Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa

Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa
Pesta Pernikahan 2


__ADS_3

Akbar mengepalkan tangannya dengan erat. Menatap gusar pada apa yang ada di depannya. Hanya beberapa langkah lagi, maka semua orang di pesta akan melihatnya. Entah karena rasa aneh yang ia rasa, Akbar melangkah pelan namun masih terlihat berwibawa. Lelaki itu tak menundukkan wajahnya dan bisa ia lihat bagaimana ramainya pesta pernikahan adiknya.


Tepat saat itu, musik klasik dari tuts-tuts piano berhenti dan Akbar menelan saliva saat semua orang menatapnya. Wajahnya mulai berkeringat dan baru menyadari mengapa semua orang menatapnya. Tidak, bukan dirinya. Tapi Kirana yang ada di sebelahnya.


Jangan lupakan kenyataan bahwa istrinya sekarang adalah model terkenal yang menghiasi berbagai majalah muslimah dengan senyuman cantiknya.


"Itu siapa?"


"Putra sulung Pak Ardi."


"Hah?"


"Kakaknya Pak Randy."


"Perasaan bukan pesta topeng deh." tawa geli terdengar.


"Wajahnya hancur. Makanya gitu."


"Kasihan."


"Kalau topengnya di buka justru bikin orang ketakutan."


Samar-samar ucapan itu masuk ke indera pendengaran Akbar dan Kirana. Akbar tak menundukkan wajahnya tapi raut wajah itu datar dan mengeras di balik topengnya. Ia membalikkan tubuh hingga sebuah tangan menahan pergerakannya. Bukan tangan Kirana tapi tangan lelaki yang memiliki darah yang sama sepertinya.


"Abang di sini!" ucap Randy girang setengah tak percaya. Akbar menautkan alisnya.


"Kok di sini, sana balik ke pelaminan," usir Akbar lalu melepaskan cengkraman tangan Randy di lengannya.


"Makasih Bang udah mau kesini," ucap Randy dengan sorot mata tulus. Menghiraukan ucapan kakaknya sebelumnya.


"Makasih Bang, ayo gabung sama yang lain." Puspa menimpali.


Akbar tak bergeming di tempatnya. Hingga tangan Randy kembali mencengkram lembut tangannya.


"Gak perlu pegang-pegang juga kali!" gerutu Kirana dan melepaskan tangan Randy pada lengan suaminya.


"Ya elah Mbak, sejak kapan posesif gini," kelakar Randy dengan tawa.


"Udah ayo, kita jadi pusat perhatian. Aku malu," ucap Puspa pelan. Ketiga orang itu menatapnya.

__ADS_1


"Beda banget kakak adek. Mbak Kirana cerewet yaa bang. Kalau Puspa kalem-kalem gitu." tanpa menunggu tanggapan siapapun, Randy kembali melanjutkan ucapan "Tukeran yuk Bang." spontan Kirana dan Puspa melotot di buatnya Sementara Randy menelan saliva saat tatapan tajam dan menusuk dari abangnya.


"Sialan kalian! cuma becanda!" kilahnya kesal lalu tertawa. Puspa menarik daun telinganya yang spontan membuat Akbar dan Kirana tak bisa menahan tawa.


"Rasain tuh kalem-kalem gitu!" kelakar Kirana puas


Sementara itu, di meja khusus keluarga Bratajaya dan Cakrawangsa. Grandpa atau biasa di panggil cucunya 'Papa' menatap ke empat orang itu dengan tersenyum geli.


"Mereka cocok banget ternyata," ucap beliau yang membuat semua orang duduk di kursi meja itu menatapnya. Abi tersenyum bahagia setelah sesaat terkesima melihat Akbar muncul di pesta. Mata Abi Ardi bahkan terlihat berkaca-kaca. Setelah bertahun-tahun lamanya. Orang-orang akan tau mengenai apa yang di alaminya putra sulungnya tapi ia tak akan membiarkan orang-orang membicarakan darah dagingnya. Sementara Umi yang duduk di sebelahnya berbisik pada Abi.


