
Kirana mengerjapkan mata lalu melirik jam dinding di kamarnya. Wanita itu mengusap pelan telapak kekar yang ada perutnya. Memejamkan mata sembari mengeratkan pelukan ke tubuhnya. Seorang lelaki yang mendekapnya dari belakang menjadi terbangun.
Lelaki itu mengeratkan dekapannya sembari mengangkat kedua sudut bibirnya hingga terangkat sempurna. Sudah dua bulan sejak hari ia telah kembali dan rujuk pada sang istri. Sekarang usia kandungan Kirana sudah 9 bulan. Menurut HPL, Kirana akan melahirkan seminggu lagi.
"Laper?" tanya Akbar lembut sembari melirik jam dinding yang menunjukkan masih pukul dua dini hari. Saat ini, mereka berada di rumah keluarga Cakrawangsa karena ayah dan bunda yang meminta. Lebih tepatnya memaksa, lagi pula Akbar sudah harus ke kantor keluarga Cakrawangsa dan tak mungkin meninggalkan Kirana sendiri di apartemen saat dirinya sedang bekerja.
"Gak," sahut Kirana singkat sembari memejamkan mata dan mengusap perutnya. Dahi wanita itu berkerut dalam. Ia sedikit takut memikirkan tentang melahirkan. Membuatnya tak tidur nyenyak akhir-akhir ini.
"Terus kok bangun jam segini?" Akbar berucap tepat di telinga Kirana. Kemudian mengecup tengkuk sang istri dengan mesra. Kirana mengerjap gugup dengan pipi merona. Selalu saja sejak dulu, setiap sentuhan Akbar yang penuh kelembutan membuatnya gugup dan hampir gila.
Akbar membalikkan tubuh Kirana, kemudian mengambil posisi di atas sang istri dengan menyangga tubuh pada dua tangannya agar tak menindih Kirana. Ia menatap lekat wajah Kirana yang sekarang terlihat sangat menggemaskan. Pipinya terlihat berisi dan bibirnya selalu terlihat seksi.
Sementara Kirana menatap wajah Akbar pula dengan lekat. Kata Abi dan Randy, wajah Akbar sekarang adalah wajahnya yang asli sebelum kecelakaan dulu. Ia pikir, Akbar akan seperti wajah sang pendonor tapi ternyata hanya jaringan-jaringan wajahnya saja yang diambil. Bukan sepenuhnya seperti mencetak wajah.
Kirana tersentak ketika benda kenyal dan lembut menyentuh bibirnya. Kirana mulai memejamkan mata saat Akbar melumatt bibirnya. Lidah mereka bertaut saling bertukar saliva. Hingga tautan terlepas, saat mereka merasa kehabisan napas.
"Mau yaa Dek?" pinta Akbar lembut dengan sorot mata penuh cinta. Kirana mengangguk dengan kedua pipi yang sudah merona.
Akbar tersenyum lalu mengecup dahi Kirana. Mengecup bibirnya lama sembari meremass dada Kirana yang bagi Akbar, sekarang lebih besar. Istrinya mengerang pelan dengan mata terpejam. Kemudian, terjadilah aktivitas penuh gairah dan cinta. Akbar selalu suka, membuat Kirana mengerang di bawahnya. Dalam kelembutan, Akbar memasuki sang istri dengan hati-hati.
***
Pagi hari
Akbar baru saja keluar dari kamar mandi dan menghela napas saat melihat Kirana menyiapkan bajunya.
__ADS_1
Lelaki itu mendekati sang istri dan memegang bahu Kirana agar menatapnya. Lalu berkata, "Sudah Abang bilang, 'kan. Gak perlu nyiapin Dek." Akbar tau, saat dirinya pergi. Kirana menunggunya kembali sembari memantaskan dirinya sebagai istri. Ia tau dari bunda dan umi. Kerapkali, wanita yang ia cintai ini belajar memasak dan bertanya hal lainnya yang seharusnya dilakukan seorang istri. Tapi Akbar tak suka hal ini, karena ia takut Kirana terbebani.
"Abang kenapa sih gini mulu," sahut Kirana sembari menundukkan kepala. Akbar menghela napas lalu membawa wanita itu ke dekapannya. Harum mint dari tubuh Akbar yang masih bertelanjang dada membuat Kirana menelan saliva.
"Abang gak mau aja kamu cape dan juga ... terbebani karena hal ini," ucap Akbar lembut.
Kirana lekas melepas dekapan nyaman itu kemudian berkata, "Enggak sama sekali Bang, jangan ngelarang terus dong."
Tanpa menunggu sahutan Akbar, Kirana kembali berucap dengan girang, "Aku bikinin Abang kopi dulu yaa ...."
