Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa

Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa
Shopping


__ADS_3

TEKAN LIKE DULU SEBELUM BACA PLIS!


❤ Happy reading ❤


***


Akbar mengesap kopinya. Melirik sekilas Kirana yang masih tidur pulas. Bahkan dari sofa tempat ia duduk. Kecantikan istrinya masih jelas terlihat. Mata tajam itu lalu melirik jam dinding di sana. Sudah jam 9 pagi, tapi mata cantik itu masih tertutup rapat. Kirana bangun hanya untuk sholat shubuh tadi lalu kembali tidur nyaman.


Akbar ingin bertanya, apa sebenarnya ia tak ada jadwal pemotretan, tapi kemudian pemuda itu menggeleng pelan. Ia enggan. Bersamaan dengan itu terdengar suara Kirana mengerang pelan. Mata cantik itu mengerjap. Akbar segela mengalihkan pandangan ke layar laptop yang sedang menunjukkan icon microsoft word yang masih kosong. Ia kehabisan inspirasi sekarang.


sialan!


Kirana melirik Akbar sekilas lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia keluar dengan baju yang sudah rapi. Menatap Akbar cukup lama lalu memutuskan mendekat pada suaminya.


"Ada apa?" tanya Akbar tanpa mengalihkan pandangan. Merasa tak ada jawaban, Ia menatap istrinya yang ternyata sedang menggigit bibir bawahnya.


"Jangan ragu." Kirana mengerjap heran. Bagaimana Akbar tau bahwa ia sedang ragu?


"Kebiasaanmu Kirana!" Seolah tau apa yang dipikirkan istrinya. Kirana tersenyum canggung. Memang benar, kebiasaan saat keraguan menghampiri, Kirana mengigit bibir bawahnya tanpa ia sadari.


"Temenin ke mall," ucap Kirana pelan. Akbar terdiam dan menatap Kirana dalam.


"Ini beneran abaangg!" Kiran mengerjap gugup. Baru sadar nadanya tadi seperti dibuat manja. Ia menghela napas panjang.

__ADS_1


"Ya udah, sana pakai hijab dulu!" Kirana tersenyum senang. lalu berjalan ke meja rias. Memoles sedikit riasan dan memakai pashmina panjang. Berwarna senada dengan tuniknya.


***


Akbar menghela napas panjang. Masih menatap Kirana yang asik shopping di toko tempat ia berdiri sekarang.


"Nih Bang!" Kirana memberikan paperbag lagi. Wajah Akbar mulai berubah kesal tapi sang istri masih tak menyadari. Gadis itu keluar toko dan masuk di toko lainnya lagi. Begitu seterusnya. Jika yang dibayangkan mereka berjalan seperti sepasang kekasih, itu adalah sebuah penipuan. Karena sekarang Akbar lebih tepatnya seperti pesuruh Kirana yang membawa seluruh belanjaannya. Ini sangat banyak. Mungkin sudah hampir 20 paperbag. Dan Kirana masih ceria memilih beberapa barang tak penting di toko lainnya.


"Ini siapa?" tanya penjaga toko di sana. Kirana menatap Akbar. Baru ia sadari, bahwa beberapa orang menatap suaminya. Jelas karena topeng yang melekat di wajahnya. Di tambah kemeja hitam yang digulung sampai siku serta celana jins hitam membuat kesan misterius dan sedikit ... menakutkan? Sedangkan Akbar memasang wajah datar. Tapi memasang telinga tegak untuk mendengar jawaban Kirana.


"Bodyguard!"


Akbar menghela napas panjang. Memang apa yang ia harapkan? Kirana mengakuinya suami di hadapan semua orang? Pemuda itu menggelengkan kepala pelan. Menguatkan hati agar jangan pernah berharap lagi.


