Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa

Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa
Pesta Pernikahan 1


__ADS_3

Ballroom Hotel Bratajaya yang dipakai untuk pesta penikahan Randy Giandra Bratajaya dan Puspa Purwa Cakrawangsa terlihat sudah ramai dengan hadirnya para tamu undangan yang terdiri dari para pemilik saham dan keluarganya, sebagian relasi bisnis dan sebagian besar lagi para karyawan Bratajaya's Group


Ruang ditata sedemikian elegan, dengan musik klasik mengalun lembut dari tuts-tuts piano yang dimainkan seorang pianis terkenal. Beriringan dengan suara biola.


Berjajar berbagai jenis makanan di atas meja yang berbalut kain putih elegan dan di meja bundar terlihat gelas-gelas tersusun rapi.


"Selamat yaa Puspa!" teriakan dari Dita membuat Kirana yang tak jauh dari pelaminan adiknya menggelengkan kepala. Gadis itu lalu mengedarkan pandangan. Suasana yang menyenangkan tapi seperti ada yang kurang.


"Abang ...." gumamnya pelan. Kirana mengerjap heran. Mengapa ia terpikirkan Akbar? Hingga ia merasakan sebuah sentuhan.


"Ini Kirana Dad, istri Akbar," ucap Umi pada seorang lelaki dengan rambut yang sudah beruban. Umi lalu mengalihkan pandangan. Menatap Kirana lalu mengatakan sesuatu yang membuatnya menganga


"Ini kakek Akbar, Kirana. Ayah dari Abi," ucap Umi sembari tersenyum. Kirana menganga lalu mengatupkan dua bagian bibirnya untuk menelan saliva. Gadis itu menatap lelaki tua yang ada di hadapannya. Apa lelaki ini kakek kandung Akbar atau bagaimana?


Lelaki gagah dengan wajah Eropa dan aura yang berwibawa membuat gadis itu terpesona. Meski rambutnya berwarna putih semua dan sedikit kerutan di wajahnya menandakan beliau sudah tua namun tubuhnya terlihat sehat dan bugar saja. Kirana tersenyum manis lalu mengulurkan tangannya yang di balas juga oleh lelaki itu.


"Call me Papa." suara berat dan terlihat berkharisma.


"Kamu cantik Kirana, Papa tunggu kabar baiknya," imbuhnya kemudian yang membuat Kirana mengerjap heran. Sesaat kemudian Abi datang dan membawa lelaki tua itu entah kemana. Umi yang berada di sebelah Kirana nampak menahan tawa.


"Beliau memang awet muda dan suka di panggil Papa. Karena bagi Daddy sama saja dengan Grandpa." Umi menjelaskan dengan antusias pada menantunya.


"Kirana baru tau Mi, Abi berarti keturunan bule yaa?" ucap Kirana sembari mengerjap tak percaya. Umi tertawa.


"Emangnya gak nyadar yaa?" tanya Umi dengan senyumannya. Kirana menggelengkan kepala.


"Tapi emang mirip si sama Abi dan gak terlalu keliatan Abi bulenya mungkin karena sering pakai baju koko yaa?" gumam Kirana. Umi tergelak dengan gaya anggun yang luar biasa.


"Enggak juga sebenarnya. Abi itu darah campuran. Ayah darah Eropa dan ibu darah Asia."


"Darah campuran yang luar biasa dong Mi, perempuan Asia 'kan cantik alami," ucap Kirana yang sarat akan memuji.


"Iya, sama kayak Kamu dan Akbar," sahut Umi sembari tersenyum penuh arti. Kirana terdiam.


"Gak perlu di pikirin yaa maksud Papa tadi," imbuh Umi lagi. Kirana menatap Umi dengan menautkan alis tak mengerti.


"Maksud Daddy yang 'kabar baik' tadi," ucap Umi lagi. Kirana menelan saliva. Sekarang ia mengerti apa maksud Papa dan Umi. Maksudnya adalah BAYI.


