Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa

Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa
Antara Kewajiban & Cinta


__ADS_3

Akbar masuk ke apartemen dan langsung menuju ruangan pribadinya. Sorot mata terluka dan perasaan kecewa semakin terasa menyesakkan di dada. Matanya berkaca-kaca seolah siap menitikkan air mata.


"Ternyata, aku cuma jatuh sendirian yaa?" gumamnya bermonolog sendiri. Lelaki itu menatap kosong ke sembarang arah. Hingga ketika matanya menutup, satu bulir bening jatuh di sudut mata.


Lelaki itu mengusap kasar wajahnya. Tersenyum miris ketika mengingat beberapa hari yang manis dan mesra bersama istrinya.


***


Tiga hari yang lalu.


"Uhuk! uhuk!"


Akbar terbatuk-batuk masih dengan memejamkan mata. Lelaki itu kemudian membuka matanya saat merasa begitu sesak paru-parunya. Matanya membulat sempurna ketika melihat banyak asap di kamarnya.


Di tengah kebingungan, teriakan Kirana membuat Akbar tersadar. Lelaki itu berusaha bangun dari tidurnya dengan sekuat tenaga menuju asal suara istrinya.


Pusing kepala dihiraukan, Akbar lantas terhuyung sesaat tapi berhasil mengendalikan dan segera berlari ke arah dapur. Mematikan kompor dan api yang sudah menjalar di berbagai barang dapur. Setelah padam dan aman, Kirana yang ada di sana mengerjap takut menatap suaminya.


"Ma-maaf Bang ...." ucapnya dengan nada pelan. Tanpa diduga, Akbar justru memeluk istrinya.


"Lain kali hati-hati yaa, aku gak mau kamu kenapa-kenapa," sahut Akbar dengan mengeratkan pelukan. Kirana melepaskan pelukan.

__ADS_1


"Kapan pulang?" tanya Akbar dengan nada lemah. Wanita itu membawa sang suami untuk duduk di dekat meja pantri.


"Baru aja, aku coba masak karena ngeliat Abang ketiduran," ucap Kirana yang menjeda ucapan sesaat lalu kembali berkata, "Abang demam juga kayaknya."


Wanita itu menempelkan punggung tangannya di dahi sang suami. Kirana berdecak kesal. Karena keteledorannya ia hampir saja membuat apartemen ini kebakaran. Karena bingung bagaimana cara membuat bubur, dirinya melihat toturial di sosmed. Di tengah memasak, tak sengaja membuka instagram dan berakhir kelupaan. Hingga terjadilah seperti sekarang.


"Udah, beli aja di luar," ucap Akbar dengan sorot mata sayu. Lelaki itu memijit pelipisnya.


"Iya, Abang istirahat dulu yaa," ucap Kirana lalu membawa Akbar ke kamar mereka. Membantu sang suami berbaring dengan lembut. Sorot mata khawatir dari Kirana membuat kedua sudut bibir Akbar terangkat sempurna. Kirana menatapnya dengan kedua alis yang bertaut.


"Kenapa bang?" tanyanya bingung. Lelaki itu sakit tapi senyum-senyum tak jelas. Membuat Kirana sedikit ketakutan.


"Bang! lagi sakit masih aja jailnya," ucap Kirana dengan nada kesal. Akbar diam saja. Tapi mulai memejamkan mata dengan masih memeluk istrinya.


Beberapa saat dalam posisi yang tak nyaman bagi Kirana karena tubuhnya menindih sebagian tubuh sang suami. Akbar justru sudah terlelap nyaman. Kirana melepaskan pelukan dengan perlahan.


Mengambil posisi berbaring di sebelah sang suami dan mengambil tangan Akbar untuk bantalnya. Wanita itu ikut terdiam dengan mengamati suaminya. Entah apa yang ia pikirkan. Hingga Akbar memiringkan tubuhnya untuk memeluk Kirana dan menggumamkan namanya. Kirana mengangkat kedua sudut bibirnya dengan sempurna.


Malam harinya Akbar bangun dari tidur dan langsung melahap bubur yang katanya buatan Kirana. Awalnya Akbar diam saja, meskipun dalam hati mengira bahwa itu tak mungkin karena tadi saja hampir membakar dapur mereka. Tapi saat merasakan rasa yang familiar di lidahnya, lelaki itu percaya.


"Umi yang ngasih resepnya," ucap Kirana dengan kedua sudut bibir terangkat sempurna lalu kembali berkata, "Habis ini ke rumah sakit yaa?"

__ADS_1


Akbar menggelengkan kepala. Saat sudah selesai melahap buburnya. Lelaki itu berkata, "Cuma demam doang, aku gak papa."


Kirana tentu saja terus memaksa tapi Akbar tetap tak mau. Hingga akhirnya Kirana memintanya untuk meminum obat saja. Suaminya itu menurut. Hingga saat waktunya tidur ia terkejut. Akbar meminta pelukan sepanjang malam. Tak melepaskan. Seolah begitu banyak kerinduan dan kasih sayang.


Saat terbangun pagi hari, Akbar menatap sang istri. Menelusuri wajah Kirana yang terpahat sempurna dan masih memejamkan mata. Perasaannya yang begitu bahagia ketika mendapatkan perhatian Kirana membuatnya merasa ingin sakit lagi saja. Hal yang biasa jika istri merawat suami saat sedang sakit atau terluka tapi Akbar merasa ini berbeda.


Perhatian Kirana yang sedikit saja mampu membuatnya terlena dan lupa bahwa Kirana hanya menjalankan kewajibannya sebagai istri saja.


***


Suara adzan maghrib menyadarkan Akbar dari lamunannya. Lelaki itu mengusap kasar air mata sialan yang terus meluncur dari tadi.


"Kirana ...." gumamnya dengan isakan tertahan.


Bersambung


Cowok tuh kalau udah nangis berarti sakit banget lho😐


Jangan lupa likenya! Banyakin komentar dan tambahin votenya biar Zaraa semangat up-nya. 10 poin aja juga gak papa dari pada gak sama sekali 'kan yaa 😌


Up hari ini juga kalau banyak komentar dan terima kasih atas apresiasi kalian semua❤

__ADS_1


__ADS_2