
Kirana sedang memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam koper. Tak banyak. Hanya beberapa saja. Wanita itu kemudian duduk di tepi ranjangnya. Menatap kembali layar ponsel yang menampakkan nomor sang lelaki yang tengah dirindukannya.
"Apa Abang ganti nomor yaa?" gumamnya sendiri. Setiap waktu, Kirana mencoba menghubungi laki-laki itu. Tapi hasilnya selalu sama. Tak pernah tersambung sama sekali.
Kirana mendesah kecewa. Bola matanya terlihat berkaca-kaca. Hingga saat berkedip, bulir bening jatuh membasahi netra. Kirana lekas menyeka air matanya. Meletakkan ponsel di nakas lalu membaringkan tubuhnya. Menangis lagi dalam diam. Entah mengapa, Kirana merasa begitu cengeng akhir-akhir ini. Beberapa kali berusaha berhenti menangis, tapi tak bisa. Hingga ia terlelap dalam keadaan pipi basah akan air mata.
***
Keesokan harinya.
Kirana menghela napas berat ketika menatap rumah keluarga Bratajaya. Ya, ia harus meminta maaf pada Abi dan Umi karena telah menghina putra mereka. Bagaimana pun, Kirana membuat kedua keluarganya menjadi bahan tontonan.
Dengan langkah yang pasti, ia melangkah ke dalam. Mengucapkan salam dan di sambut oleh ketua pelayan.
"Abi sama umi, ada?" tanya Kirana.
"Ada, lagi di ruang keluarga."
Kirana meletakkan kopernya di ruang tamu. Lalu menuju ruang keluarga. Wanita itu melihat Puspa juga ada di sana. Mereka terlihat bercengkrama. Meskipun terlihat umi nampak ikut tertawa. Tapi Kirana melihat kekhawatiran di sorot matanya. Mungkin wanita itu memikirkan pernikahan putra sulungnya?
Kirana mendekat, hingga ketiga orang itu menyadari keberadaannya. Umi mendengus kesal lalu berjalan pergi dari sana menuju kamarnya. Di ikuti Puspa karena ingin membujuk sang mertua. Namun Abi masih di sana dan Kirana mulai berbicara pada laki-laki itu yang selalu di jawab dengan datar dan dingin seolah Kirana adalah orang yang asing. Hingga saat ia minta maaf mengenai hari itu.
"Hal ini bukan sepenuhnya kesalahanmu, ini juga kesalahan Abi yang memaksa kalian menikah."
"Lupakan segala hal yang terjadi Kirana."
Kirana menautkan alisnya sembari berkata, "Maksud Abi apa? Kirana mau memperbaiki semuanya Bi, Kirana mau Abang kembali."
__ADS_1
Abi terkesiap mendengarnya. Tanpa menjelaskan secara rinci, Kirana lantas berpamitan pada sang mertua. Sekarang, saatnya ia berjuang untuk membawa Abang. Wanita itu memiliki sorot mata keyakinan bahwa Akbar juga memiliki perasaan yang sama.
Saat Kirana membawa kopernya dan bersiap masuk ke taksi. Teriakan Randy yang baru datang menghentikannya.
"Mbak diantar sama Kang Wawan aja yaa. Aku gak bisa ngantar karena ada urusan."
Kirana menggelengkan kepala namun Randy tetap memaksa dan menyuruh taksi itu pergi saja. Hingga saat Kirana sudah pergi di antar Kang Wawan. Sopir pribadi keluarga Bratajaya. Randy masuk ke rumahnya.
Mendengar bagaimana gerutuan wanita yang melahirkannya mengenai Kirana. Randy melirik Puspa yang nampak tertunduk mendengar bagaimana kakaknya di bicarakan sang mertua.
"Umi ...." ucap Randy pelan. Dengan sorot mata laki-laki itu memberitahu ibunya. Bahwa setidaknya. Wanita itu memikirkan perasaan Puspa. Namun Umi nampaknya tak mengerti. Abi juga diam saja.
