
Sudah tiga hari sejak hari itu. Hari yang sangat memalukan bagi Kirana tapi sangat menyebalkan bagi suaminya. Sejak tiga hari pula Kirana merasa canggung apabila satu kamar dengan Akbar. Lelaki itu menatapnya seperti singa yang lapar. Entah karena ketakutannya yang terlalu besar atau firasat nya yang kuat sebagai perempuan Kirana tak tau. Yang jelas ia hanya ingin menghindar.
Saat ini, Kirana tengah duduk santai di sofa ruang tamu apartemen sembari membaca novel milik Akbar yang ia ambil di ruangan samping ruang pribadi Akbar. Ruangan kecil yang baru Kirana ketahui adalah perpustakaan.
Kirana sendiri sudah bisa ikut pemotretan namun kebetulan hari ini masih ada halangan. Salah satu kru pemotretan sedang mengalami musibah kecelakaan. Jadi, mungkin besok baru bisa mereka mengatur lagi jadwal pemotretan Kirana.
Gadis itu masih membaca novel yang baru ia tau adalah karya seseorang dengan nama pena malam. Nama yang unik tapi baginya sangat menakutkan. Tapi saat membaca novel itu, Kirana beberapa kali berdecak kagum. Kisah yang bagus dan tak membosankan. Di tambah gaya bahasa penulis yang mengagumkan.
Beberapa saat kemudian, Kirana mulai lelah membaca. Gadis cantik itu lantas mengambil ponselnya dan membuka aplikasi WA. Alangkah terkejutnya Kirana saat mendapat pesan wa dari ibundanya yang akan datang nanti malam. Spontan kedua mata cantiknya membulat sempurna lalu melihat jam dinding di sana.
"Udah jam segini!" pekiknya histeris. Ia tak bisa membayangkan bagaimana ceramah dari ibunda tercinta jika tau sekarang ia masih diam-diaman dengan sang suami dan tak memasak makan malam sebagai kewajiban seorang istri dan hal lainnya lagi.Tidak, Kirana tak sanggup. Gadis itu bergegas sholat asar lalu memasak untuk makan malam.
***
Akbar yang duduk di depan meja cukup besar dengan laptop di atasnya beberapa kali berpindah posisi karena tak nyaman. Ia terlalu biasa duduk menyender di sofa dengan laptop di pangkuannya. Tapi saat ini, Akbar tak bisa karena ada Kirana. Lelaki itu berdecak pelan lalu menatap langit-langit ruangan. Mengingat kembali beberapa kejadian beberapa hari ini.
Sejak tiga hari yang lalu, Saat kejadian yang menyebalkan baginya namun sedikit memberi keuntungan. Menyentuh setiap jengkal tubuh sang istri dengan mata berbinar. Namun hal itu terasa menjadi sebuah kesialan tatkala segala hayalan hasrat di kepala tak berujung menjadi nyata.
Sejak hari itu, ia merasa mudah terangsang meski Kirana memakai pakaian lengkap. Tak jarang matanya terus tertuju pada bagian-bagian kewanitaan. Seperti dada dan ... banyak lainnya.
Sialan!
Akbar kembali mengumpat dalam hati ketika mengingatnya lagi. Namun hatinya meringis sakit saat ingat hari itu. Hari ia memberanikan diri tidur di ranjang yang sama dengan sang istri. Jika kejadian di novel yang ia buat, keesokan pagi suami istri akan terbangun dengan pelukan hangat, Akbar harus tertampar kenyataan bahwa Kirana justru memilih tidur di sofa.
Lelaki itu merasa sangat bersalah padahal tak sepenuhnya adalah kesalahannya. Sejak hari itu, Akbar tak pernah tidur di ranjang lagi. Bisa di bayangkan bukan? saat ia tak berbuat apa-apa saja Kirana berusaha menghindar dengan menjaga jarak apalagi saat ia menginginkan haknya.
Entahlah, Akbar sebelumnya merasa hidupnya yang monoton dengan keseharian sendiri dan hidup dalam novel-novel yang merupakan imajinasinya sendiri seketika menjadi berbeda dengan kedatangan Kirana.
Suara gerutuannya ketika terlambat bekerja atau kemarahannya untuk hal-hal kecil seperti cara memencet pasta gigi. Menggelikan namun ada sensasi hati yang menyenangkan. Lelaki yang berusia awal kepala tiga itu memejamkan mata hingga aroma yang begitu lezat membuatnya menelan saliva.
