
Mohon berikan like dan komentarnya yaa ❤
Aku tuh lagi males sebenarnya. Maaf kalau kurang dapet atau bahkan gak dapet sama sekali feel-nya ^^
***
Akbar menatap Kirana yang terus tersenyum bersama lelaki itu. Mereka berjalan entah kemana dan hal itu membuat Akbar spontan keluar mobil, tentu saja ingin mengikuti istrinya.
"Aaaaaa! Mama!"
Suara itu membuat Akbar terlonjak kaget. Bocah perempuan dengan rambut panjang menatapnya dengan sorot mata ketakutan. Wanita di sebelahnya tercengang lalu menggandeng bocah itu agar menjauh darinya. Akbar mengerjap sesaat lalu masuk lagi ke mobilnya. Baru menyadari bahwa tadi ia melepas topengnya karena cukup jengah menggunakan benda itu hampir setiap saat.
Tersadar, lelaki itu kembali menajamkan matanya dan memasang topengnya. Saat itu juga tepat di hadapan mobilnya. Sebuah mobil mewah berwarna hitam lewat dan wanita di dalamnya adalah Kirana. Karena kaca mobil itu terbuka, maka Akbar sangat jelas melihatnya. Bahkan senyuman itu baru ia lihat dari bibir istrinya. Dengan amarah membuncah ia menginjak pedal gas dan mengikuti mobil yang membawa istrinya. Bersama lelaki yang tak ia kenal. Entah siapa.
Beberapa menit kemudian mobil itu berhenti di sebuah masjid besar. Lelaki itu turun bersama Kirana yang bisa Akbar tebak tentu saja untuk sholat. Ada sesak di dada saat menatap wajah Kirana yang masih saja terlihat bahagia dan bahkan mereka ke masjid yang sama untuk menunaikan perintah-Nya. Tapi Akbar yang suaminya? Ia bahkan sangat sulit menyentuh Kirana dan tak pernah sholat berjamaah bersama istrinya. Meskipun ia tau, bahwa mereka berjamaah bersama orang-orang lainnya di dalam sana.
Hanya beberapa menit Akbar menunggu dan kedua orang itu keluar dari sana. Bisa di lihatnya wajah Kirana mulai gelisah karena malam sudah datang. Tapi yang tak di duganya lelaki itu mengusap pelan puncuk kepala istrinya dan meraih tangan lentik itu untuk segera masuk mobilnya.
Dengan dada yang semakin sesak, Akbar kembali melajukan mobilnya. Hingga tak lama mobil yang ia ikuti berhenti di sebuah cafe yang besar dan terkenal berkelas di seluruh penjuru kota. Gaya elegan khas orang berkelas dengan warna dominan biru dan putih gading adalah interior di dalamnya.
Kirana dan lelaki itu turun dan masuk ke cafe. Dengan amarah yang sudah tak terbendung lagi, Akbar turun dari mobilnya. Berjalan dengan langkah panjang agar segera sampai ke tempat istrinya.
"Asal lo tau, reputasi gue itu sangat penting!"
Akbar terhenti ketika suara Kirana terlintas di otaknya.
"Gak mudah bisa dapat popularitas kayak sekarang. Jadi tolong! Menjauh dari gue!
Jangan pernah menampakkan diri dan mengaku suami seorang Kirana!"
__ADS_1
Masih jelas terlintas bentakan itu saat ia tak sengaja muncul ketika Kirana tengah video call bersama sahabatnya. Akbar mengepalkan tangannya dengan erat lalu memejamkan mata. Berbalik arah dan segera pergi dari sana. Karena ia tau satu hal, Kirana akan semakin tak suka padanya atau bahkan membencinya jika ia muncul di sana.
Tepat setelah Akbar pergi dari sana. Tiga gadis berhijab dengan kecantikan di atas rata-rata masuk ke cafe itu.
"Surprise!"
Kirana berjengit kaget lalu menangkup mulutnya dengan tangan. Mengerjap beberapa saat menatap ketiga sahabatnya yang tiba-tiba datang membawa cake cokelat dengan lilin di atasnya.
"Happy birthday!" ucap ketiga wanita itu sembari mendekat ke arahnya. Kirana menoleh pada lelaki yang di sebelahnya. Menatap lelaki itu dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu yang nyiapin ini Ga?" tanya Kirana dengan mata terus menatap lelaki di sebelahnya.
