
Malam telah datang. Akbar dan Kirana terlihat duduk di meja makan. Saling diam seolah ada keinginan untuk mengatakan sesuatu pada pasangan.
"Bang ...." lirih Kirana pelan. Menjeda ucapan sesaat lalu kembali berucap. "Kan udah aku bilang. Kalau kami gak sengaja ketemu."
Akbar masih diam karena kemarahan. Tadi sore sepulang kerja. Akbar melihat Kirana bertemu Raga. Keduanya nampak berbicara santai seolah teman biasa. Tentu saja di selingi canda yang membuat Akbar meradang dibuatnya.
"Dulu juga ketemu dia. Dan setuju untuk menceraikan aku 'kan?" Akbar menoleh dan menatap mata Kirana dengan dalam.
"Kalian bahkan jalan. Seorang istri jalan sama lawan jenis yang bukan suaminya. Wajar jika aku curiga saat ini Kirana ...." Akbar menghela napas kesal. Melirik sekilas pada Athaya yang sudah bisa duduk tak jauh dari mereka. Bayi berusia beberapa bulan itu nampak mulai mengantuk namun seperti biasa. Athaya tak pernah rewel.
Lalu mata Akbar sekilas melirik Kirana yang juga menatap Athaya. Wanita itu kemudian menganggukkan kepala diringi setetes air mata yang meluncur begitu saja membasahi tangan di pangkuannya.
"Iya, aku memutuskan ketemu sama dia setelah memastikan perasaan suamiku waktu itu, " sahut Kirana pelan. Akbar terdiam.
"Saat aku mengajukan perceraian abang langsung menyetujui bahkan tanpa jeda untuk memikirkan. Abang seolah menganggap pernikahan kita pasti akan terjadi perceraian."
Akbar lupa, seorang wanita memang perlu pengakuan. Sebanyak apapun perbuatan yang lelaki tunjukkkan sebagai tanda perasaan. Tak akan pernah berarti tanpa satu pengakuan.
"Begonya aku waktu itu. Tetap mempertahankan cincin ini waktu Raga mau nyematkan cincin dia untuk ngikat diri kami." Kirana melanjutkan sembari mengusap lembut cincin di jari manisnya.
"Kami gak sengaja ketemu dan saling bertukar kabar aja. Udah, gak ada apa-apa. Terserah mau percaya apa enggak." Satu tarikan napas berat di akhir ucapan. Kirana menyeka air mata kemudian berdiri ingin melangkah menuju Athaya.
Namun, tangan Akbar mencekal lengannya. Lelaki itu kemudian menarik tubuh Kirana hingga jatuh ke pangkuan sang suami. Akbar mendekapnya erat sembari menghela napas berat.
__ADS_1
"Maaf ...." Akbar menangkup kedua sisi pipi Kirana dan menatap dalam mata itu karena basah oleh air mata.
"Kalau marah itu ngomong Abang. Kasih tau aku kalau memang salah. Marahin jangan di diemin." Kirana sesenggukan karena kesal setengah mati pada sang suami. Beberapa jam lalu, saat Akbar datang justru mendiamkannya hingga malam seperti ini.
"Iya, maaf udah salah paham. Dulu ... Abang terlalu insecure Dek. Abang ngerasa gak pantas dan berhak bahkan untuk menyatakan cinta pada seorang Kirana."
Mata Akbar mengkilat karena kaca-kaca. Wanita di pangkuannya lalu mengecup kilat bibirnya. Akbar tersenyum.
"Jangan gitu lagi yaa, maaf kalau dulu sampai jalan sama Raga. Itu karena aku juga manusia yang pasti punya salah dan dosa. Lagian abang tau 'kan. Aku mana tahan bilang enggak-"
"Kalau di tawarin shopping atau belanja!" sambung Akbar sarkasme. Kirana memberengut kesal. Akbar tersenyum dan mengecup pipi Kirana dengan gemas.
"Mau di sini ...." ucap Kirana manja sembari menunjuk keningnya. Akbar langsung mengecup kening itu dalam dan lama.
"Ini juga mau katanya," ucap Kirana lagi dengan tatapan menggoda sembari telunjuk mendarat di bibirnya sendiri.
"Lagi ...." lirih Kirana pelan. Akbar juga suka saat Kirana selalu meminta lebih dulu untuk kehangatan cinta dan rumah tangga mereka.
Akbar kembali memagut bibir sang istri yang selalu terasa manis dan memanjakan bibirnya. Teramat lembut dan selalu menggoda.
***
Visual Athaya
__ADS_1
Comel bangeet kan😁😁
Zaraa mau minta saran kalian yaa.
Mungkin kalian pasti udh sering denger kalau nulis di sini itu. Penghasilannya sangat gak menjanjikan. Nah itu yang mau saya bicarakan.
Beberapa hari yang lalu, saya di tawarkan untuk menulis di sebuah platform dengan bayaran yang jauh lebih dihargai dari pada di sini.
Jadi, kepikiran untuk nulis season dua kisah mereka di platform yang berbeda.Tapi, saya gak mau mengecewakan pembaca setia. Makanya mau tau, sebenarnya kalian sangat menantikan kisah ini apa enggak? dan mau bantuin Zaraa gak lewat like, komentar dan vote nanti kalau udah rilis di sini kisah Akbar dan Kirana yang season dua? atau gak papa di pindah aja biar kalian yang ngikutin saya😂
Zaraa bingung banget karena takut mengecewakan. Kalau mau egois sih enak. tinggal saya tulis aja di platform beda. Yang penting dapat bayaran. Dari pada di sini. Bahkan untuk like aja susah banget. Banyak yang silent riders.
Dan hal itu memang hak kalian. untuk ngasi like apa enggak saya gak bisa maksa. Lagian itu jempol kalian pribadi bukan milik bersama😂
Sayangnya, yang paling sulit bagi seorang penulis adalah waktu. Jadi pengennya di hargain gitu. Sama sama menghargai. Kalian suka dan saya semangat untuk membuat novel yang disukai pembaca.
Dan mengenai kapan. Zaraa gak bisa janji ngomong kapan. Soalnya risetnya masih kurang. Tapi tinggal dikit lagi kok. Setelah itu, akan segera Zaraa tulis season kedua. Tapi kalau ada yang dukung juga😂
Kenapa sih lama? masalahnya itu transplantasi wajah adalah salah satu hal langka di dunia medis. Makanya agak sulit Zaraa buat risetnya 😁
Kalau gak riset nanti malah ngawur ceritanya😂
__ADS_1
Dah lah, pusing Zaraa :(
Sampai jumpa. saya tunggu jawaban kalian di kolom komentar ya ❤