Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa

Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa
Jangan dekat-dekat


__ADS_3

"Bismillahirrahmanirrahim. Allahumma inni as-aluka khaira-ha wa khaira ma jabaltaha ‘alaihi wa a-‘udzu bika min syarriha wa min syarri ma jabaltaha ‘alaihi."


"Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiat yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa," ucap Akbar dengan kesungguhan di dalam hati.


Akbar membuka mata dan tersenyum lega. Meraih dagu Kirana agar wanita itu menatapnya. Namun Akbar terkesima ketika melihat sorot mata takut dari mata cantik istrinya. Ia melirik tangan Kirana yang meremass ujung gaun tidurnya. Akbar menghela napas panjang lalu menatap Kirana dalam-dalam.


Lelaki itu menyatukan bibir mereka. Saat melihat mata Kirana terpejam ia juga ikut memejamkan mata. Lalu mulai melumatt dengan lembut dan dalam. Memperlakukan bibir Kirana seolah benda itu mudah tergores dan tak boleh terluka. Ia terus mengecap dan merasakan betapa manisnya bibir Kirana. Hingga rasa asin begitu terasa di lidahnya. Akbar membuka mata dan menatap Kirana yang masih memejamkan mata namun pipi itu sudah penuh dengan air mata. Ya, Air mata Kirana yang membuat ciuman mereka terasa asin dan Akbar terdiam sesaat. Membuat Kirana membuka mata dan menatapnya.


Akbar mengecup pipi kanan Kirana lalu pipi kiri. Berlanjut ke mata hingga ujung hidung istrinya. Lalu terakhir di kening Kirana. Mengecupnya penuh perasaan dan sedikit lebih lama. Sedikit mendorong hingga membuat Kirana terlentang dengan Akbar yang berada di atas tubuhnya. Akbar melepaskan kecupan itu lalu menatap dalam mata Kirana.


"Lain kali aja," ucap Akbar pelan. Kirana terdiam dan menghela napas lega. Namun ada tebersit rasa kecewa. Mengapa Akbar tak mau menyentuhnya? apa ia kurang cantik atau bahkan tak menarik? atau memang karena melihat air matanya dan tau bahwa sebenarnya ia belum rela?


"Kenapa?" tanya Kirana dengan nada pelan. Ia menatap mata Akbar dan berharap bahwa laki-laki itu tak akan berbohong padanya.


"Karena Abang gak mau, Kamu terpaksa," sahut Akbar tenang lalu kembali berucap dengan nada santai seperti biasa, " Lagian, masih beberapa bulan lagi waktu kita," lanjutnya dengan kekehan pelan.


"Gak tahan yaa?" goda Akbar dengan senyuman menyebalkan. Kirana mencebikkan bibirnya dan membuang muka.


"Gak kok, cuma Abang aneh aja. Kemaren minta sekarang malah gak mau," ucap Kirana dengan nada menggerutu.


"Mau kok," sahut Akbar lalu mengecup pipi Kirana yang spontan membuat pipi itu merona. "Tapi mau cium sama peluk aja dulu," lanjutnya dengan senyuman lebar.


Kirana mengerjap gugup lalu berucap dengan bibir yang menahan senyuman. "Ya udah kalau gitu." demi apapun, Kirana merasa sangat bahagia. Entah karena tak melakukan hal itu sekarang atau karena perlakukan manis dari suaminya. Kirana mengusap kasar pipinya untuk menghapus air mata dan jejak bekasnya.


Akbar menjatuhkan tubuhnya di sebelah Kirana lalu membawa gadis itu ke pelukannya. Mengecup lagi kening istrinya sekilas dan mulai memejamkan mata. Sementara Kirana semakin menenggelamkan wajahnya di dada suaminya.