"Ya udah Mi, Kirana mau cari Abang dulu yaa?" ucap Kirana yang berusaha menghindar dari pembicaraan tak enak ini. Dia seorang model dan belum membayangkan tentang kehamilan. Oh astaga bahkan ia dan Akbar belum melakukan hal itu. Suaminya itu terlalu lembut. Bahkan hanya karena air mata, ia menahan hasratnya.


"Iya, tapi jangan buru-buru juga bikinnya," sahut Umi yang membuat Kirana merona. Astaga, sepertinya ia harus membiasakan memiliki Umi yang agak frontal. Tak seperti bundanya yang lebih kalem dan hanya berbicara seadanya.

__ADS_1


Kirana berjalan menuju lift. Naik ke lantai tempat kamar Akbar. Kamar yang dulu membuatnya menangis ketakutan karena kegelapan dan tenang hanya karena pelukan Akbar.


Kirana ingat dulu, bahkan saat Ayah dan Bunda di sisinya tapi kegelapan mengambil alih ruangannya Kirana tetap akan berakhir dengan pingsan. Gadis itu jadi senyum-senyum sendiri dan tak menyadari bahwa ada yang memperhatikannya sejak tadi.


***


Tok!


Tok!


Tok!


"Berisik banget sii!" gerutu Akbar sembari menatap pintu kamarnya. Jika di balroom hotel, orang-orang asik dengan pesta. Akbar lebih memilih duduk di balkon kamarnya dengan buku sebagai penghibur dirinya.


Ketukan itu terdengar lagi. Akhirnya, Akbar berjalan dan membuka pintu tersebut. Tubuhnya menegang saat menatap wanita yang ada di hadapan.


"Akbar ...."


Akbar tersadar lalu ingin menutup pintu lagi tapi wanita itu menahannya dengan lancang.


"Akbar ini Kamu 'kan?" tanya wanita itu dengan mata berkaca-kaca.


"Aku udah cerai Akbar," potong wanita itu dengan cepat. Wanita cantik dengan mata hitam lekat dan rambut panjang bergelombang.


"Aku ke sini di undang Randy," ucap wanita itu lagi.


"Pestanya gak di kamar ini," sahut Akbar cuek lalu berbalik. Tubuhnya membeku saat sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Tangan mungil yang dulu sering di genggamnya.


"Akbar maafin aku ...." ucap wanita itu dengan isakan tertahan.


"Aku udah ninggalin Kamu cuma karena kecelakaan yang merenggut wajah kamu," imbuhnya dengan isakan pelan. Akbar terdiam hingga sebuah deheman keras membuatnya membalikkan badan.


"Kirana ...." gumam Akbar pelan.


"Mohon maaf Mbak, gak boleh berduaan nanti yang ketiga setan," ucap Kirana dengan senyum yang menyeramkan. Wanita itu spontan melepaskan pelukannya dengan pipi memerah malu. Lalu dua pria dengan status keamanan datang dengan tergesa.


"Antar Mbak ini ke tempat pesta. Dia nyasar kayaknya," titah Kirana lembut. Dua lelaki itu meminta sopan sang wanita tadi yang masih diam tak bersuara untuk berjalan ke pesta. Wanita itu berbalik saat Kirana menyentuh pundaknya.


"Lain kali tolong bedakan pelukan laki-laki yang bukan mahramnya sama pesta yaa," ucap Kirana dengan penuh penekanan. Lalu mengibaskan tangannya pelan agar keamanan segera membawa wanita itu pergi dari sana.


Saat hanya sisa berdua, jangankan berusaha menjelaskan lelaki itu justru berjalan ke balkon kamarnya. Menatap langit-langit malam yang seolah selalu tenang meski banyak bertaburan bintang-bintang. Malam yang terlihat elegan.

__ADS_1


"Ayo ke pesta Bang," ucap Kirana ketus dengan gaya ogah-ogahan. Akbar masih diam tanpa mengalihkan pandangan.


