
"Abang ...." erang Kirana pelan saat bibir sang suami sudah tenggelam di leher jenjangnya. Gadis itu mengerjap gugup namun sentuhan Akbar membuatnya terus mendesah pelan.
"Gak erghh ... baca doa dulu Bang?" tanya Kirana dengan napas memburu. Tangannya mencengkram bahu Akbar dan memejamkan mata sesaat. Sentuhan suaminya terasa sangat lembut dan penuh perasaan.
"Aww! Abang!" pekik Kirana saat Akbar mengigit bahunya. Lelaki itu diam-diam geram. Yang benar saja, di saat seperti ini ia sudah tak hafal lagi dengan doa. Akbar melepaskan bibirnya di leher Kirana lalu menatap istrinya.
Dengan tergesa atas hasrat yang sudah di ubun-ubun kepala, Akbar melepaskan seluruh kain di tubuh istrinya begitu pula dengan dirinya. Kembali menyatukan bibir mereka dengan tangan yang terus bergerilya di tubuh istrinya.
"Abang ...."
Kirana memejamkan mata. Meraih tengkuk suaminya dan memperdalam ciuman mereka. Saat sekaranglah ia menyadari, bahwa sebenarnya ia juga menginginkan ini.
Gadis itu membuka mata dan menatap dalam mata suaminya. Hingga kemudian terisap dan tenggelam pada mata sang suami. Keduanya terlena dalam gelombang asmara. Berakhir dengan penyatuan hingga meraih pelepasan.
***
Akbar menatap wajah cantik Kirana yang terlelap nyaman. Ada tebersit rasa bersalah saat melihat istrinya nampak sangat lelah. Ia tak bisa menahan diri lagi, semua yang ada pada diri istrinya begitu terasa candu baginya. Akbar menghela napas kasar. Menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Bagaimana jika Kirana benar-benar meninggalkannya?
Sebelum transplantasi dilakukan tentu membutuhkan waktu lama. Mencari pendonor yang sudah tak bernyawa memang sangat sulit kata Abinya. Belum lagi proses saat ia melakukan perawatan rumit dan panjang. Apa Kirana sanggup bertahan. Menunggunya tanpa lelah atau memilih menyerah? Akbar meraih tubuh Kirana dan memeluknya erat sembari menghela napas berat.
"Kita akan terus terikat sayang. Meski tanpa sebuah ikatan yang di sebut pernikahan."
Akbar akan memastikan Kirana tak bisa hidup tanpanya. Memohon pada dirinya agar mereka terus bersama. Menyadarkan Kirana bahwa sebuah pernikahan tak pernah ada yang di sebut 'terpaksa' karena ada permainan takdir di dalamnya. Begitu pula pernikahan mereka. Kirana menikah dengannya bukan karena terpaksa tapi Karena takdir dirinya dari Sang Maha Kuasa.
Mereka akan terus bersama hingga menua ....
***
Kirana mengerjapkan matanya saat sebuah sentuhan lembut dari lelaki yang baru saja sudah memiliki dirinya seutuhnya.
__ADS_1
"Bangun sayang, ayo sholat shubuh dulu," ucap Akbar lembut. Lelaki itu memakai baju kaos yang berbeda dari malam tadi. Yang berarti Akbar sudah mandi. Kirana melirik jam dinding di sana. Lalu mulai menggerakkan tubuhnya yang terasa remuk.
"Maaf yaa ...." Kirana menatap Akbar yang raut wajahnya benar-benar menunjukkan rasa bersalah. Lelaki itu mengusap rambut istrinya dengan gerakan sayang.
Kirana hanya diam dan mulai turun dari ranjang hingga tubuhnya limbung ke lantai. Rasa sakit dan perih yang luar biasa dari bagian inti wanitanya membuat Kirana mendesis kesakitan. Akbar langsung mengangkat tubuhnya yang berbalut selimut dan membawa ke kamar mandi.
"Udah Bang, aku bisa sendiri ...." ucap Kirana datar tanpa menatap suaminya. Akbar diam menghiraukan.
"Bang ... tunggu di luar yaa, bentar aja. Aku mandi bersih dulu baru sholat berjamaah sama-sama," bujuk Kirana yang akhirnya Akbar setuju karena membantu istrinya mandi cukup membuatnya horny lagi.
