Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa

Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa
Hak


__ADS_3

Dengan senyuman yang lebar Kirana menatap Akbar yang duduk di sofa sambil memangku laptopnya. Ternyata Abang yang nyiapin cake cokelat itu! pikirnya dalam hati


"Bang," ucapnya pelan sambil duduk di sebelah lelaki itu.


"Temenin tiup lilin sama makan kuenya," pinta Kirana sembari menatap suaminya. Lelaki itu diam tak meresponnya. Dahi Kirana berkerut dalam, lalu tangan lentik itu mengotak-atik keyboard ponselnya.


"Ya udah deh, telpon Umi aja. Siapa tau mau kesini buat nemenin menantu kesayangannya," gumam Kirana sembari menekankan kata 'umi' dan ' kesayangan' . Saat gadis itu mengangkat ponselnya ke daun telinga. Akbar menyautnya lalu menarik tangan Kirana ke dapur mereka.


Sesampainya di meja pantri. Kirana duduk dengan manis lalu menatap kue di hadapannya dengan sendu.


"Gak ada lilinnya ternyata," gumamnya dramatis. Akbar berdiri dan menuju kamarnya. Kirana mengikuti di belakang dan tersenyum senang saat Akbar memegang lilin cantik berwarna-warni. Tanpa bisa menahan gejolak di dada, Kirana memeluk suaminya. Seketika itu pula Akbar membeku dibuatnya.


"Makasih Bang udah ingat ulang tahun Kirana," gumamnya masih menenggelamkan wajah di dada Akbar. Sementara suaminya itu masih terpaku lalu tersenyum lebar dan mengangkat tangan untuk membalas pelukan. Tapi Kirana lebih dulu melepaskan pelukannya dengan mengerjap gugup dan merona.


"Ayo," ajaknya sembari menarik tangan Akbar ke dapur. Akbar menatap Kirana dengan dalam lalu berjalan ke arah sakelar lampu dapur. Kirana menelan saliva.


"Abang mau ngapain?" tanyanya gugup.Keringat mulai bercucuran di dahinya.


"Biar lebih bagus, lampunya di matiin pas lilin nyala," sahut Akbar dengan mengangkat tangannya ke arah tombol kecil di sana.


"Tunggu!" cegah Kirana dengan napas memburu. Ia menatap lilin yang baru di nyalakan dua lalu meniupnya.


"Gak usah pakai tiup lilin bang, kayak anak kecil aja," kekehnya pelan.


"Tutup mata Kamu Dek," ucap Akbar pelan. Kirana mengerjap gugup dengan panggilan Akbar yang baru. Ia berdehem pelan lalu menatap Akbar yang berdiri di hadapannya.


"Tutup mata dan bayangin hal yang menyenangkan," tutur Akbar lembut lalu mengangkat tangannya untuk mengusap kelopak mata Kirana. Gadis di hadapannya menutup mata dengan patuh. Akbar mengambil korek di meja pantri lalu berjalan ke sakelar lampu. Hingga kegelapan mengisi ruangan itu. Akbar berjalan dan duduk di dekat meja pantri tepat di sebelah Kirana lalu menyalakan lilin di cake yang ada di atas meja.


"Buka mata ...." ucap Akbar pelan sembari menatap dalam wajah Kirana. Gadis itu memekik keras saat melihat kegelapan di sekitarnya.


"Bang ...." Kirana memeluk Akbar yang berada di sebelahnya dengan erat lalu pelukan itu terlepas.

__ADS_1


"Tenang Dek, Tatap mata Abang yaa?" ucap Akbar lembut sambil memegang bahu Kirana yang bergetar karena mulai terisak.


Kirana menatap mata Akbar dengan keringat yang terus bercucuran. Dadanya berdegup kencang lalu Akbar mengarahkan Kirana agar menghadap ke cake cokelatnya. Meskipun lilin di atas kue itu menyala tapi kegelapan di sekitarnya masih membuat Kirana ketakutan.


Dengan cepat ia meniup lilin lalu kegelapan mengambil alih ruangan. Kegelapan yang membuat Kirana seolah tak bisa bernapas. Dadanya mulai terasa sesak. Bayangan hewan pengerat menggigit kaki dan tangannya terlintas Hingga sebuah sentuhan lembut membuat ia berjengit kaget. Kirana membalas genggaman tangan kekar itu sembari memejamkan mata.


"Gak papa Dek, buka mata kamu," pinta Akbar pelan. Lalu Akbar berdiri dan meraih tangan Kirana dan disampirkan ke lengannya. Ikut berjalan di sebelahnya padahal sakelar lampu tak jauh dari tempat mereka duduk tadi. Saat lampu menyala, Akbar terkesiap melihat Kirana yang pucat. Dahi itu bahkan terlihat keringat hampir sebesar biji jagung.