***


Meskipun didominasi oleh bahan kaca, kafe ini jauh dari kata ‘panas’ karena di dalamnya tumbuh banyak pepohonan dan tanaman hijau yang menyejukkan. Kafe berlantai dua ini memiliki banyak ruang makan dengan konsep yang unik dan tentunya sangat instagenik, seperti area makan yang dibuat menyerupai sangkar burung yang bisa ditemukan di lantai dua. Tidak hanya sampai di situ, makanan yang disajikan juga ditata dengan cantik dan menarik


"Bang, lagi yaa?" nada yang sangat lembut disertai rengekan dari Kirana untuk kesekian kalinya. Meminta Akbar untuk memotonya. Lagi dan lagi sejak tadi.


"Selfie aja napa!" ucap Akbar ketus lalu mengesap kopinya. Melirik sekilas beberapa orang yang memperhatikan mereka. Entah melihatnya atau istrinya yang cantik. Kirana.


"Sekali lagi yaa!" ucap Kirana memelas. Ia sudah cukup lama tak memasang foto santai seperti ini sejak menjadi model. Dulu saat ia hanya seorang gadis selebgram. Sangat sering mengunjungi tempat instagramable seperti tempat ini.

__ADS_1


"Cepetan dihabiskan!" titah Akbar setelah memotret Kirana. Istrinya mengangguk patuh tanpa menatapnya. Masih aktif menatap layar ponsel yang menunjukkan foto dirinya.


***


Akbar menatap pemandangan di hadapannya tak berkedip. Pemandangan kota besar dengan segala kesibukannya. Di tambah lampu-lampu berwarna-warni di setiap bangunannya. Sudah sangat lama ia tak kesini. Sebuah hotel milik keluarga yang biasa menjadi tempat ia liburan atau sekedar bermain seharian bersama teman-temannya.


Sementara itu, Kirana menatap punggung Akbar yang masih berdiri di balkon kamar. Mereka memang sedang menginap di sebuah hotel milik keluarga Bratajaya. Sebelumnya, Akbar singgah di butik langganan keluarga dan membeli gaun muslimah untuk kondangan adiknya. Ya, pesta pernikahan Randy dan Puspa tinggal seminggu lagi.


Mengingat itu, Kirana menghela napas panjang. Bagaimana sebenarnya nasib rumah tangganya? Kirana adalah wanita yang hidup santai dan sering tak berpikir keras saat ada masalah apapun itu. Prinsipnya, jalani saja. Tapi menatap sekali lagi Akbar yang seperti patung itu membuatnya berdecak kesal. Memang patung tak bisa berjalan. Tapi suaminya yang menyebalkan justru lebih menyeramkan.


Kirana sengaja berusaha membuat Akbar kesal.Tapi lelaki itu tak menunjukkan kekesalannya. Hanya sesekali wajahnya ditekuk lalu beberapa menit kemudian,wajah yang masih bertopeng itu datar tanpa ekspresi. Sikap diamnya yang menjengkelkan juga sangat keterlaluan.


Kirana menghembuskan napas pelan. Ia tak suka didiamkan. Boleh kah ia meminta perceraian?


Akbar masuk dan merebahkan diri di atas sofa panjang. Kirana menatapnya dengan tatapan yang entah bagaimana. Sungguh, kebingungan sangat melanda batinnya. Pendiam, wajah yang rusak dan sikapnya yang dingin membuat Kirana berdecak kesal lagi. Tapi dibalik segala hal yang menyebalkan itu. Akbar bertanggung jawab. Memberikan apapun keinginannya termasuk uang. Kirana menepuk pipinya pelan. Bahkan di saat sekarang otak materialistisnya masih berkerja cepat.


"Bang?" tak ada jawaban, Akbar mungkin sudah tidur dan Kirana justru turun dari ranjang. Mendekat pada suaminya. Bersimpuh dengan kedua lutut dan menatap dalam wajah Akbar.


"Makasih yaa Bang."


Bersambung


Makasih yaa yang udh komentar dan like apalagi votenya ❤

__ADS_1


Untuk sekarang santai aja dulu yaa, fokus sama kedekatan Akbar dan Kirana. Nanti aja konfliknya. hehe.


Kasih komentarnya yang banyak yaa. Meski cuma up atau next aja gak papa.


__ADS_2