
Hai ^^
Maaf baru up yaa. Ini di sempetin ngetiknya wkwk. Hargain yaaa... Tinggal tekan jempol aja kok, tapi harus pas di tanda jempol 😂
***
Akbar membuka pintu kamar dan di sambut oleh Kirana yang terus bertanya sebenarnya tadi ada apa.
"Siapa sih bang?"
"Orang jahat yaa?"
"Kok pake tembak-tembakan segala."
"Udah ditangkep?"
"Trus Abi udah pulang?"
Begitulah berbagai macam pertanyaan Kirana dan ditanyakannya dalam satu tarikan napas. Membuat Akbar pusing harus menjawab yang mana.
"Jawab dong Bang!" Akbar menatapnya dengan seksama. Gadis ini sangat banyak bicara dan sering melakukan sesuatu yang tak terduga.
"Buronan."
"Hah?" Kirana mengerjap heran.
"Buronan yang tadi bikin kekacauan. Salah satu resepsionis yang gak jujur ngebuat dia berhasil masuk sini. Bahkan berzina sama pelacurr. Tapi udah di tangkep." hotel keluarga Bratajaya adalah salah satu hotel syariah. Untuk bermalam satu kamar. Dua orang berbeda gender harus memberikan buku nikah.
"Terus kenapa listrik bisa mati?"
"Karena salah satu temannya berusaha ngebantu dia melarikan diri karena baru aja ketahuan sama polisi nginap di sini."
Kirana ber-oh ria lalu berjalan menuju ranjang. Hingga sebuah ketukan di pintu membuatnya kembali ketakutan.
"Itu siapa Bang?"
Akbar tak menjawab namun membuka pintu. Sepertinya tak berbahaya pikir Kirana. Ia lalu mencoba memejamkan mata. Sebuah aroma yang lezat memaksanya membuka mata, lagi. Ternyata Akbar tadi mungkin memesan beberapa kudapan.
"Itu apa Bang?" tanya Kirana sembari turun dari langkah lalu mencomot satu kue kering cokelat di atas meja dekat sofa. Ia menatap satu gelas teh hangat dan kopi di sana.
"Buat aku yaa!" tanpa menunggu jawaban, ia meminum teh hangat dengan raut wajah kebahagiaan. Akbar meliriknya sekilas lalu mengambil laptop kemudian memangkunya.
"Ngapain?" lagi, Kirana bertanya dan lagi-lagi tak di jawab oleh suaminya. Untuk itu, ia lebih dulu duduk di sofa sebelah Akbar dan menatap layar laptop di sana.
"Ngapain sih?" tanya Kirana saat tak mengerti bahwa Akbar sedang apa.
"Udah tidur sana!" usir Akbar tanpa menatap istrinya. Ia masih asik mengetik beberapa kata hingga tercipta sebuah cerita.
"Jawab dulu itu ngapain!"
Hening.
__ADS_1
Akbar masih konsentrasi di depan layar laptop dengan jemari yang menari-nari. Hingga keberisikan yang diciptakan oleh istrinya sendiri membuatnya kehilangan konsentrasi
"Ngapain si!"
"Itu apa coba!"
"Kata-katanya puitis banget sih!"
"Abang penulis yaa!"
"Abang jawab! ish!"
Akbar menoleh padanya. Lalu meletakkan laptop di atas meja. Memperbaiki posisi hingga menghadap Kirana. Sedangkan gadis itu sedikit ketakutan dan menelan saliva.
"Tidur sana!"
Kirana memberengut kesal lalu menatap lurus mata tajam itu. Ck, kenapa kelihatan menakutkan sii?
"Gak bisa tidur," ucap Kirana sembari mengalihkan tatapan ke jam dinding. Jarum jam di sana menunjukkan angka dua dini hari.
"Kalau gitu kesana aja! Jangan ganggu!" gerutu Akbar lalu kembali memusatkan perhatian pada cerita yang ia buat.
Kirana mendengus kesal namun menurut. Diam tapi tetap di sebelah Akbar. Waktu berlalu dengan cepat. Akbar tersentak ketika sentuhan terasa di bahunya.
Ia menatap wajah Kirana yang terlelap di bahunya. Lalu melirik jam dinding yang menunjukkan angka tiga dini hari.
"Kirana!"
Akbar berdecak kesal. Menatap kaki jenjang Kirana yang ada di pangkuannya. Tak taukah dia bahwa tubuhnya itu panjang? alias sangat tinggi. Tinggi Kirana memang sampai dagu Akbar. Hingga membuat sofa yang panjang ini menjadi sempit karenanya.
Setelah itu, Akbar berusaha menghiraukan dan melanjutkan kembali aktivitasnya karena rasa kantuk sama sekali tak menyerang dirinya.