Perlahan kakinya melangkah keluar ruangan, matanya membesar ketika melihat seorang wanita memasak di dapurnya. Apa itu ... Kirana? gumamnya.
__ADS_1
"Bunda datang nanti malam, duluan mandi sana Bang!" Kirana berucap masih dengan kesibukannya. Entah apa yang di masak Kirana di atas wajan itu. Yang pasti, ia hanya terkesima karena sang istri baru mau memasak ketika mertuanya datang!
Nyebelin emang! sialan!
Akbar menurut dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sempat terdiam ketika menatap pasta gigi. Dulu, ia sering menekan dari tengah sedangkan aturan Kirana dari bawah. Tapi selama tiga hari, Meski ia tetap seperti itu, Kirana tetap diam dan tak menegurnya lagi.
"Kirana ...."
***
Malam harinya, Kirana sudah rapi dan bersih. Begitu pula dengan apartemennya. Sedangkan suaminya setelah mandi dan sholat kembali ke ruangan pribadinya.
Ting tong!
Ting tong!
Kirana bergegas membuka pintu apartemen dan berteriak girang dalam hati ketika melihat bundanya dengan senyum yang menenangkan.
"Lho ayah gak ikut?"
"Kirana kangen Bun," ucapnya manja sembari memeluk tubuh ibundanya dari samping.
"Udah punya suami juga masih aja manja," ledek bunda di iringi tawa khasnya.
"Biarin," sahut Kirana dengan memcebikkan bibirnya.
"Oh yaa Akbar mana?" tanya Bunda.
"Lagi di ruangannya," sahut Kirana singkat masih dengan memeluk bunda.
"Lagi sibuk nulis yaa?" tebak bunda sembari tersenyum. Kirana menautkan alis lalu menatap mata bunda.
__ADS_1
"Kamu kira Bunda gak tau gitu? kalau menantu bunda seorang penulis?" ucap bunda dengan nada menggoda. Kirana terkesima, ia bahkan tak tau bahwa Akbar seorang penulis. Ruangan itu selalu di kunci suaminya dan saat di hotel dulu, ia bertanya pada Akbar, lelaki itu tak menjawabnya.
"Bentar yaa, Kirana panggilin." Saat bunda mengangguk, Kirana menuju ruangan pribadi Akbar dan mengetuknya perlahan. Beberapa kali menggerutu lalu menatap tajam suaminya yang membuka pintu dengan wajah datar seperti biasa.
"Bunda dateng," ucap Kirana ketus lalu berlalu begitu saja. Entah mengapa ia terlalu sering emosi ketika di sekitar Akbar. Lelaki itu berjalan lebih dulu ke ruang tamu dan menyambut mertuanya dengan tersenyum.
"Kirana ke dapur dulu yaa."
"Mau bunda bantuin nyiapin?" Kirana menggeleng.
"Gak perlu Bun, di sini aja." wanita cantik itu lalu berjalan ke dapur.
Sementara itu, Bunda menatap Akbar dengan seksama. "Kenapa pakai topeng Bar?" tanyanya pelan. Akbar mengangkat kepala dan menatap bunda. Ia diam karena yakin bunda sudah tau jawabannya.
"Kirana yang nyuruh?" tanya bunda lembut. Akbar menggelengkan kepala.
"Ini Akbar sendiri yang mau karena ... malu," sahut Akbar pelan.
"Bunda udah denger dari Umi kamu, semoga di mudahkan yaa." senyuman lebar terbit di bibir bunda. Akbar menganggukan kepalanya.
"Aamiin Bunda, makasih."
"Jangan terlalu tertutup sama Kirana yaa. Gadis bunda itu emang bawel dan ngeselin tapi sebenarnya baik."
Akbar diam karena merasa bunda akan melanjutkan ucapannya.
"Eh kayaknya udah bukan gadis bunda lagi," ralat bunda dengan menahan tawa.
Akbar menjawab dengan senyuman. Senyuman yang getir.
Bersambung
__ADS_1
Duh bang Akbar, sama Zaraa aja yaa 😭
Jangan lupa like sama komentarnya yaa sayang ❤ Ini ada chapter selanjutnya lho ^^