"Minta Abang kembali katanya? terus disakitin lagi sama dia? Umi gak mau yaa Bi, Perempuan itu datang lagi ke rumah kita!"
"Umi!" sentak Randy sembari meninggikan suara namun tetap berada dalam nada di bawah Uminya.
"Gak usah pake ngebela segala! Astaghfirullah sakit kepala mikiran Abang sama Kirana." Umi mengusap kasar wajahnya. Sementara Randy menggelengkan kepala.
"Aku gak ngebela siapa-siapa," sahut Randy ketus lalu kembali berkata, "Aku ngelihat gimana Mbak Kirana bener-bener merasa bersalah. Bahkan berani ngejar Abang di bandara. Hari ini juga mau nyusul Abang ke rumah Papa. Jarang banget, 'kan perempuan kayak Mbak Kirana di zaman sekarang?"
Randy mendekati Puspa dan ingin membawa wanita itu ke kamarnya. Ia datang ke rumah karena Puspa yang memintanya. Hingga suara Abi menghentikan langkah keduanya.
"Apa kata kamu tadi Ran?" tanya Abi dengan sorot mata tak percaya.
"Lho? Abi gak lihat apa koper besar Mbak Kirana. Sekarang lagi di anterin sama Kang Wawan ke bandara."
Mata Abi membulat sempurna. Menatap jam tangan yang ada di pergelangan. Memastikan bahwa sang menantu mungkin baru setengah perjalanan ke bandara. Abi meminta Randy cepat menelpon Kirana dan minta agar batalkan penerbangannya. Meski Randy bingung namun ia menurut saja.
__ADS_1
***
Sementara itu, Kirana yang masih dalam mobil bersama Kang Wawan menerima telpon dari Randy. Mendengar Abi meminta agar ia kembali dan membatalkan penerbangannya. Kirana lantas bertanya.
"Kenapa?" tanya Kirana dengan mata berkaca-kaca. Apa Abi dan Umi ingin melarangnya rujuk bersama sang suami?
Kirana kemudian mendengar suara Abi yang memintanya untuk berhenti. Suara itu begitu lembut membujuknya namun membuat Kirana menitikkan air mata.
"Gak bisa Bi, Kirana mau segera ketemu Abang. Saat kami sudah menyelesaikan permasalahan kami sendiri baru habis itu Kirana ke rumah Abi lagi." Kirana tersentak kemudian saat sopir itu menginjak rem secara mendadak.
"Kenapa Kang?" tanya Kirana lalu menautkan alisnya saat melihat mobil yang menghalangi jalan mereka. Kebingungan seketika menghampirinya.
Mata Kirana membulat sempurna ketika melihat banyak laki-laki berbadan besar seperti pengawal menghampiri mereka. Kang Wawan keluar dari mobil di susul Kirana.
"Ada apa? kalian siapa?" Kirana bergetar ketakutan. Lalu matanya teralihkan pada sosok yang baru keluar dari mobil. Lelaki itu menyeringai berjalan ke arahnya. Kirana beringsut menjauh tapi dengan cepat laki-laki itu menarik tangannya.
"Lepas!" bentak Kirana sembari meronta. Wanita itu panik saat melihat sopir pribadi keluarga Bratajaya tengah dipukuli.
"Hentikan!" Kirana beteriak frustasi. Hingga baru menyadari bahwa telponnya masih tersambung dengan ponsel Randy. Laki-laki yang menarik tangannya langsung mematikan sambungan dan melempar ponsel Kirana entah kemana.
"Lo cuma milik gue Kirana!"
Kirana meronta sekuat tenaga tapi tenaganya tentu kalah dari Raga. Lelaki itu kemudian menampar Kirana. Hingga wanita itu pingsan dan Raga menyeringai senang.
Bersambung
Dukung terus Zaraa melalui like, komentar dan votenya. Banyakin komentarnya. Spam juga gak papa😌 Terimakasih atas apresiasi dari kalian semua ❤
__ADS_1