Merasa di perhatikan, Kirana menatap mata Akbar. Mata mereka terkunci satu sama lain.


"Aku mau ngomong Bang." Akbar tersentak dan mengerjap kaget. Kirana lalu menarik tangannya agar kembali duduk seperti tadi. Mereka berhadapan dan Kirana memulai percakapan.


"Kadonya mana?" kekehnya pelan. Akbar memutar bola mata dan menyahut singkat. "Nanti."


"Aku mau sekarang dan kado berupa permintaan," ucap Kirana pelan dan sebenarnya penuh keraguan.


Akbar menghela napas panjang lalu menatap istrinya lekat dan dalam. Sepertinya tau, apa yang akan istrinya minta. "Apa?" tanya lelaki itu pelan.


Akbar tak terkejut sama sekali. Dengan santainya ia kembali bertanya padahal Kirana takut-takut menatapnya.


"Kapan?"


"Setelah bayi Puspa lahir."


"Oke, tapi ...." Akbar menjeda ucapannya dan menatap Kirana dengan seksama. Gadis itu membalas tatapannya seolah bertanya 'apa'?


"Abang minta hak sebagai suami," ucap Akbar santai. Kirana mengerjap kaget. Lalu terdiam lama dengan menundukkan kepala. Saat kepalanya terangkat dan menatap sang suami dengan lekat. Ia meremass ujung baju rumahnya dengan erat.


"OK," sahutnya singkat.


***

__ADS_1


Ke esokan harinya.


Kirana keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri. Jam sudah menunjukkan sembilan malam namun Akbar masih di ruangannya. Kirana memegang dadanya yang berdegup kencang. Akbar mengatakan bahwa ia ingin haknya malam ini.


Kirana duduk di meja rias lalu menatap pantulan dirinya di depan cermin. Apakah ini keputusan yang benar? bagaimana Raga tak ingin menikahinya lagi setelah tau ia adalah janda? Kirana menelan saliva lalu menyakinkan bahwa tak akan terjadi apa-apa. Raga akan menerimanya dan memaklumi apa yang terjadi pada keluarganya. Pernikahan ini terjadi karena ia terpaksa.


Kirana naik ke ranjang lalu mengambil ponsel di atas nakas. Rasanya sudah sangat lama ia tak membuka Endorse karena kesibukannya yang baru. Hingga suara pintu membuat Kirana menatap suaminya yang baru masuk.


Kirana mengerjap gugup lalu kembali asik dengan ponselnya padahal pikirannya sudah berkelana mengenai adegan-adegan panas yang akan ia dan Akbar lakukan. Gadis itu mengusap kasar wajahnya lalu menggelengkan kepala pelan.


"Kenapa?"


"Eh?" sahut Kirana spontan sembari mengerjap gugup. Ia baru menyadari bahwa Akbar sudah duduk di sebelahnya mungkin sejak tadi.


Akbar mendekat padanya. Mengikis jarak di antara mereka. Mengambil ponsel Kirana di tangan lentik istrinya lalu meletakkan di atas nakas sana.


Kirana menatapnya dengan menelan saliva. Memegang dada karena takut Akbar mendengar degupan kencang jantungnya.Akbar memeluknya dengan gerakan pelan.


"Jangan gugup Dek," ucapnya lembut. Kirana terdiam sembari merasakan kehangatan dari tubuh Akbar. Harum mint ini begitu maskulin dan nyaman. Mata cantik itu terpejam dengan wajah yang semakin tenggelam di dada Akbar.


Akbar melepaskan pelukan dan menatap Kirana dengan dalam. Ia mendekatkan wajah ke ubun-ubun Kirana dan mendaratkan tangan kanannya di sana. Lelaki itu mulai memejamkan mata dan melafalkan do'a.


"Bismillahirrahmanirrahim. Allahumma inni as-aluka khaira-ha wa khaira ma jabaltaha ‘alaihi wa a-‘udzu bika min syarriha wa min syarri ma jabaltaha ‘alaihi."


"Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiat yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa," ucap Akbar dengan kesungguhan di dalam hati.


Bersambung


R : Thorr kok bersambung yaa elah! itu udah baca doanya mau ena ena 😑


A : mohon maaf votenya dulu sama like dan komentar spam dong 😂

__ADS_1


Ini chapter terakhir hari ini. Yang mau kelanjutannya tolong rutin komentar spam. Tagih ajar teross. Up Up Up gituu😂


__ADS_2