"Ngapain si ngeliatin bintang, cantikan juga nih bulan di anggurin malahan," ucap Kirana kesal. Akbar berdecih pelan lalu duduk lagi di kursi malas di balkon itu. Kirana menatapnya dengan geram.


"Di bawah itu pesta pernikahannya adik kita. Seenggaknya pikirin perasaan mereka!" bentak Kirana kesal. Akbar masih bergeming di tempatnya.


"Papa juga datang loh!" imbuhnya tepat di wajah Akbar. Ia menatap Akbar dengan sengit. Suaminya justru menatapnya dengan datar.


"Papa udah kesini tadi." jawaban dari Akbar tentu saja tak membuat Kirana menyerah. Bagaimana pun ia harus bisa membawa Akbar ke pesta. Ini adalah waktu yang tepat untuk memberitahukan semua orang bahwa Ardi Giandra Bratajaya punya dua putra bukan hanya Randy saja.


Kirana tau, Umi dan Abi tak memaksa Akbar untuk keluar dan bertemu semua orang karena tak ingin menekannya dengan sorot mata para orang yang kasihan saat menatapnya. Sementara Akbar sebaliknya. Takut bahwa kehadirannya akan membuat keluarganya malu padahal kenyataannya tak seperti itu.


"Bang ...." ucap Kirana pelan. Akbar memusatkan perhatiannya kali ini pada sang istri karena biasanya Kirana membentaknya tak berbicara pelan seperti sekarang. Aneh bukan?


"Umi pengen abang ke pesta," ucap Kirana dengan nada meyakinkan.


"Lagian, abang tuh keren kayak superman," imbuhnya dengan tawa pelan. Akbar menatapnya dengan sorot mata penuh arti. Kirana lalu mendaratkan tubuhnya dan duduk di pangkuan Akbar. Suaminya tentu saja terkejut di buatnya. Tangan lentik itu menyentuh topeng Akbar dengan tatapan terkunci pada mata sang suami.


"Jangan kecewain kami semua Bang," ucap Kirana dengan sorot mata kecewa.


"Ini hari bahagia, Abang harus hadir di sana," imbuhnya dengan penuh penekanan. Akbar terdiam. Sesaat hening mengambil alih sekitar mereka. Tanpa menahan rasa gejolak di dada, Akbar menarik tengkuk Kirana dan menyatukan bibir mereka.


Mata Kirana membulat sempurna lalu mulai memejamkan mata. Akbar melumatt lembut bibir manis itu. Semakin mengikis jarak tubuh mereka karena tadi Kirana agak menjaga jarak darinya meskipun duduk di pangkuannya. Tangan Kirana melingkar di leher suaminya. Semakin memperdalam ciuman mereka. Hingga tautan itu terlepas karena mereka sama-sama kehabisan napas.


Akbar memejamkan mata dengan menyatukan dahi mereka. Lalu menbuka mata dan memperhatikan penampilan Kirana yang sangat cantik dengan gaun muslimah dan membuatnya terlihat elegan.


"Aku gak bisa ...." ucap Akbar pelan.


"Nanti ngacauin acara Randy sama Puspa," imbuhnya dengan mata berkaca-kaca. Sebagian orang sebenarnya tau tentang Akbar. Itu akan membuatnya menjadi bahan obrolan dan membuat suasana pesta di sana menjadi kurang nyaman dan tak lagi menyenangkan.


"Semua orang punya malu Bang," ucap Kirana pelan. Lalu kembali melanjutkan ucapan. " Bahkan untuk manusia yang hampir sempurna. Tapi kalau kita hidup cuma mikirin apa kata mereka, Aku rasa gak ada habisnya."


Kirana meraih wajah Akbar dan menatap dalam mata tajam itu sembari tersenyum menenangkan.


"Kehadiran abang gak akan bikin kacau acara justru membuat pesta itu semakin berwarna."


Bersambung


Manis banget si kata-kata Kirana 😂


Like dan komentarnya yaa ^^

__ADS_1


__ADS_2