"Ya elah, nih cewek nyebelin amat yak!" suara khas dari wanita dengan pashima hijau cerah itu membuat Kirana menatapnya. Wanita dengan nama Mia.
"Iya, padahal yang nyiapin ini tuh bukan Raga aja!" sahut Dita dengan mencebikkan bibirnya.
"Ngapain lo senyam-senyum? gue pulang karena juga ada urusan yaa!" ucap Mia congkak namun justru membuat ia terlihat menggemaskan di mata Kirana. Karena wanita itu merindukan Mia yang selalu saja berbicara dengan nada congkak dan setengah berteriak.
"Gerah gue lo peluk-peluk!" protes Mia namun sama sekali tak meronta atau mencoba melepaskan pelukan Kirana.
"Gue kangen banget sama lo!" ucap Kirana dramatis. Astaga, bahkan ia lupa kapan mereka kumpul seperti ini bersama.
"Gue ikut!" seru Dita girang. Di ikuti tangannya yang melingkar pula. Memeluk dua temannya begitu pula Nila yang tanpa berucap apapun juga langsung memeluk mereka.
"Ehem!"
Suara deheman itu membuat mereka melepaskan pelukan dengan tema kangen-kangenan.
"Alay amat dah!" cibir Raga sarkasme.
__ADS_1
"Kenapa si lo sirik amat! ntar kalau mau dipeluk Kirana. Lamar dulu makanya!" sahutan dari Mia membuat Raga salah tingkah begitu pula Kirana.
"Udah-udah kita makan dulu yaa!" ucap Dita sembari memanggil pelayan di sana. Mereka lalu terlibat perbincangan mengasikkan dengan tema nostalgila SMA. Iya, nostalgila bukan nostalgia. Kegilaan mereka ketika saat menjadi siswi di sekolah menengah atas favorit di kota sana. Sementara lelaki bernama Raga hanya sesekali menimpali tapi tak pernah melepas tatapannya dari wajah bahagia Kirana.
Wanita yang sejak SMA mengisi hatinya. Bahkan wanita itu semakin cantik dan terlihat sempurna di matanya. Wanita yang tanpa sengaja membuat ia terlibat dalam suatu peristiwa dan berakhir bahagia. Raga hanya tau satu hal, Kirana adalah takdirnya.
Cafe ini memang meletakkan meja-meja agak jauh agar dapat memberi keleluasan pada pelanggan untuk bercengkrama. Begitu pula dengan Kirana dan ketiga temannya serta Raga.
"Jadi kapan nih mau lamaran?" tanya Nila polos sembari menatap Raga. Sedangkan lelaki itu dengan mata yang masih menatap Kirana. Gadis yang terlihat semburat merah di pipi itu karena merona, Raga berucap dengan santainya. "Secepatnya!"
"Ya elah jawabannya ambigu!" kelakar Mia yang memang selalu dikenal suka sinis dan menyindir adalah ahlinya. Kirana menelan saliva. Sementara Dita diam tak bersuara
"Lo serius Ga?" tanya Dita pelan dengan nada keraguan. Raga mengalihkan tatapannya. Menatap Dita dengan sorot mata tak suka.
"Maksud lo apaan nanya gitu?" tanya Raga lagi dengan alis yang bertaut.
"Gue bukan cowok yang gak bisa megang omongan yaa! Kirana bakalan jadi istri gue bentar lagi!" imbuhnya dengan nada kebahagiaan. Sorot matanya bahkan berbinar menatap Kirana.
Dita memperhatikan raut wajah Kirana yang merona. Sementara Mia mulai merasa ada sesuatu yang janggal di sini. Sejak tadi Kirana hanya diam dan tak mengomentari ucapan Raga. Karena gadis itu entah mengapa merasa gelisah dan satu nama terlintas di dalam benaknya. Sang suami, Akbar Giandra Bratajaya.
Bersambung
Selanjutnya ada aja kok penjelasan maksud dari ucapan mereka tentang Raga dan Kirana waktu SMA 😉
Likenya yaa !
Komentarnya jangan lupa !
Votenya juga kalau lebihan, bisa disumbangkan di sini yaa, 10 aja sangat berarti bagi Zaraa ^^
__ADS_1