang tua yang mulai jauh melangkah pergi darinya.


"Mereka kenapa?" gumamnya dalam hati.


"Randy masih di kantor?" tanya Akbar sembari menatap Puspa. Adik iparnya itu mengangguk canggung. Tak menyangkan bahwa Akbar yang pendiam bertanya padahal sudah tau jawabannya. Tentu saja Akbar hanya berbasa-basi. Dan Puspa tau itu.


"Tentang phobia Kirana." Puspa mempusatkan perhatiannya pada Akbar.


"Mbak Kiran emang udah sembuh," sahutnya sembari menerawang. Sedangkan Akbar membulatkan matanya dengan sempurna.


"Dulu, Phobia itu bikin, Mbak insomnia. Susah tidur dan gelisah banget." Akbar terdiam. Ia juga membaca hal itu di internet. Orang yang menderita Nyctophobia biasanya insomnia. Karena ia takut kegelapan dan malam. Hal itu membuatnya gelisah di malan hari dan juga ketakutan. Tapi istrinya Kirana justru cenderung lebih awal tidur.


"Bunda sama Ayah udah bawa Mbak Kirana ke psikiater. Katanya itu phobia yang bisa di sembuhkan. Karena phobia Mbak Kiran udah cukup menganggu fisik sama psikisnya. Jadi Ayah memutuskan untuk menyembuhkan." mata Puspa masih menerawang jauh.


"Sebenarnya kenapa Kirana bisa begitu?" tanya Akbar dengan nada seolah menggerutu.


"Kalau itu Puspa gak tau. Mungkin psikiater sama Ayah Bunda aja yang tau," sahut Puspa sembari menatap kakak iparnya. Akbar terdiam. Memikirkan tentang kemarin malam. Kirana pasti ketakutan sampai pingsan. Hal itu memicu phobianya kembali. Meski tak separah dulu lagi, tapi tak menutup kemungkinan keadaannya kembali seperti dulu lagi.

__ADS_1


***


Semburat jingga mulai menghilang dan Kirana masih berdiri menunggu suaminya. Dadanya berdegup kecang. Keringat dingin membanjiri tubuhnya. Hari sudah petang. Hanya tinggal beberapa menit saja, adzan maghrib berkumandang. Tapi bukan itu yang Kirana takutkan. Tapi kegelapan.


Kirana meremass jemarinya yang bertaut. Berpikir lagi apakah Akbar tak akan marah jika ia memilih menggunakan taksi. Berulang kali memikirkan ini, Kirana masih saja menyimpulkan hal yang sama.


Tunggu saja Kirana!


Kirana tak cukup punya keberanian menentang perintah Akbar. Nada yang tegas serta rahang mengeras suaminya itu menunjukkan bahwa titahnya tadi pagi tak bisa diabaikan. Kirana takut, Akbar adalah lelaki yang pendiam tapi kebanyakan orang sepertinya jauh lebih kejam dari yang di kira. Orang-orang pendiam biasanya lebih nekat mengenai apapun juga.


Saat adzan maghrib berkumandang dan Akbar masih tak terlihat juga. Kirana menelan saliva. Lalu memilih turun menuju jalan raya. Mencari taksi yang lewat tapi tepat saat itu pula. Akbar datang dengan mobilnya.


"Kenapa lama banget?" tanya Kirana dengan napas tersengal. Karena tadi ia berlari.


"Lupa." spontan Kirana menatap Akbar dengan mata berkaca-kaca. Ia ketakutan hingga hampir pingsan saat malam mulai datang, tapi suaminya justru mengatakan lupa?


"Kalau gak bisa jemput, biar aku pulang sendiri aja nanti-nanti." Akbar menghela napas. Sedikit girang saat menyadari bahwa Kirana sudah menganti kata 'gue' ke 'aku'. Hanya saat marah ia menggunakan kata gue dan lu.


Sebenarnya sejak tadi, ia sudah datang tepat waktu seperti yang Kirana beritahukan melalui Wa. Tapi ia hanya memperhatikan istrinya dari kejauhan. Mengamati wanita dengan manik mata cokelat itu. Apakah praduganya benar, phobia Kirana kembali?


Akbar melirik sekilas Kirana yang tengah menatap ke luar jendela. Malam sudah datang. Mata itu terlihat gelisah. Beberapa kali jemarinya yang lentik meremass tuniknya yang berwarna biru muda. Bibirnya gemetar dan sesekali melirik Akbar. Saat tau, Akbar benar di dekatnya ia tenang lalu kembali gelisah beberapa menit kemudian.


"Cepetan, nanti telat sholat maghrib."


Akbar menghela napas lagi. Benar, phobia istrinya benar-benar kembali.


Bersambung

__ADS_1


Tap jempolnya yaa ❤


Banyakin komen dong, biar Zaraa semangat gitu lanjutinnya 😙


__ADS_2