Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa

Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa
Nyctophobia


__ADS_3

LIKE DULU SEBELUM BACA PLIS!


Happy reading ^_^


***


Semburat jingga menguar seketika saat waktunya sang matahari terbenam ke peraduan. Angin sore berhempus pelan ke wajah Akbar. Mata lelaki itu terpejam dengan dahi yang berkerut dalam. Seolah ada yang mengganggu pikirannya.


Akbar kemudian melangkah masuk ke dalam kamarnya. Mengambil kunci mobil dan dompet lalu pergi begitu saja dengan tangan terkepal erat.


Sementara itu, Kirana yang baru saja menyelesaikan pemotretan pertamanya tengah duduk di salah satu kursi dengan tangan yang memegang minuman.


"Kiran!" Kirana menatap Dita yang tengah berjalan ke arahnya.


"Aku duluan yaa, ada urusan mendadak nih," ucap Dita dengan raut wajah khawatir.


"Ok," sahut Kirana sembari tersenyum menenangkan. Ia tau raut wajah khawatir Dita itu untuknya.


"Buruan pulang yaa, kalau udah sampai rumah kabarin gue." Kirana mengangguk. Dita lalu pergi meninggalkan Kirana seorang diri. Menyadari bahwa ruangan sudah sepi, Kirana bergegas membereskan barang-barangnya.


"Belum pulang?" Kirana terlonjak kaget hingga hampir terjatuh ke lantai jika bukan karena sebuah tangan kekar yang meraih pinggangnya.


"Lepasin Pak," ucap Kirana pelan sembari menjauh. Bagas melepaskan tangannya yang membuat kedua tubuh itu begitu dekat.


"Maaf," ucap Bagas sembari tersenyum canggung.


"Gak papa Pak," sahut Kirana sembari kembali membereskan beberapa barangnya. Ia berusaha melupakan apa yang terjadi tadi.


"Permisi Pak," pamit Kirana sembari melewati Bagas Gerald begitu saja. Raut wajah Bagas berubah. Seolah tersinggung di abaikan begitu saja. Ia kemudian menarik napas dalam.


"Tunggu!" Kirana membalikkan tubuhnya dan menatap Bagas

__ADS_1


"Perlu saya antar?" tanya Bagas serius. Kirana tersenyum lalu menggelengkan kepala.


"Gak perlu pak, saya bisa naik taksi." bukan hanya karena tak nyaman pada lelaki di hadapannya. Tapi karena ia juga tak ingin Bagas tau alamat apartemennya hingga tau bahwa Kirana sudah menikah dan tinggal bersama suaminya.


"Permisi," pamit Kirana sembari melangkah cepat, meninggalkan Bagas yang mengepalakan erat tangannya. Kedua orang itu tak tau bahwa sejak tadi ada yang memperhatikan mereka.


***


Akbar menginjak pedal gasnya. Menaikkan kecepetan mobilnya agar bisa menyusul mobil BMW mewah yang ada di depannya. Ia tak boleh kehilangan jejak. Ia harus mengetahui motif lelaki yang menjadi musuhnya sejak dulu.


Criiitt!


Suara bedecit ban yang bergesekan keras dengan aspan jalan raya begitu memekik telinga. Akbar mengucap hamdalah karena selamat lalu membulatkan matanya saat lelaki yang ia ikuti tengah berjalan ke arah mobilnya. Dengan cepat, Akbar mundur perlahan. Mencari celah untuk lari. Hingga akhirnya ia berhasil pergi.


Bagas menatap tajam mobil Akbar yang tengah melaju cepat ke arah jalan raya besar. Bibirnya tersenyum merendahkan. Ia tau, sejak tadi, mobil itu mengikutinya. Entah siapa yang berada di dalam, yang jelas Bagas harus bersikap lebih waspada.


***


Akbar mendengus kesal. Ia memang tak pernah berpengalaman tentang mengikuti seseorang atau menjadi penguntit. Akbar mengusap wajah frustasi. Ia memilih kembali ke apartemennya.


Ddrttt!


Akbar hanya melirik sekilas nama panggilan di layar kaca ponselnya.


Kirana


Ia memilih mengabaikan karena merasa sedang kesal. Beberapa kali panggilan itu berbunyi. Membuat kekesalan Akbar memuncak lalu ia mengangkat telpon.


"Ada apa!?" bentaknya dengan keras.


"Eh sakit Bang, gak usah teriak-teriak lah!" Akbar menautkan alis. Itu suara Randy bukan Kirana.

__ADS_1


"Istighfar Bang, kenapa sih?" tanya Randy dengan bingung. Merasa tak ada jawaban, Randy melanjutkan ucapannya


"Ini, Puspa katanya mau ngomong." Akbar menautkan alis.


"Assalamualaikum Bang, Ini Puspa," suara di seberang sana begitu terdengar khawatir.


"Wa'alaikumsalam, iya ada apa?" sahut Akbar datar.


"Mbak Kirana tadi nelpon beberapa kali, tapi Puspa lagi di kamar mandi. Mas Randy juga baru pulang dari kantor makanya gak denger. Di telpon balik udah gak aktif. Mbak Kirana baik-baik aja kan?" degupan jantung Akbar meningkat pesat.


"Iya baik," sahut Akbar datar. Menyembunyikan kekhawatiran padahal ia tengah menaikkan kecepatan mobilnya.


"Alhamdulillah, Puspa takut banget tadi kalau phobia Mbak Kirana kambuh." terdengar helaan lega di seberang sana. Berbeda dengan Akbar yang langsung menegang.


"Phobia?"


"Iya, Mbak Kirana Phobia Nitophobia kalau gak salah namanya. Intinya itu Phobia sama gelap."


Deg.


Raut wajah Akbar memucat.


"Takut aja tadi 'kan kalau Mbak Kirana gak lagi sama abang. Kalau lagi sendirian terus listrik mati malam-malam begini. Mbak Kirana bisa ketakutan setengah mati."


Akbar memutuskan telpon tanpa mengucapkan salam. Ia menginjak pedal gas. Berharap segera sampai ke apartemen. Sebagai penulis ia cukup tau bahwa phobia Nyctophobia bukan phobia yang bisa di anggap remeh. Apalagi berdasarkan kecemasan Puspa, mungkin saja Kirana memang berada di ketakutan tahap tertinggi. Di tambah tadi Kirana menelponnya beberapa kali. Apartemennya memang sesekali mati listrik untuk berbagai macam alasan.


Nyctophobia adalah kondisi ketakutan ekstrem pada kegelapan atau malam hari. Nyctophobia juga dapat menyebabkan gejala kecemasan dan depresi. Bahkan, fobia gelap ini bisa menjadi berlebihan, alasannya tidak masuk akal, dan bisa memengaruhi kehidupan sehari-hari.


Sesampainya di apartemen ia menghela napas lega. Listrik tak mati. Saat ia masuk ia merasa suasana begitu sunyi. Akbar melangkah ke kamar. Matanya membulat sempurna saat melihat tubuh Kirana tergeletak tak berdaya.


Bersambung

__ADS_1


Mohon maaf yaa kalau up cerita ini lama banget. Zaraa lagi fokus sama cerita yang udah di kontrak. Doakan aja Zaraa yaa biar punya banyak waktu dan ide-ide bermunculan. Biar bisa terus up 😊


Baca juga cerita Zara yang lain yaa. Terimakasih yang udah ngasih like, komentar dan votenya ❤❤


__ADS_2