Hening mengambil alih di antara mereka. Akbar kembali mengecup kening Kirana dalam dan lama dengan masih memejamkan mata. Suatu tindakan yang bagi setiap suami istri adalah hal yang biasa namun ada sesuatu yang luar biasa dibaliknya


Kening adalah saksi dari ketaatan pada Robbnya. Perantara tunduk pada Sang Maha pencipta. Keninglah, bagian tubuh pertama yang mengaku bahwa Allah adalah Maha Tinggi, sementara diri rendah. Saat bersujud, posisinya berada paling bawah. Simbol bahwa tiada yang lebih tinggi dari Robb Maha Pencipta. Padahal kening adalah bagian tubuh tertinggi di antara bagian yang lainnya. Allah menghembuskan ketenangan di kening seorang istri. Itulah penyebab mengapa seorang suami kerap merasa semangat dan tenang saat bibirnya menyentuh kening istri.


"Dek ...."

__ADS_1


Kirana berdehem pelan menyahut Akbar karena kesadarannya yang sudah mulai hilang sebab pelukan yang ia rasakan sekarang terasa sangat nyaman.


"Laki-laki tadi siapa?" tanya Akbar pelan. Bisa ia rasakan tubuh Kirana menegang.


"Abang udah liat Raga?" tanya Kirana sembari mendongakkan kepala. Menatap rahang Akbar yang hanya beberapa centi dari tatapannya. Ia mengerjap heran saat menyadari bahwa rahang itu berwarna agak kemerahan karena kulit Akbar yang putih pucat.


"Namanya Raga yaa? Dia ... siapa?" tanya Akbar lagi masih dengan memejamkan mata sejak tadi. Kirana mengusap rahang Akbar pelan dan suaminya justru mendesis kesakitan.


"Itu kenapa Bang?" tanya Kirana panik. Ia mengambil jarak agar dapat melihat ke seluruh wajah Akbar.


"Gak papa, jangan mengalihkan pembicaraan," sahut Akbar ketus setelah membuka mata dan menatap istrinya. Andai saja Kirana tau bahwa ia sudah banyak bicara sejak tadi dan membuat rahangnya mulai sakit lagi.


"Raga itu temen lama. Waktu masa SMA," sahut Kirana ketus lalu menjauh dari suaminya. "Kami tadi ke cafe sama temen yang lainnya. Sama Dita, Nila, Mia juga ada," imbuhnya lagi dengan tubuh di ujung ranjang. Entah mengapa ia merasa harus menjelaskan dan tak ingin Akbar berpikir mereka menjalani hubungan. Meskipun lebih tepatnya belum ada hubungan. Iya belum tapi sekarang memang tak ada apa-apa.


"Siapapun dia ...." Akbar menjeda ucapannya lalu menarik tubuh Kirana dan memeluknya dari belakang. Tangan kekar Akbar melingkar di perut Kirana dan membuat gadis itu merasa debaran tak biasa di dada.


"Jangan dekat-dekat yaaa ...." lanjut Akbar sembari memejamkan mata dan menghirup aroma Kirana. Manis dan membuatnya terlena.


***


Jika biasanya Ayah Haris mengundang kerabat dan tetangga, tapi sekarang cukup dua keluarga inti yang terlihat bahagia. Setelah makan malam selesai yang diselingi candaan dan obrolan. Sepasang suami istri Bratajaya dan kedua putra serta menantunya memilih menginap di sana.


Di ruang tamu terlihat dua lelaki paruh baya tengah mengobrol santai ditemani kopi dan beberapa kudapan dari sang istri. Hingga pembicaraan keduanya menuju hal yang lebih serius.


"Pesta pernikahan besok kata Puspa sudah beres semua," ucap Ayah Haris dengan nada santai seperti biasa.


"Alhamdulillah, memang iya," sahut Abi Ardi yang memang dikenal kurang suka banyak bicara. Bertolak belakang dengan Ayah Haris tapi tetap membuat keduanya saling akrab seolah teman lama.


"Apa gak lebih baik Akbar dan Kirana juga di buatkan pesta?" tanya Ayah Haris dengan nada canggung.


