Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa

Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa
Wajah Yang Asing


__ADS_3

Seorang wanita terlihat tengah melamun di salah satu kamar kediaman Keluarga Cakrawangsa. Matanya nampak berkaca-kaca sembari mengusap perutnya yang sudah tak rata. Usia kandungannya sudah hampir tujuh bulan tapi orang yang dicintai masih tak kunjung datang.


"Nak ...." Suara dari sang bunda menyadarkan Kirana. Wanita itu mengulas senyum sembari menyeka air matanya.


"Sabar yaa," ucap sang bunda sembari mendekapnya erat. Kirana hanya diam tak menyahut.


"Makan dulu yaa?" pinta bunda lembut yang dijawab Kirana dengan anggukan cepat. Bunda menggandeng tangan Kirana sembari berjalan menuju meja makan yang berada di lantai satu rumah besar itu.


Sejak hari dimana semua tau bahwa Akbar tengah transplantasi wajah. Kirana menurut sekali. Tak membantah apapun yang dinasehati bunda atau umi. Sempat terjadi pertengkaran antara Abi dan Umi karena telah menyembunyikan hal sebesar ini. Mengingat hal itu, Kirana kerap takut. Karena semua tau bagaimana resiko ini begitu besar.


Meski Abi atau lainnya tak mengatakan bahwa tujuan Akbar adalah untuk Kirana. Wanita itu sendiri tau, setidaknya Kirana berpikir bahwa hinaannya dulu membuat Akbar memutuskan hal itu.


"Jangan ngelamun terus," tegur bunda lembut. Kirana tersadar namun hanya diam. Saat sampai di meja makan. Kirana melahap makanan yang tersaji di sana.


Wanita itu makan malam dengan hening. Sementara bunda menatap ayah dengan sorot mata penuh arti.


"Nak ....?" Ayah menatap sang putri sulung dengan sorot mata menenangkan.


"Ya?" sahut Kirana pelan sembari mengerjap heran.


"Besok kita ke rumah Bratajaya yaa? mereka ngundang kita untuk makan malam."


Raut wajah Kirana berubah cerah. Matanya berbinar penuh bahagia. Lalu berkata, "Kirana ke apartemen Abang yaa?" pintanya penuh harap.

__ADS_1


Bulan ini, Kirana belum menulis catatan kecil karena tak diperbolehkan oleh bunda terlalu sering kesana. Memang seminggu sekali, wanita itu mengunjungi tempat tersebut karena banyak kenangan bersama abang.


"Oke, makan yang banyak ya," sahut bunda sembari tersenyum. Kirana menatapnya.


"Tapi, Kirana mau sendiri di sana. Seharian besok yaa?" pintanya dengan sorot mata memelas. Bunda mengangguk cepat. Meski bingung, tak biasanya bunda langsung setuju karena takut jika Kirana sendirian tapi ia menghiraukan.


***


Kirana mengangkat kedua sudut bibirnya hingga sempurna saat melangkahkan kaki ke dalam apartemennya. Mata cantiknya menelesuri segala yang ada di sana.


Kirana melangkah ke kamarnya dan tak bisa lagi menahan air mata. Isak tangisnya semakin keras saat kakinya berhenti di balkon kamar. Tempat ia dulu bersama Akbar.


Kirana maupun orang tua Akbar tak bisa mengetahui kapan laki-laki itu akan kembali. Kabar terakhir yang ia terima, operasi sudah lancar tapi Akbar masih harus di rawat. Setau Kirana memang perawatan membutuhkan waktu beberapa bulan. Tapi rasanya sangat sulit menunggu laki-laki itu datang.


Kirana menyeka air matanya lalu menyenderkan tubuhnya. Perutnya yang sudah membuncit kadang membuat nyeri dipunggung. Perlahan wanita itu duduk di kursi malas yang terletak di balkon.


Kirana melangkah dengan mata terkunci pada sosok yang membelakanginya. Sosok itu menatap catatan kecil dan foto USG yang tertempel di dinding. Semakin dekat, aroma tubuhnya begitu lekat di indera penciuman Kirana. Aroma yang begitu dirindukannya. Mata Kirana berkaca-kaca.


Saat tubuh itu berbalik dan mata mereka terkunci dalam satu garis lurus, Kirana menahan napas. Wajah yang asing tapi Kirana tau siapa pemilik mata tampan yang sedang berkaca-kaca itu.


"Dek ...."


Tenggorokan Kirana terasa tercekat. Suara itu lalu ia menatap bibir orang yang ada di hadapannya. Aroma tubuhnya, matanya, bibirnya lalu suaranya.

__ADS_1


"Abang ...." lirihnya dengan isakan tertahan.


***


"Udah Mas," ucap Puspa sembari menatap lekat suaminya yang baru saja menelpon seseorang.


Puspa yang tengah menggendong bayinya itu menatap sang suami. Kirana maupun Puspa sudah tau, bahwa Randy berteman dengan Bagas Gerald untuk membalaskan penderitaan kakaknya.


Berteman, kemudian membuat lelaki itu menderita dengan segala tipuan Randy Giandra Bratajaya.


"Apa? aku hanya membantu kepolisian negara untuk membereskan manusia sepertinya," sahut Randy sembari mengedikkan bahunya acuh.


Randy melaporkan tentang bisnis kotor yang tengah di jalankan oleh Bagas. Lelaki licik itu yang sudah membuat kakaknya kehilangan wajah. "Ini yang terakhir Sayang," ucapnya pelan lalu mengecup dahi istrinya. Ia tau, Puspa dan Kirana tak suka Randy membalas kejahatan Bagas dengan kejahatan pula padahal lelaki itu sudah pernah di penjara karena perbuatannya pada putra sulung Bratajaya.


Tapi Randy merasa itu tak adil. Saat Akbar merasakan kehilangan wajah mengapa laki-laki itu hanya di penjara beberapa waktu saja.


"Beneran terakhir?" tanya Puspa lagi. Randy menganggukan kepala.


"Karena kasus ini, dia akan membusuk di penjara," gumam Randy dalam hati.


Bersambung


Jangan lupa likenya dan banyakin komentarnya yaa, tambahin juga votenya kalau ada 😌

__ADS_1


Terima kasih atas apresiasi


dari kalian semua ❤


__ADS_2