***
Sore harinya di apartemen Akbar dan Kirana.
"Umi ngajakin makan malam."
Kirana menatap Akbar dengan mata membesar. Kenapa baru mengatakannya? Ia melirik jam dinding di rumah itu. Lalu berdecak kesal kemudian segera bersiap.
Meski tubuh yang lelah karena sehabis pemotretan, Kirana tentu tak mungkin menolak ajakan mertua. Ia cepat membersihkan diri dan berangkat bersama sang suami.
Sesampainya di kediaman keluarga Bratajaya, ia di sambut hangat oleh Umi dan Abi. Kemudian langsung digiring ke meja makan. Umi nampak sangat berseri-seri. Membuat siapapun yang menatapnya menjadi tertular bahagia begitu pula dengan Kirana.
"Tadi habis meriksa cucu Umi. Alhamdulillah kuat sama ibunya juga sehat." Umi berucap dengan mata berbinar.
"Gak sabar, Habis gendong cucu yang mirip Randy, nanti gendong lagi yang mirip Akbar." umi berucap dengan nada menggoda menatap Kirana. Setelah itu, beliau langsung ke dapur dan sama sekali tak melihat perubahan raut wajah Kirana.
"Udah, jangan di pikirin," bisik Akbar yang duduk di sebelahnya. Kirana hanya diam lalu menatap Randy.
"Puspa mana?"
__ADS_1
"Di kamar Mbak, tadi ku ajakin makan katanya duluan aja, paling bentar lagi," sahut Randy sembari tersenyum.
Umi datang dari arah dapur dan membawa sepiring udang. Sepertinya spesial karena di hidangkan terakhir.
"Ini buat menantu sulung Umi, makan yang banyak yaa sayang," ucap Umi sembari memberikan piring itu ke Kirana. Kirana tertegun sesaat lalu mengulas senyum.
"Makasih Umi," sahutnya dengan senyuman manis. Umi mengangguk.
"Umi masak itu sendiri lho," ucap Abi. Terdengar seperti menggerutu.
"Ampe lupa sama Abi karena menantu -menantunya," imbuhnya dengan wajah masam. Randy tergelak di tempat.
"Ciee cemburu sama menantu sendiri," ledek Randy di sela tawa.
"Udah udah, ayo di makan," ucap Umi. Mereka kemudian langsung makan hingga kemunculan Puspa mengalihkan perhatian.
"Ayo sayang," ajak Umi sembari mengusir Randy yang duduk di sebelah kanannya. Sedangkan sebelah kiri adalah tempat Abi.
"Ya elah Mi, segitu sayangnya sama istri Randy, berasa jadi anak tiri," keluhnya namun tetap bergeser juga. Sedangkan Abi tergelak. Seolah membalas apa yang ia lakukan tadi.
"Muka Mbak kok merah?" suara dari Randy membuat semua orang di meja makan menatap wajah Kirana. Sedangkan mata Puspa membulat sempurna.
"Mbak kok makan udang! 'kan alergi!" teriak Puspa panik.
Kirana hanya tersenyum lebar.
***
"Maafin Umi yaa."
Ke sekian kalinya, Kirana sudah tak nyaman sedari tadi.
"Gak papa Mi, Kirana juga lupa," kekehnya dengan tersenyum.
"Umi balik aja ke kamar yaa, nanti Abi cemburu lagi," imbuh Kirana dengan tawa. Umi menatapnya masih dengan sorot mata menyesal.
"Itu beneran gak apa-apa?" tanya Umi sembari menatap wajah dan leher Kirana. Karena sekarang tengah di kamar Akbar, Kirana melepas hijabnya.
"Gak papa Umi, ini 'kan udah di kasih obat juga," sahut Kirana sembari menatap salep dan obat alergi yang baru di beli Umi.
"Yakin gak ke dokter aja?" Kirana mengangguk.
"Ya udah, Umi tinggal yaa." Kirana mengangguk. Wanita paruh baya itu keluar kamar dan berselisihan dengan Akbar.
"Jagain Kirana yaa. Bantu olesin salepnya juga. Kirana nolak tadi pasti karena gak enak aja sama Umi."
Akbar mengangguk. Lalu melangkah masuk ke kamar. Pemandangan yang ia lihat pertama kali. Kirana sudah membuka seluruh pakaiannya dan hanya tersisa BH. Ia terlihat menggaruk seluruh tubuhnya dengan wajah yang kesakitan. Matanya juga berkaca-kaca.
Nampaknya, istrinya itu masih tak menyadari kehadiran suaminya.
Bersambung
__ADS_1
Lalu, apa yang dilakukan Akbar ke Kirana? wkwk