"Kirana menantu idaman banget 'kan," ucap Umi pelan. Abi mengiyakan.


***


Randy dan Puspa masih menyalami beberapa tamu yang seolah tak ada habisnya namun senyum Randy tak pudar dari wajahnya. Menunjukkan bahwa ia memang sangat bahagia. Abi Ardi mengenalkan abangnya Akbar pada beberapa relasi bisnis dan para pemegang saham perusahaan Bratajaya.


Dengan bangganya, beliau mengatakan bahwa Akbar selama ini menjadi penulis terkenal. Beberapa orang juga tak lagi menatapnya aneh karena saat tau status Akbar yang memiliki darah Bratajaya. Membuat beberapa orang takut-takut salah berucap atau bersikap padanya. Segala hal itu membuat rasa percaya diri Akbar menjadi ada. Meski tak tinggi tapi yang penting tak monoton di nilai nol saja.


"Capek banget Mas," keluh Puspa yang membuat Randy tersentak.


"Ya udah duduk dulu sayang," sahut Randy sembari tersenyum.


"Kakiku pegel banget ya ampun, sakit," keluh Puspa manja. Dengan sabarnya Randy berjongkok dan memijat lembut telapak kaki istrinya. Tentu saja membuat beberapa tamu menatap mereka dengan menggelengkan kepala tak percaya. Tak menyangka jika Randy yang sering terlihat tegas dan menakutkan di perusahaan menjadi bucin karena cinta.


"Ya ampun Akbar!" Akbar tersentak dan menatap Papa.


"Kamu tuh yaa, mata ngeliatin istri aja terus," ucap Papa dengan tawa pelan. Akbar tersenyum dan menatap lelaki yang mirip ayahnya.


Papa Jose memang ayah kandung dari Abi Ardi namun bercerai dengan istrinya saat Abi Ardi masih remaja. Hal itu membuat Abi mendapat nama Bratajaya karena kakeknya alias kakek buyut Akbar tak punya keturunan putra. Beliau hanya memiliki satu putri yaitu ibu Ardi.


Namun perceraian tak membuat mereka saling bermusuhan. Papa Jose sering mengirimkan uang untuk Abi Ardi meski tau, kekayaan dari keluarga mantan istrinya tak akan membuat putranya kelaparan.


"Papa akan mendoakan yang terbaik Akbar," ucap Papa pelan dengan sorot mata ketulusan. Akbar tersenyum senang. Abi memang sudah memberitahu Papa Jose tentang rencana transplantasi yang memang masih belum bisa dilakukan karena belum ada pendonor. Tapi Akbar sudah terdaftar menjadi calon penerima donor wajah.


"Makasih Pa," ucap Akbar pelan.


***


Acara pernikahan sudah selesai dan sekarang Puspa tepar di gendongan Randy suaminya. Di dalam lift itu ada Akbar dan juga Kirana. Mereka menuju lantai yang sama. Karena seperti Akbar yang punya kamar pribadi begitu pula dengan Randy. Dan tentu sama-sama kamar mewah VVIP.

__ADS_1


"Capek banget," keluh Puspa lagi.


"Banyak banget tamunya berapa ratus sih!" gerutunya sembari menatap sang suami. Randy menggelengkan kepalanya dengan polos.


"Kok gak tau!" ucap Puspa kesal. Randy menelan Saliva. Wanita hamil memang sangat aneh karena segala hormonnya.


"Kan itu tugas WO sayang dan dibantu Umi sama Abi," ucap Randy lembut menjelaskan.


"Mas kemana aja gak bantuin ngadain pesta kita?!" tanya Puspa sengit. Randy menelan saliva. Yang benar saja, ia tak pernah paham bagaimana pemikiran Puspa. Kalau ada WO mengapa ia harus repot juga? Lagi pula Puspa sendiri bahkan seolah tak peduli pada pesta mereka. Ia hanya rebahan dan goleran seharian. Kadang bermanja-manja hingga Randy harus membatalkan pertemuan penting yang berakhir kehilangan untung sekian puluh juta.


