
"Lagian itu kopi buatan istriku yang pertama dan mungkin aja jadi yang terakhir juga," ucap Akbar dengan nada kecewa.
Kirana membeku. "Jadi itu alasannya lahap memakan nasi asinku dan kecewa tentang kopi yang kubuang itu?" gumamnya dalam hati
Berdecak pelan sebentar tapi memilih menghiraukan apa yang baru saja suaminya katakan. Wanita itu membereskan meja makan. Akbar sendiri yang merasa dihiraukan segera menuju ruangannya. Kembali fokus untuk menulis beberapa kata hingga menjadi paragraf sempurna yang membuatnya merasa bahagia. Karena berhasil mendapatkan uang tentu saja.
Sementara Kirana setelah membereskan dapur, wanita itu berpikir sesaat. Sebenarnya siapa yang membereskan seluruh apartemen ini? Apa Akbar? Kirana mengerjap tak percaya. Tempat ini cukup luas dan selalu bersih. Wanita itu kemudian kembali membuatkan sang suami secangkir kopi. Kali ini hanya mencampurkan sangat sedikit gula.
Setelah selesai, Kirana mengetuk ruang pribadi Akbar yang di sahuti teriakan dari dalam.
"Masuk! gak dikunci!"
Kirana masuk ke dalam ruangan pribadi sang suami. Berdecak kagum dengan interior elegan dengan warna kesukaan Akbar. Hitam dan dipadukan sedikit warna kecokelatan. Ruangan yang terlihat cukup besar. Terdapat hanya satu sofa panjang, meja besar lengkap dengan kursi yang saat ini di duduki Akbar.
"Dek?" suara itu membuatnya tersadar. Kirana lalu meletakkan kopi di meja Akbar tanpa berkata apapun. Sempat dilihatnya wajah Akbar tersenyum lebar. Wanita itu menautkan kedua alisnya. Padahal hanya kopi bisa sesenang itu yaa? pikirnya.
Kaki Kirana berhenti tepat di sebelah meja sang suami. Matanya berbinar cerah ketika menatap pemandangan yang luar biasa. Gedung-gedung yang besar menjulang tinggi adalah pemandangan yang ada di hadapannya. Pantas saja Akbar betah di sana berlama-lama. Cukup indah melihat keramaian kota dari atas sana. Hingga wanita itu tersentak ketika merasa pelukan dari sang suami yang tiba-tiba.
Akbar memeluknya dari belakang. Menjatuhkan kepalanya di bahu Kirana. Lalu berkata, "Makasih yaa Dek," ucapnya dengan kedua sudut bibir terangkat sempurna.
"Yang bersihin apartemen ini siapa Bang biasanya?" tanya Kirana tiba-tiba tanpa menjawab ucapan terima kasih dari suaminya.
Masih dengan kedua tubuh yang melekat dekat, Akbar berucap, "ART Umi biasanya satu kesini. Orangnya ganti-ganti dan bersihin ini dua hari sekali."
Kirana ber-oh ria tanpa suara. Hingga tersadar bahwa harus berangkat mengurus kepindahan agencynya. Ia lalu melepaskan tangan Akbar di pinggangnya dan berkata. "Mau berangkat sekarang."
Akbar menatap sang istri lalu mengulurkan tangannya di hadapan Kirana. Wanita itu mengerjap sesaat kemudian mendengus kesal. Tapi akhirnya menyaut juga tangan Akbar dan mencium punggung tangan itu dengan perasaan nyaman.
Setelah terlepas, secepat kilat Akbar meraih pinggang Kirana dan mengecup mesra kening istrinya. Kirana mengerjap kaget dengan kedua pipi yang merona.
"Hati-hati sayang ...." ucap Akbar lembut yang di balas Kirana dengan senyuman.
***
__ADS_1
Setelah menyelesaikan berbagai urusan mengenai pekerjaannya, Kirana menuju ke rumah Keluarga Cakrawangsa. Dirinya baru saja mendapat kabar dari sang adik Puspa, bahwa ayah sedang sakit sekarang.
Wanita itu bergegas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena khawatir pada ayah Haris yang memang sudah mulai tua.
Sesampainya di halaman depan rumah. Kirana langsung berlari masuk ke rumah ayahnya. Kirana menghela napas lega ketika melihat ayahnya di ruang keluarga baik-baik saja. Lelaki paruh baya itu nampak fokus pada ponselnya dan tak menyadari kehadiran Kirana.
Haris yang sedang memeriksa harga saham dunia mulai merasa ada yang memperhatikan. Lalu mengedarkan pandangan dan melihat putrinya tengah menatapnya dengan senyuman lebar. Tidak, itu seperti senyum ejekan.
