Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa

Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa
Akbar yang Malang


__ADS_3

LIKE DULU SEBELUM BACA PLIS!


Happy reading ^_^


***


"Kirana!"


"Udah lama yaa?" dua gadis di hadapannya tersenyum manis. Kirana kemudian duduk di meja yang sama dengan mereka.


"Enggak, baru aja," sahut Dita.


"Kalau Nila udah lama," imbuhnya sembari melirik gadis di sebelahnya.


"Emang sengaja lebih awal datang." gadis dengan nama Nila itu memiliki manik mata hitam besar dan bulat. Tapi kadang tak terlalu terlihat karena terhalang kaca mata berbentuk segiempat. Memberikan kesan cerdas dan memang kenyataannya seperti itu.


"Kenapa?" tanya Kirana sembari mengedarkan pandangan. Mereka sedang di cafe biasa tempat mereka bertemu. Cafe dengan interior khas style milenial namun terdapat beberapa nilai Islam.


Di dinding cafe ini terdapat beberapa kaligrafi dan dalil, baik Al-Quran maupun hadits tentang makan dan minum serta adab berteman sebagai sesama kaum nabi Muhammad maupun teman sebangsa se-negara. Yap, beberapa remaja non muslim juga sering kesini. Mungkin karena tempat yang nyaman dan jauh dari keramaian. Menimbulkan suasana menenangkan.


Sebuah pelayan mendatangi mereka dengan nampan yang sudah berisi cemilan serta minuman.


"Lo mau makan Kiran?" Kirana menggeleng. Ia menatap heran Nila yang asik dengan ponselnya.


"Cemilan ini aja. Gue udah makan." Kirana mencomot kentang dan memasukkannya pada mulutnya.


"By the way, siapa nama sepupu cowok lo yang kemaren? Kelihatannya ganteng juga." Dita tersenyum menggoda. Kirana membulatkan matanya. Lalu menyadari, mungkin karena Dita hanya melihat dari belakang. Kirana jadi ingat saat ia tak sengaja menabrak Akbar. Lelaki itu memang terlihat memiliki tubuh yang kekar. Kalau dilihat dari belakang, memang tampan.


"Sejak kapan lo punya sepupu cowok?" tanya Nila dengan alis yang bertaut.


"Sejak dulu," sahut Kirana asal.


"Siapa namanya?" Kirana menelan saliva. Lalu menatap bergantian dua sahabatnya.


"Kok kepo banget sih! Dia udah punya istri." Dita dan Nila saling pandang bingung. Mereka cuma nanya nama 'kan?

__ADS_1


"Lagian ngapain sih dari tadi Nil, waktu ngomongin cowok aja langsung ikut nimbrung."


"Lagi baca ini!" Nila membiarkan Dita melihat layar ponselnya.


"Eh, yang nanya kan gue. Kok malah ke Dita?" Nila tertawa kecil.


"Karena lo pasti udah tau ini." Kirana menautkan alis. Lalu mengambil ponsel Nila dan melihat layar di sana. Sebuah berita online dari website yang terkenal terpercaya seantero Indonesia.


Ijab Qobul tertutup Randy Giandra Bratajaya dan Puspa Purwa Cakrawangsa


Judul berita di sana disertai dengan foto candid Randy yang seperti tengah mengucapkan ijab qobul dan Puspa yang memakai kebaya putih di sebelahnya. Lalu ia membaca keseluruhan berita hingga akhirnya gadis cantik dengan mata cokelat ini menghela napas lega.


Di berita tersebut di beritahu bahwa penikahan mereka sudah di laksanakan dua bulan yang lalu. Bisa di duga bahwa Randy yang mengatur segalanya agar anak mereka tak di sebut anak di luar nikah atau julukan tak baik lainnya. Mereka juga mengatakan baru akan di adakan pesta bulan ini.


"Kita gak di undang ternyata," gumam Dita dengan nada kecewa. Membuat Kirana bingung harus menjawab apa.


"Iya, kenapa sih harus nikah diam-diam gitu?" Nila menimpali


"Gak diam-diam kok, mereka cuma gak mau mempublikasikannya. Bagi mereka hubungan bukan konsumsi banyak orang." Kirana menatap kedua temannya.


"Lagian kalau gue undang kalian, emang bisa dateng?" tanya Kirana dengan nada mengejek. Kedua temannya memang biasanya sangat sibuk.


"Ijab Qobul nya cuma acara sederhana. Nah sekarang tanggal 25 ini pestanya. Datang aja yaa," ucap Kirana sembari tersenyum manis.


"Pasti," sahut Dita dengan semangat. Ia memang sudah sangat lama tak ikut pesta.


"Kasian banget kakaknya," celetuk Nila


"Haha!" Kirana tertawa sumbang.


"Maksud gue bukan lo, tapi kakak Randy." Kirana terdiam sedangkan Dita membelalakkan matanya.


"Randy Giandra Bratajaya 'kan? Sejak kapan dia punya kakak? Bukannya anak tunggal yaa?" pertanyaan bertubi-tubi dari Dita.


"Gak kok, memang sih dia gak terlalu keliatan di publik. Tapi Tuan Bratajaya punya dua putra."

__ADS_1


"Lo tau darimana coba?" tanya Kirana dengan tatapan mengintimidasi.


"Santai aja kalee Na, papa gue dulu koleganya tuan Bratajaya sekaligus temen akrab gitu. Papa tau langsung dari mulut Om Ardi."


"Kabarnya nih ya, namanya itu Akbar. Sering banget orang tuanya nyari cewek yang mau nikah sama Akbar tapi semuanya nolak," imbuh Nila sembari mencomot satu kentang goreng di hadapannya.


"Lho kenapa?" Dita nampak sangat antusias.


"Karena mukanya hancur." Dahi Dita berkenyit heran


"Kenapa gak operasi aja? Bukannya keluarga Bratajaya kaya yaa?" tanya Dita


"Gak semudah itu lah Dit!" Nila menoyor pelan kepala Dita.


"Apaan emangnya. Gue gak paham." Dita mengusap pelan kepalanya. Padahal sebenarnya tak sakit sama sekali.


"Berdasarkan pemikiran gue, wajah Akbar mungkin hancur banget. So, gak bisa di operasi dan perlu donor wajah. Kenyataan sebenarnya operasi itu gak semudah yang sering di bayangkan hampir semua orang," jelas Nila panjang lebar. Kirana hanya diam mendengarkan.


"Oh gitu yaa? Kasian banget," gumam Dita pelan.


"Iya, gak bisa ngebayangin dah kalau gue jadi Akbar. Parahnya lagi donor wajah itu sulit di cari. Kalau ada juga belum tentu cocok pendonornya."


"Akbar yang malang." Dita menimpali lagi


Kirana terdiam mencerna segala ucapan temannya Nila. Ada sedikit perasaan kasihan pada suaminya.


"Emangnya, hancur karena apa sih?" tanya Dita lagi.


"Assalamualaikum!"


Suara berat itu membuat mereka tersentak. Seorang pemuda tampan dengan kedua sudut bibir terangkat sempurna menatap mereka bertiga.


"Wa'alaikumsalam, duduk Mas," sahut Dita sembari tersenyum. Pemuda itu duduk di antara Dita dan Kirana. Aroma maskulin seketika tercium oleh hidung Kirana.


"Nah ini yang mau gue omongin sama lo Kirana!" ucap Dita sembari tersenyum manis.

__ADS_1


Bersambung


Maaf baru up yaa. Kemaren udah ngetik. Ternyata hilang. 😭 kesel banget. Jadi harus ngetik ulang :(


__ADS_2