"Ya udah, tapi tunggu abang pakai baju dulu. Kita ke bawah sama-sama."
Kirana menelan saliva saat Akbar sudah selesai memakai pakaiannya. Suaminya begitu terlihat tampan dengan baju casual. Hari ini hari minggu, jadi Akbar tak ke kantor.
"Pamer kemesraan mulu," cibir ayah tanpa mengalihkan tatapan dari ponselnya. Lelaki yang sebentar lagi akan jadi kakek itu sedang memantau harga saham dunia. Tapi masih sempat mencibir putri dan menantunya.
"Iri banget kakek-kakek!" sahut Kirana ketus yang membuat Akbar menggelengkan kepala. Sejak tinggal di sini, sudah sering dirinya melihat perdebatan dan pertengkaran kecil antara ayah dan Kirana. Hal yang tak pernah Akbar temukan di keluarganya.
"Akbar, ada yang mau ayah bicarakan." Ayah berjalan menuju sofa di ruang keluarga. Sementara Kirana mendengus kesal.
"Hari ini Abang gak boleh lama-lama urusin kerjaan. Nih istri perlu dimanjain!" teriaknya menggelegar. Bunda tergelak sementara ayah diam menghiraukan. Akbar sendiri melirik sejenak istrinya sembari mengedipkan mata. Kirana tertawa.
Saat Ayah dan Akbar terlihat serius membicarakan beberapa hal tentang pekerjaan. Kirana datang membawa secangkir kopi untuk sang suami. Akbar tersenyum senang dan menyesapnya sesaat.
"Enak?" tanya Kirana yang dibalas anggukan oleh sang suami.
__ADS_1
"Buat Ayah mana?" tanya ayah sembari memicikkan mata. Kirana menatap sang ayah.
"Ya udah Kirana bikinin dulu, Bunda lagi sibuk masak," sahut Kirana lalu melenggang menuju dapur. Saat kembali lagi dengan secangkir kopi. Kirana menunggu pujian yang terlontar dari sang ayah.
"Ini rasanya-" Suara ayah terpotong karena tertegun saat Akbar menginjak kakinya. Kirana menautkan alisnya. Ia tak melihat bagaimana kaki sang suami menginjak kaki ayahnya karena terhalang meja di depan sofa.
"Dek, istirahat yaa. Nanti habis ini kita jalan," pinta Akbar dan dibalas Kirana dengan anggukan. Saat wanita itu pergi, Akbar merasakan hawa mencekam dan tatapan tajam dari sang mertua.
"Berani yaa sekarang!" dengus ayah kesal. Menatap menantunya seolah ingin menerkam hidup-hidup.
Akbar menelan saliva lantas berkata, "Maaf ayah ...." ucapnya pelan lalu kembali melanjutkan ucapan. "Kirana lagi hamil. Tolong jaga perasaannya."
"Sejak dulu, kamu minum kopi yang rasanya gini?" tanya ayah dengan menaikkan satu alisnya. Kemudian kembali berkata, "Anak itu! bikin kopi aja gak becus!"
Akbar terdiam sesaat lalu berucap, "Kirana sudah berhasil menjadi istri yang sempurna ayah. Dan ... Terimakasih sudah membuatnya hadir di kehidupan ini." Akbar mengulas senyum teduhnya.
Rasa kopi Kirana masih berbeda dari buatan lainnya. Saat orang lain mengatakan tak enak, Akbar merasa itu tak benar. Rasanya hanya sedikit berbeda.
Karena laki-laki itu memang menerima istrinya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Di mata Akbar, Kirana selalu terlihat sempurna. Kecantikan yang luar biasa dan kepribadian yang unik dan menarik di matanya.
Jika mengambil resiko kematian saja ia mau demi Kirana apalagi hal kecil lainnya. Akbar akan terus menjadi suami Kirana yang menjaganya. Tak peduli bagaimana kasar dan aneh sikap wanita itu. Tak peduli bagaimana rasa kopinya yang kata orang jauh dari kata nyaman. Dan tak peduli bagaimana wanita itu gila belanja dan suka menghabiskan uangnya. Akbar akan selalu baik-baik saja, selama Kirana berada di sisinya.
Sementara Kirana yang bersembunyi di dinding dekat ruang keluarga dan telah mendengar pembicaraan dua lelaki yang ia cintai tengah menitikkan air mata. Ia tak pernah tahu, apa alasan Allah memberikan suami seperti Akbar untuknya, penuh kelembutan dan kesabaran dalam menghadapi segala sikapnya. Memaafkan dan sering menegurnya dengan penuh cinta. Kirana menyeka air matanya. Lantas berucap syukur yang tiada tara dan mengangkat kedua sudut bibirnya hingga sempurna.
End
__ADS_1