Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa

Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa
Tangisan di kegelapan


__ADS_3

TEKAN LIKE DULU SEBELUM BACA PLIS!


❤ Happy reading ❤


***


"Makasih yaa Bang." Kirana mengulas senyuman yang tulus dan paling manis. Masih menatap wajah Akbar yang terlelap. Sesuatu menggelitik hatinya. Topeng itu, bolehkah ia mengintip sesuatu di baliknya sedikit saja?


Kirana menelan saliva, lalu lebih mendekat dan tangannya terangkat. Sebelum tangannya mendarat dengan tepat, mata Akbar terbuka dan membuat Kirana memekik dengan mata membulat sempurna.


Ia terduduk di lantai dengan rahang yang terbuka. Akbar menautkan alisnya. "Ngapain?" pemuda itu bangun dari tidurnya dan duduk menatap sang istri. Gadis itu nampak gugup dan merona. "Pengen cium yaa?"


Kirana mengerjapkan mata tak percaya. Jika lelaki lain mungkin berucap dengan nada menggoda, suaminya sendiri berucap dengan nada sinis disertai aura dingin di setiap kalimat yang keluar dari bibir suaminya. Tersadar, Kirana menggelengkan kepala.


"Enggak kok," ucapnya pelan dan duduk di sofa yang sama. Tepat di hadapan Akbar. Kirana masih menunduk dan tak berani menatap suaminya.


"Udah, tidur sana," usir Akbar sembari merebahkan tubuhnya lagi. Ia memejamkan mata. Sedikit terbuka dan melihat bagaimana Istrinya menggerutu pelan sambil berjalan ke ranjang. Senyuman tipis terlihat di wajah Akbar Giandra Bratajaya.


***


Mata Akbar mengerjap pelan. Menyingkirkan bantal yang menghalangi wajahnya. Karena Kirana harus tidur dengan lampu yang menyala sedangkan ia sebaliknya. Jadi, Akbar mengatasi dengan menutupi wajahnya sendiri. Perlahan, Akbar bangkit duduk. Menajamkan pendengaran. Apa ia baru saja mimpi atau ternyata memang berasal dari dunia nyata?


Dor!!

__ADS_1


Bersamaan dengan itu, suara Kirana juga memekik keras. Listrik tiba-tiba saja mati dan membuat Akbar terlonjak kaget. Masih dengan kebingungan atas suara bising dan kegaduhan tak jelas dari kamar sebelah. Ia masih mematung dan bingung akan apa yang terjadi sebenarnya.


"Abang!" pekik Kirana dengan isakan tertahan. Meraih kesadaran, Akbar harusnya tau ia lebih dulu menenangkan istrinya sendiri. Cepat Akbar mendekat ke ranjang. Suasana yang sangat gelap membuatnya menajamkan penglihatan.


"Kirana!" Akbar mendesis ketika kakinya terkena kaki ranjang. Hal itu membuatnya kehilangan keseimbangan tapi terjatuh tepat di hadapan gadis yang semakin memekik. Akbar langsung memegang bahu Kirana.


"Lepasin!" suara Kirana penuh amarah. Sesaat pemuda itu terkesiap. "Kirana! ini Aku."


"Abang!" Kirana langsung menubruk tubuhnya. Memeluknya dengan erat. Bisa dirasakan Akbar bahwa tubuh istrinya menegang. Akbar mengusap pelan punggung sang istri. Berusaha menyalurkan ketenangan. Tapi tak berlangsung lama, suara tembakan itu membuat mereka tersadar lagi.


"Itu apa Bang?" Kirana masih menenggelamkan wajahnya di dada sang suami. Akbar tak tau apa yang terjadi. Mereka sedang berada di lantai khusus tamu VVIP. Apa sedang ada penembakan di sini? dan mengapa tak ada satu pun pihak keamanan hotel mendatangi mereka? Suara bising seperti tembakan, pintu yang didobrak. Semakin membuat kedua suami istri ini menegang


"Biar ku periksa dulu." Akbar melepaskan pelukan, tapi Kirana tak melepaskan.


"Tenang Kirana." hanya itu yang bisa Akbar lakukan. Memeluk Kirana dengan erat sembari berdoa semoga mereka akan baik-baik saja. Akbar bersumpah akan melaporkan hal ini pada Abi. Bagaimana bisa terjadi sesuatu seperti ini?


Beberapa saat kemudian. Suara berisik itu sudah tak terdengar. Tapi listrik masih mati dan membuat Kirana masih saja ketakutan. "Kirana." Akbar berucap sembari berusaha melepas pelukan. Tapi demi apapun, Kirana masih tak melepaskannya.


"Aku gak bisa napas," ucapnya pelan. Ia merasa bagian tangan dan punggungnya kebas. Posisi duduk berhadapan dan saling berpelukan bukan posisi yang nyaman. "Gak mau," sahut Kirana sembari mengeratkan pelukan.


"Kamu merem yaa?" Kirana diam. "Buka mata Kirana. Gak papa," bujuk Akbar pelan. Lalu ia melepaskan pelukan dengan pelan. Kali ini, Kirana tak menolak. Lelaki itu beranjak turun dari ranjang. Namun pelukan dari belakang membuatnya terdiam. Akbar membeku.


Tak ada ucapan yang keluar dari Kirana. Hanya isakan yang semakin jelas terdengar. Akbar berbalik dan memeluknya. Naik lagi ke ranjang dan membawa sang istri ke pangkuan. Jadilah sekarang berpelukan dalam posisi yang lebih nyaman.

__ADS_1


Dalam posisi yang sangat dekat seperti ini, Akbar dapat mencium jelas aroma tubuh sang istri. Aroma manisnya stroberri. Lalu lampu menyala dan Akbar menghela napas lagi. Ia menundukkan kepala dan menatap Kirana yang masih menenggelamkan wajahnya di dada. Akbar berdecak kesal.


Kenapa nyala sih nih lampu?


Bilangin gak yaa?


Kirana nampaknya mulai menyadari bahwa lampu sudah menyala. Ia mendongak dan tatapannya tertabrak pada sepasang mata tajam yang menatapnya dalam. Sesaat, tatapan mereka saling terkunci. Hingga ketukan di pintu mengalihkan perhatian. Kedua orang itu menoleh secara bersamaan. Masih mematung dan suara di sana bukan lagi berupa ketukan tapi gedoran.


Akbar langsung menarik Kirana turun dari ranjang dan bersembunyi di balik sofa panjang. "Tadi suara tembakan 'kan Bang? Kok hotel keluarga Bratajaya gini sih? udah mati listrik sekarang juga ada yang ngedor pintu gitu!" gerutu Kirana pelan. Akbar meliriknya sekilas dengan mendengus kesal. Sekarang Kirana yang menyebalkan telah kembali. Padahal wajah cantik itu masih terlihat kacau. Hidung merah dan pipi yang terlihat bekas air mata.


Brak!!


Akbar maupun Kirana menegang. Kirana bersumpah akan menggugat cerai dan menuntut pihak hotel keluarga suaminya sendiri. Jika sampai terjadi sesuatu padanya.


"Akbar? Kirana?"


Eh? suara panik itu, kayaknya gue kenal.


Lalu, suara Akbar menyadarkan Kirana.


"Ya Allah Abi!" Kirana spontan ingin berdiri. Tapi Akbar menghentikannya.


"Udah, duduk di situ! Abi sama laki-laki lain." Kirana mengerti. Sekarang ia tengah memakai piyama dan tak berhijab.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2