
Puspa menatap seorang wanita yang tengah berbaring dengan mata yang tertutup di salah satu rumah sakit tak jauh dari bandara.
Meskipun bisa menghela napas lega tatkala sang kakak tak sampai diculik Raga. Wanita itu masih mencemaskan Kirana karena sang kakak belum sadar juga. Beberapa menit mungkin bagi Puspa terasa sangat lama. Wanita itu menggenggam tangan sang kakak dan mengangkat kedua sudut bibirnya hingga sempurna saat Kirana mulai mengerjapkan mata.
"Mbak?"
Kirana melenguh pelan sembari memijit pelipisnya. Wanita itu tersadar dan kemudian meronta dengan sorot mata ketakutan yang luar biasa. Puspa menenangkannya dan mengatakan tak terjadi apa-apa.
"Laki-laki itu gak sempat bawa Mbak karena Abi, Randy sama Puspa bisa menyusul mobilnya. Kang Wawan yang babak belur berhasil ingat plat mobil Raga."
Kirana menghela napas lega. Ia tak akan bisa menghadapi suaminya jika sampai tubuhnya ternoda. Mengingat hal itu, mata Kirana membulat sempurna. Ia menatap Puspa dan bertanya dimana ponselnya. Sang adik menggelengkan kepala tanda tak mengetahui dimana benda itu.
"Bantuin cari hp-ku," pinta Kirana dengan mata berkaca-kaca. Ia kesal karena Raga, rencana untuk menemui Abang malah tertunda. Wanita itu mulai turun dari ranjangnya dan berjalan perlahan.
"Mbak, tenang dulu yaa ...." bujuk Puspa sembari membantu Kirana untuk berbaring kembali namun wanita itu tak menuruti.
"Mbak, gak papa," sahut Kirana dengan nada kesal. Menatap Puspa yang menghalanginya dengan sorot mata tak suka.
__ADS_1
"Dek! lepas!" bentak Kirana sembari berusaha melepaskan cekalan Puspa di lengannya. Saat terlepas, Kirana menghela napas dan mulai melangkah dan lagi-lagi Puspa menghalangi.
"Dek! jangan sampai Mbak berbuat kasar. Kamu lagi hamil!" bentak Kirana dengan suara tinggi. Puspa melepaskan cekalanmya dan menatap Kirana dengan sorot mata memelas.
"Mbak harus mesan tiket ke Paris sekarang juga. Siapa tau ada penerbangan lainnya."
"Mbak!"
Teriakan Puspa membuat Kirana berjengit kaget. Hingga pintu terbuka menampilkan Abi dan Umi serta Randy.
"Mbak tolong tenang dulu," pinta Puspa lembut sembari menarik tangan Kirana agar berbaring kembali. Namun wanita itu menyentakkannya. Saat itulah Ayah dan Bunda juga datang ke sana.
Mata Kirana berkaca-kaca menatap Abi kemudian Puspa. lalu semua orang yang ada di sana. Ia menatap adiknya lagi sembari berkata, "Jadi, kamu mau halangin Mbak juga buat ketemu Abang?"
Puspa menautkan alisnya sementara yang lainnya diam saja. Kirana menatap sang ayah kemudian bunda.
"Kirana tau, Kirana udah keterlaluan sama Abang." Ucapannya di iringi air mata yang berjatuhan di pipi.
__ADS_1
"Tapi tolong, jangan memisahkan kami." Kirana menatap semua orang di sana dengan air mata yang terus membasahi netra. Wanita itu menyeka air mata dan menghiraukan pusing di kepala. Lantas kembali berkata.
"Ayah bisa mukul Kirana. Bunda juga. Tapi tolong jangan pisahkan Abang sama Kirana."
Wanita itu melangkah hingga sampai di depan Abi. Laki-laki itu menatapnya dengan sorot mata tak terbaca. Sementara bunda sudah berlinang air mata.
Kirana menatap Abi dengan sorot mata putus asa lalu bersimpuh di hadapan laki-laki itu. Wanita yang selalu angkuh itu menundukkan wajahnya di hadapan semua orang, hanya untuk sang suami. Orang yang ia cintai.
"Abi ... maaf mungkin gak akan bisa membuat Abi dan Umi maafin Kirana. Tapi tolong ...." Kirana menjeda ucapannya sesaat lalu kembali berucap, "Izinkan Kirana ketemu Abang satu kali aja. Jangan menghalangi, Kirana akan berhenti kalau yang meminta ini abang sendiri." Kirana mengatupkan tangan di dada dengan memejamkan mata. Bulir bening terus membasahi pipinya.
Bersambung
Sedikit dulu yaa ^_
Hari ini up lagi kalau banyak komentarnya. Jangan lupa juga likenya. Kalau ada vote tambahin juga 😌
Terimakasih atas apresiasi
__ADS_1
dari kalian semua❤