"Katanya sakit! tapi kok baik-baik aja yaa," gumam Kirana pelan. Haris mendengus kesal.
"Ayah cuma sakit belum mati!" sahutnya dengan nada tinggi. Kirana mencebikkan bibirnya sembari menahan tawa dan keributan mereka berhasil membuat bunda keluar dari kamarnya. Wanita itu sudah menduga, bahwa yang membuat suaminya berteriak adalah Kirana. Jika ayah dan anak biasanya terlihat penuh kasih dan mesra. Berbeda untuk Haris dan Kirana. Seringkali perdebatan dan perkelahian kecil mewarnai hari mereka. Tapi tentu tak mengurangi kasih sayang antar keduanya.
"Kirana sendirian kesini?" tanya Bunda sembari mendekat pada putrinya.
"Iya, Kirana ngebut tau gak waktu kata Puspa ayah sakit," sahutnya dengan nada menggerutu lalu kembali berkata. "Ternyata baik-baik aja."
Haris menatap tajam putrinya "Terus? kamu mau ayah kenapa napa gitu?"
"Ayah emang lagi kurang sehat," ucap Bunda yang membuat Kirana menatap ayahnya kemudian sang bunda.
"Udah di periksa ke rumah sakit?" tanya Kirana yang membuat ayah tertawa.
"Sok perhatiaaan! bau-bau mencurigakan."
Kirana berdecak kesal lalu duduk di sebelah sang ayah. Menatap tajam lelaki di hadapannya dengan melipat kedua tangan di depan dada.
"Pasti diabetes ayah kambuh lagi 'kan?" tanya Kirana dengan tajam. Ayahnya menghiraukan dan kembali asik dengan ponselnya.
"Ayah tuh emang susah yaa dibilangin."
"Ayah harusnya gak boleh makan manis-manis mulu. Jaga pola makan sehat."
"Harus bisa jaga kesehatan."
__ADS_1
"Udah tua juga! bau tanah 'kan."
Haris mendelikkan mata lalu menatap istrinya. "Bun, anak kamu ini berisik banget. Pake ngehina lagi," gerutunya kesal.
"Udah sana jangan ganggu ayah!" usirnya dengan melototkan mata. Kirana masih duduk dengan gaya angkuhnya.
"Dibilangin juga. Kesehatan ayah tuh penting ntar kalau ayah kenapa kenapa gimana Bunda, Kirana sama Puspa?" nada suara Kirana yang gemetar membuat Haris kembali menatap putrinya. Mata itu berkaca-kaca. Kirana berdehem pelan. Entah mengapa ia begitu perasa hari ini.
"Iya, ayah berusaha ngatur pola makan sehat dan jaga kesehatan," sahut Ayah Haris lalu membawa Kirana ke pelukannya. Mengusap pelan punggung putrinya Hingga sentuhan bunda di kepala Kirana membuat wanita itu melepas pelukan ayahnya.
"Kamu kenapa? ada masalah sayang?" tanya Bunda lembut yang dibalas putrinya dengan gelengan kepala. Kirana sendiri tak mengerti, Hatinya terus kesal sejak Akbar mengatakan hal-hal mengenai perpisahan seperti tadi pagi yang melibatkan secangkir kopi.
"Ya udah kalau gitu, Akbar kenapa gak ikut?" tanya Bunda lalu ikut duduk di sebelah Kirana. Wanita itu jadi diapit kedua orang tuanya.
"Tadi habis ada urusan langsung kesini," sahut Kirana pelan. Ia mendesah pelan dan matanya begitu terlihat resah.
"Raga udah balik," ucap Kirana yang membuat bunda dan ayah terkesima. Kedua orang tuanya jelas tau mengenai Raga. Lelaki yang menyelamatkan putrinya dan tau pula tentang keinginannya dulu untuk menikahi Kirana.
"Kirana bingung ...." ucap Kirana dengan pelan. Bundanya mengelus pelan punggung Kirana.
"Cerita aja sayang. Kasih tau kami kegelisahan Kamu ...." ucap Bunda lembut.
"Pernikahan Kirana sama Abang 'kan terpaksa," ucap Kirana dengan nada pelan. Ia menjeda ucapannya sesaat lalu kembali berucap, "Kalau Kiran gugat cerai Abang dan nikah sama Raga gimana?"
Kedua orang tuanya terkesiap.
Bersambung
Jangan lupa like dan komentarnya yaa ❤
Kasih komentar biar Zaraa semangat up-nya.
Kasih like biar Zaraa makin rajin up-nya ^_^
__ADS_1