"Apa Kirana yang menolak?" tanya Ayah lagi dengan nada tak enak. Meskipun Akbar memiliki rupa seperti itu, tapi tak seharusnya Kirana menolak mengakuinya, lagi pula saat itu juga pilihannya meskipun keadaan yang memaksa

__ADS_1


"Akbar alasannya," sahut Abi tenang. Lalu melanjutkan ucapan. "Kepercayaan dirinya nol setelah mengalami kecelakaan," imbuhnya dengan nada kesedihan. Ayah berdehem pelan karena kurang nyaman dengan suasana sekarang.


"Bahkan besok malam. Anak itu bisa jadi gak datang ke pesta penikahan adiknya sendiri," ucap Abi setelah lama hening terasa.


"Apa sebenarnya yang terjadi? kenapa Akbar bisa kecelakaan sampai seperti itu?" gumam Ayah pelan tapi masih terdengar oleh Abi. Lelaki itu menghela napas panjang lalu berucap dengan auranya yang selalu tenang.


"Seseorang sengaja mencelakainya dan memang menargetkan wajahnya."


***


Sementara itu di kamar Kirana, Akbar beberapa kali terkena teriakan istrinya sebab ia menyingkirkan banyak boneka di atas ranjang istrinya. Entah berapa jumlahnya yang pasti boneka itu membuat ranjang Kirana terasa sempit.


"Abang! jangan di singkirin yang itu, aku gak bisa tidur kalau gak meluk Cinta," gerutu Kirana sambil mencoba meraih boneka beruang kecil berwarna pink yang ada di tangan Akbar. Sementara Akbar diam-diam sangat geram. Kirana wanita dewasa yang ternyata masih tak bisa lepas dari boneka tapi juga berlebihan menyebutkan tak bisa tidur karena bonekanya yang ia panggil 'Cinta'. Akbar menahan senyum geli. Nama yang alay dan lebay, pikirnya.


"Abang!" sentak Kirana dan tangannya berhasil mendapat boneka itu. Hingga matanya terbelalak saat melihat Akbar menyingkirkan semua boneka dan jatuh ke lantai begitu saja. Namun akhirnya ia memilih diam saja dan mencoba tidur dengan memeluk 'Cinta'


Kirana mulai menutup mata saat sebuah tangan melingkar di perutnya. Ia diam saja dan Akbar semakin mengikis jarak mereka. Hingga napas panas begitu terasa di tengkuk Kirana.


"Dek," ucap Akbar pelan dan hanya di balas istrinya dengan deheman.


"Cinta yang ini gak di peluk gitu?"


"Gak," sahut Kirana sembari menahan tawa. Akbar diam saja hingga beberapa saat keduanya nampak sudah terlelap bersama tapi sebenarnya tidak dengan Kirana.


Wanita itu berbalik dan menatap wajah Akbar yang masih memakai topeng hitam. Ia ingin tau apa yang ada di balik topeng itu tapi ketakutan lebih mendominasi dirinya sendiri. Hingga memilih lebih baik berkubang dalam rasa penasaran dari pada nanti menatap Akbar dengan sorot mata ketakutan. Perlahan wanita itu semakin mengeratkan pelukan. Menenggelamkan wajah di dada suaminya yang terasa sangat nyaman.


Bersambung


Mohon maaf aja nih mau mengingatkan aja ...


Karakter Kirana itu emang sulit jatuh cinta. Ingat kisahnya sama Raga? bahkan setelah tiga tahun lamanya bersama waktu SMA, Kirana baru aja mulai cinta waktu Raga justru mau pergi keluar negeri. Apalagi sama Akbar yang baru beberapa bulan.

__ADS_1


Aku tuh emang suka nyiptain karakter perempuan yang lebih nyebelin dari karakter utama pria. Soalnya bosan kan hampir setiap novel biasanya itu yang jahat atau nyebelin dalam hubungan rata2 cowoknya. Novel yang lain gitu juga. Kaya noda di balik khimar kisah Asma.


Btw, like dan komentarnya yaa jangan lupa ❤


__ADS_2