"Mas ketemu sama cewek yaa?!" tuduh Puspa terang-terangan. Mata Randy membulat sempurna. Tak taukah istrinya bahwa sekarang saja ia berjuang menahan bobot istrinya yang lebih berat karena sebab kehamilan juga. Di tambah di omeli seperti saat ini tanpa alasan yang jelas. Serta lift sialan yang mengapa terasa sangat lama tak terbuka juga!


"Jangan-jangan Mas main sama sekretaris di kantor ya?!" tuduh Puspa lagi kali ini dengan mata berkaca-kaca. Kirana hanya acuh saja atas pertengkaran kedua orang itu dan memilih memainkan ponselnya. Sementara Akbar menatap Kirana dan bertanya-tanya mengapa istrinya tak marah padahal tadi melihat ia dipeluk oleh seorang wanita yang sangat jelas tak di kenalnya.


"Enggak sayang Ya Allah ...." keluh Randy dengan menghela napas berat. Saat pintu lift terbuka dengan cepat ia melangkah menuju kamarnya. Begitu pula Akbar dan Kirana.


Saat sampai di kamar, Kirana langsung ke kamar mandi membersihkan diri. Setelahnya, Akbar masuk bergantian. Saat keluar kamar mandi. Akbar menatap Kirana yang masih asik dengan ponselnya. Istrinya itu memakai gaun yang tipis dan memamerkan bahunya.


Kirana yang tertawa karena beberapa postingan lucu lewat di beranda instagramnya tak menyadari bahwa Akbar sudah merebahkan tubuh di sebelahnya. Hingga kemudian menyadari dan mengerjap gugup menatap lelaki itu dengan kedua pipi merona.


Kirana lalu mengerjap heran saat melihat sorot mata Akbar yang menatapnya seperti sedang lapar. Ia menelan Saliva saat menyadari gaun tidurnya yang terbuka. Kamar pribadi Akbar tentu saja tersedia beberapa potong bajunya begitu pula dengan Kirana yang hanya menemukan gaun tipis ini di dalam lemari besar kamarnya. Nampaknya Kirana tau bahwa yang menyiapkan ini adalah Umi. Kali ini Kirana nampaknya tak bisa menghindar dari tatapan lapar Akbar.


"Kenapa?" tanya Akbar datar. Kirana mengerjap gugup lalu berkata. "Gak papa," sahutnya dengan terkekeh pelan.


"Dek ...."


Kirana menatap Akbar dengan sorot mata bertanya. Lelaki itu tersenyum. Senyuman yang baru Kirana lihat membuatnya terpesona sesaat.


"Makasih," ucap Akbar pelan lalu mengecup singkat bahu Kirana yang terbuka. Gadis itu tentu saja langsung merona.


"Makasih buat apa?" tanya Kirana masih dengan pipi merona. Akbar menatapnya dalam dan kembali berkata. "Karena udah ngembaliin kepercayaan diri Abang," sahut Akbar tenang. Kirana menggelengkan kepala dan mengunci tatapan suaminya.


"Ucapan itu harusnya Abang tujukan ke diri sendiri. Kirana cuma bantu selebihnya Abang sendiri yang berani keluar dari zona nyaman," ucap Kirana lembut.


Akbar terdiam lalu mengambil ponsel Kirana lalu meletakkan benda itu di atas nakas sebelah ranjangnya. Kirana mengerjapkan mata saat Akbar mulai mendekatkan wajahnya. Dan mulai menyatukan bibir mereka.


Lelaki itu melumatt bibirnya lembut dan dalam. Penuh perasaan di sertai kelembutan. Hingga ciuman itu semakin menuntut dan membuat Akbar tak bisa menahan hasratnya lagi.


"Abang ...." erang Kirana pelan saat bibir sang suami sudah tenggelam di leher jenjangnya.

__ADS_1


Bersambung


Like, komentar dan votenya jangan lupa ❤


__ADS_2