
Sesampainya di apartemen Kirana. Raga memaksa mengantarnya hingga pintu masuk apartemennya. Tak bisa lagi mengelak, Kirana akhirnya menyetujui saja. Berharap jika kedua lelaki yang sudah membuatnya pusing tak saling bertemu nanti.
"Istirahat yang cukup yaa ...." ucap Raga lembut dengan sorot mata terluka. Membayangkan hidup Kirana bersama lelaki lain di dalam apartemen yang sekarang ada di hadapan matanya.
"Besok ada pemotretan gak Na?" tanya Raga lagi dan di balas anggukan kepala oleh Kirana.
"Aku antar yaa?" Kirana langsung cepat menggelengkan kepala.
"Gak usah Ga," sahut Kirana dengan nada memelas. Raga menghela napas.
"Cuma nganter doang kok," bujuknya lagi. Kirana menatapnya dengan raut wajah serius.
"Maaf Ga, tapi aku masih istri orang. Gak baik kalau di lihat orang," sahut Kirana asal. Raga menautkan alisnya. Jelas tau, jika orang-orang sudah tau mengenai pernikahan Kirana sekarang Raga sudah tau lebih dulu. Tapi mungkin Raga mengingatkan, bahwa bisa saja ini berhubungan dengan sesuatu yang membuat Kirana terpaksa menikah dengan lelaki itu.
"Cuma seminggu aja lagi 'kan," bujuk Kirana lagi mengingatkan. Raga tersenyum dan mengiyakan lalu secara tiba-tiba membawa wanita itu ke pelukan.
"Ga, lepas nanti ada yang lihat!" ucap Kirana dengan berusaha melepas pelukan. Raga tak membiarkannya dan berusaha mengeratkan pelukan.
"Bentar aja Na, aku kangen banget," ucapnya pelan yang membuat Kirana terdiam.
"Seminggu yaa? habis itu kita bisa kayak dulu," ucap Raga dengan memeluk Kirana. Aroma wanita itu masih sama. Terasa manis dan membuat siapapun terlena. Raga memejamkan mata untuk mengatur emosi yang datang tiba-tiba karena terlintas bagaimana suami Kirana sudah memiliki wanita sempurna yang ada di hadapannya. Seutuhnya mungkin saja.
"Ya gak gitu juga Ga," sahut Kirana dengan berusaha melepaskan pelukan. Tapi Raga malah semakin mengeratkan.
"Masih panjang proses perceraian dan aku gak bisa napas ini Ga!" sentak Kirana dengan nada kesal. Raga melepaskannya dan terkekeh pelan. Tapi Kirana justru terkesima karena netra itu sudah basah oleh air mata.
"Aku pulang dulu yaa ...." ucap Raga dan di balas anggukan kepala oleh Kirana.
"Hati-hati Ga ...."
Raga berjalan ke arah lift dan langsung ke lantai utama. Ia menghubungi seseorang dan berucap dengan menghela napas pelan.
"Cari tau hubungan antara keluarga Cakrawangsa dan Bratajaya!"
"Baik Tuan Muda."
***
Kirana mengerjapkan mata lalu mulai masuk ke apartemennya. Di sambut pelukan hangat dari suaminya.
"Abang kangen Dek ...." ucap Akbar pelan dan dibalas pelukan oleh Kirana. Wanita itu mengerjap heran saat rasa nyaman begitu menelusuk dalam dirinya. Berbeda dengan pelukan Raga, pelukan suaminya terasa hangat baginya. Dan ucapan Akbar berhasil membuat Kirana merona. Kangen katanya? padahal baru sehari di tinggalkannya.
__ADS_1
"Udah makan?" tanya Akbar dan di balas gelengan.
"Aku mau sholat dulu Bang," sahut Kirana sembari menatap jam dinding di sana. Waktu sholat isya baru saja tiba.
"Abang juga belum sholat." Akbar lalu menarik Kirana menuju kamar mereka. Membersihkan diri dan sholat berjamaah bersama.
***
"Tadi ada yang nganterin itu, katanya belanjaan kamu."
Kirana mengerjap gugup. "Iya Bang, tadi shopping sama Raga," ucapnya dengan nada pelan dan berdehem pelan. Kirana mengerjap heran, mengapa ia merasa gugup seolah baru mengaku sedang jalan dengan selingkuhan?
"Oh, dia lebih kaya dari keluargaku yaa ...." ucap Akbar dengan senyuman miris. Melihat bagaimana banyaknya barang belanjaan Kirana dan harga masing-masing barang di dalamnya serta seseorang yang mengantarkan belanjaan istrinya jelas menunjukkan bahwa Raga bukan lelaki biasa.
"Gak juga," sahut Kirana lalu berusaha mengalihkan pembicaraan. "Ini Abang yang masak?" tanya Kirana sembari menatap beberapa masakan di atas meja.
"Banyak banget Bang," ucap Kirana lagi sembari menatap Akbar. Suaminya tersenyum dan berkata.
"Abang gak tau kesukaan kamu apa Dek. Jadi masak semua masakan yang Abang bisa aja," sahut Akbar apa adanya dan membuat Kirana jelas tak enak hati di buatnya.
"Makasih Bang ...."
Kirana memang tak memiliki perasaan apapun padanya tapi wanita itu selalu berusaha menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Bagaimana wanita itu selalu izin ketika keluar rumah bahkan untuk menemui lelaki dari masa lalunya. Kirana adalah pribadi yang jujur dan terbuka.
Saat ia ingin sesuatu, Kirana berusaha cepat menunjukkan atau membicarakan apa yang ingin ia lakukan. Perceraian ataupun pernikahan. Setelah selesai makan, Kirana mencuci piring sementara Akbar terus menatapnya sejak tadi.