Setelah itu, di sini lah mereka. Sholat shubuh pertama kali bersama-sama. Kirana berusaha keras untuk khusyu. Karena ia rasa hanya tidur beberapa jam saja. Rasa kantuk luar biasa tak bisa di tahannya lagi saat Akbar mulai melafalkan doa.
Akbar melirik istrinya sekilas lalu meraih kepala Kirana hingga mendarat di pahanya. Akbar menengadahkan tangannya begitu pula Kirana namun wanita itu memejamkan mata dengan posisi setengah berbaring di paha suaminya.
"Aamiin ...." Kirana mengaminkan dengan mata terpejam. Lalu detik itu pula tangan lentiknya mengusap cepat ke wajah lalu lunglai begitu saja. Akbar tau, istrinya mulai terlelap lagi.
***
Akbar dan Kirana tengah sarapan bersama masih di kamar hotel Bratajaya. Kirana melirik wajah suaminya yang terlihat begitu bahagia. Malam tadi adalah pesta pernikahan adiknya namun Kirana malah juga merasakan malam pertama.
Kirana tersentak saat ibu jari Akbar menyentuh bibirnya. Lelaki itu lalu tersenyum geli menatapnya.
"Kenapa?" tanya Kirana ketus dan membuang muka.
"Pelan-pelan makannya ...." tutur Akbar lembut sembari melemparkan senyuman termanis dan tatapan menggoda. Kirana mengerjap gugup. Kenapa Abang jadi manis gini? pikirnya
"Kita jalan-jalan gimana ....?" ucap Akbar saat mereka sudah selesai sarapan di jam menjelang siang.
"Kemana?"sahut Kirana tanpa menatap suaminya. Ia asik dengan ponselnya.
__ADS_1
"Terserah kamu sayang." Kirana mengerjap gugup lalu meminta Akbar melihat layar ponselnya. Di sana, sebuah berita utama website terpercaya menampilkan foto Akbar saat di pesta adiknya. Dengan judul bercetak tebal di sana.
Akbar Giandra Bratajaya muncul di pesta adiknya.
Judul biasa namun ketika di baca beritanya begitu membuat Akbar ingin tertawa. Mereka menyebutkan bahwa Akbar di anak tirikan dalam keluarga Bratajaya hingga membuatnya tersisihkan dari posisi direktur utama perusahaan Bratajaya. Padahal ia sendiri yang melepaskan jabatan itu untuk adiknya.
"Terus gimana? jadi jalannya?" tanya Akbar lagi berusaha mendekatkan dirinya pada sang istri. Menghiraukan berita aneh tentangnya tadi.
"Gak Bang, kalau mereka lihat kita jalan bareng nanti ketahuan," ucap Kirana dengan santainya. Akbar mengerjapkan mata tak percaya. Mengapa ia jadi seperti selingkuhan istrinya sendiri?
"Aku pergi dulu!" ucap Kirana saat sudah siap dengan baju jalan biasa dan make up tipis namun masih membuatnya terlihat mempesona.
"Kemana?" tanya Akbar setelah diam sejak tadi. Saat Kirana menolak ajakannya.
"Aku ada janji sama Raga," sahutnya lalu keluar dari kamar dan melangkah elegan. Tak melihat sama sekali perubahan raut wajah suaminya.
Akbar mengepalkan tangannya dengan kuat lalu menghela napas berat. Dan sekarang ia menyadari, bahwa masih perlu perjuangan yang lebih lagi. Apa yang terjadi malam tadi, hanyalah tindakan Kirana sebagai istri dan sebenarnya tak menginginkan dirinya sama sekali.
Bersambung
Ini chapter terakhir hari ini ^^
Sayang banget sama kalian yang rajin like sama komen dan vote juga๐
Maaf yaa gak bisa balas komennya satu-satu๐
Oh yaa, Zaraa mau promo dulu. Ini ada kumpulan cerpen karya Zaraa sendiri. Kalau suka cerpen silahkan mampir dan tinggalkan jejak yaa. Ini fotonya atau lihat profil Zaraa dan follow juga yaa ๐
Btw, like dan komentarnya jangan lupa. Biar Zaraa semangat up-nya. Meskipun cuma koment next atau up aja gak papa ^^
__ADS_1