"Abang kok ngeliatin terus sih," gerutu Kirana dan Akbar tak menjawabnya. Lelaki itu diam saja. Hingga saat Kirana selesai ia begitu terkejut saat Akbar memeluknya.
"Bang ...." ucap Kirana dengan mengerjap heran. Lelaki itu lalu melepaskan pelukan dan membawa sang istri ke kamar mereka.
Saat sama-sama duduk di tepi ranjang, Kirana berdehem pelan dan mengucapkan. "Ada yang mau aku omongin Bang," ucapnya pelan. Ia bingung harus meminta Akbar bagaimana. Ia ingin bercerai secepatnya. Bahkan kalau bisa, Kirana ingin Akbar menalaknya sekarang juga.
"Nanti aja yaa ...." bujuk Akbar lembut lalu menyatukan bibirnya dengan bibir manis Kirana. Wanita itu mengerjap kaget tapi akhirnya membalas juga.
Saling melumatt dalam dan penuh kelembutan. Kirana mengalungkan tangannya di leher Akbar sementara suaminya memperdalam ciuman dengan menekan tengkuk sang istri.
Tautan itu terlepas saat sama-sama kehabisan napas. Dua pasang mata masih terpejam dengan dahi saling bertempelan.
"Topeng Abang ini ganggu banget sebenarnya," gerutu Kirana secara terbuka. Akbar diam saja tapi menarik Kirana menuju balkon kamarnya.
Saat sampai di balkon dan melihat langit malam, Tubuh Kirana menegang seperti sebelumnya. Selalu seperti itu meski ada seseorang di sebelahnya. Akbar ataupun Raga. Kirana menggenggam tangan Akbar dan menatapnya.
__ADS_1
"Ngapain sih Bang?" tanyanya dengan nada kesal. Akbar perlahan Melepaskan genggaman dan membuat Kirana mengerjap heran. Lelaki itu mengarahkan Kirana melihat langit malam yang bertaburan bintang. Sementara dirinya berada di belakang. Memeluk sang istri dengan penuh kehangatan.
"Indah 'kan?" tanya Akbar pelan yang di balas Kirana anggukan kepala.
"Abang tau kamu takut kegelapan," ucap Akbar pelan tepat di telinga sang istri. Kirana terdiam. Dan Akbar memilih melanjutkan ucapan. "Kegelapan emang nakutin sih, tapi juga kadang ngasih ketenangan."
Kirana mengerjap heran. Tangannya semakin mengeratkan pelukan sang suami di perutnya. Tangan kekar itu melakukan sesuai kehendaknya.
"Jangan takut sama sesuatu yang bahkan gak bisa nyakitin Kamu Dek," ucap Akbar pelan dengan memejamkan mata. Menghirup aroma Kirana. Angin berhembus pelan memainkan ujung rambut istrinya.
"Kegelapan ataupun malam cuma sebuah keadaan. Suasana dan gak berlangsung lama," ucap Akbar masih dengan mata terpejam. Dahi Kirana berkerut dalam.
"Malam lama Bang, tunggu beberapa jam baru siang," pungkas Kirana tak terima.
"Cuma beberapa jam doang 'kan?" tanya Akbar dengan berdecih pelan.
"Lagian kamu takut gelap apa bedanya kalau lagi tutup mata? sama-sama gelap 'kan?" tutur Akbar lembut.
"Beda Abang!" sungut Kirana kesal. "Kalau nutup mata aku tau sekitarku gak gelap jadi tenang aja," imbuhnya kemudian. Kirana tak pernah bisa tenang saat kegelapan berada di sekitarnya. Tubuhnya menegang dan mulai berkeringat dingin. Meski ada seseorang di sekitarnya ataupun tidak. Begitu pula sekarang.
Akbar tau itu, ia lalu membalikkan tubuh Kirana hingga menatapnya. Ia merogoh saku celana rumahnya dan mengeluarkan earphone dan ponselnya. Memutar musik dan memasang benda kecil itu di telinga istrinya.
Kirana tersenyum karena menyukai lagu yang di putar suaminya. Akbar meraih pinggang sang istri dan bergerak perlahan seperti ingin berdansa.
"Abang ngapain sih," ucap Kirana dengan tertawa. Tapi ia akhirnya mengikuti juga gerakan aneh suaminya. Kirana tertawa dengan kekonyolan mereka hingga ia lupa mengenai malam dan kegelapan yang sering membuatnya takut hanya dengan melihat. Menegang hanya dengan merasakan hawa mencekam dari sang malam
Namun, tak menyadari bahwa sedang berdansa dengan seseorang dengan pena malam. Lelaki yang memiliki nama pena sesuatu yang ia takutkan tapi juga merupakan kesenangan dan ketenangannya kadang-kadang.
Akbar mengecup keningnya dengan perlahan lalu mengucapkan. "Aku malam sayang." wanita itu terdiam dengan alis yang bertaut karena tak mengerti sama sekali.
"Jangan pernah takut sama sesuatu yang gak bisa nyakitin kamu, anggap aja kegelapan adalah teman atau malam adalah Abang ...."
"Abang ngomong apaan sih!" gerutu Kirana dengan mencebikkan bibirnya. Bukan tak suka perkataan suaminya. Tapi setiap kalimat dan kata itu seperti menyimpan sebuah makna. Entah apa.
"Gak papa," sahut Akbar sembari mendengus kesal. Ia lalu membawa Kirana kembali ke dalam dan naik ke ranjang.
"Waktunya olahraga malam Dek," ucap Akbar lembut sembari mendekatkan tubuhnya pada Kirana.
Bersambung
Like dan komentarnya jangan lupa biar Zaraa semangat up! ^^
__ADS_1