Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa

Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa
Laparr


__ADS_3

"Terus, habis itu?"


Tanpa menjawab lebih dulu pertanyaan Dita. Kirana berjalan menuju dapur apartemen sahabatnya. Mengambil semua cemilan dan minuman yang ada di lemari pendingin, wanita itu lantas membawa kembali ke ruang tamu.


Menghiraukan tatapan horor ketiga sahabatnya. Kirana berkata, "Gue gampar terus bilang, 'jangan pernah ganggu gue lagi! hubungan kita udah berakhir dari dulu' terus gue langsung pergi. Keren, 'kan?" tanyanya memuji diri sendiri.


Ketiga wanita itu serentak mencibir padanya dengan kata narsis. Kirana memang barbar dan selalu mengungkapkan apa yang ada di pikirannya. Selalu berterus terang sedari dulu.


"Terus respon Raga gimana? ekspresi mukanya?" tanya Mia dengan tatapan tak terbaca. Kirana mulai melahap cemilan yang ada di tangannya. Keripik singkong rasa balado kesukaannya.


"Entahlah, kepala gue udah dipenuhi sama sang pemilik hati ini. Gak perhatiin sama sekali. Raga diam dan waktu itu gue cuma ngeliatnya sekilas aja," sahut Kirana lalu meminum jus jeruk kesukaannya.


"Jahat banget lo Na," ucap Mia yang membuat ketiga wanita lain di sana menatapnya. Mia kembali berkata, "Seharusnya itu kasih pengertian lah, gak usah pakai gampar segala."


"Gue udah ngelupain tentang dia dan kalian berdua yang ngejebak gue," sahut Kirana sinis sembari menatap Mia dan Nila. Lalu kembali berkata, "Gue pikir-pikir, hari itu emang kesalahan gue, 'kan? marah dan ngebentak sama suami sendiri. Tapi yang mancing emosi gue saat itu 'kan keadaan? Raga pantas disalahkan."


Mia kembali menganga ingin berkata namun lebih dulu Dita. Wanita itu berusaha memangkas bibit pertikaian kedua sahabatnya dengan berkata, "Raga emang salah dan dia ke Kirana kayak gitu bukan karena cinta tapi obsesi semata."


Sejenak hening mengambil alih ruangan itu. Keempat wanita cantik itu larut dalam pikiran masing-masing. Hanya terdengar suara Kirana yang terus makan sejak tadi.


"Lo makan mulu dari tadi!" ucap Nila sembari menautkan alisnya. Kirana menatapnya.


"Gue laper, emangnya kenapa? Dita aja gak masalah kok. Gue habisin makanannya. Lagian dia harus jaga badannya, 'kan?" sahut Kirana dengan melototkan matanya.


"Biasa aja kali Na, gue cuma heran aja," sahut Nila dengan sorot mata sedikit takut. Kirana sangat sensitif belakangan ini. Membuatnya takut jadi korban selanjutnya. Setelah memaki suaminya dan menampar Raga, bisa jadi selanjutnya dirinya yang akan dimutilasi Kirana. Begitu pikiran di kepala Nila.


"Terus lo udah coba hubungin abang?" tanya Dita santai. Kirana menatapnya tajam.


"Apa sih Ta! namanya Akbar. Gue aja yang boleh manggil dia Abang!" sahut Kirana ketus lalu membuka kembali cemilan berisi malkist cokelat.

__ADS_1


"Lo kenapa sih!" ucap Mia dengan nada sedikit tinggi sembari melayangkan bantal sofa yang ada di sebelahnya hingga mendarat tepat di wajah Kirana.


"Dari kemaren barbar banget. Sekarang juga sensitif yaa elah!" lanjut Mia dengan nada dramatis.


"Serah gue lah! hidup-hidup gue!" Kirana lalu kembali berucap, "Abang gak bisa dihubungan dari kemaren." raut wajah itu berubah. Ketiga sahabatnya menyadari hal itu.


"Lo gak papa Na?" tanya Nila polos. Mia dan Dita mendelikkan mata. Menatap Nila seolah ingin menerkam gadis itu.


"Gak papa," sahut Kirana pelan. Kemudian menghela napas kasar.


"Gak papa, cuma kangen aja. Masakan Abang, perhatiannya, suaranya, dan aroma tubuhnya."


***


Malam harinya.


"Bun ...."


Wanita yang sedang berada di dapur itu menatapnya dengan sorot mata kecewa. Lalu menuju kamarnya dan menghiraukan Kirana.


Kirana duduk pada kursi di meja dapur lalu menunduk dalam. Berpikir seharusnya sudah menduga hal ini akan terjadi. Bunda pasti kecewa pada sikapnya terhadap Akbar yang sudah menyebar. Melalui sebuah sosial media, Video itu sudah ditonton banyak orang di Indonesia.


Kirana kemudian tertegun saat melihat ayahnya datang dengan wajah datar. Sama seperti sang bunda. Lelaki itu juga menghiraukannya. Ayah duduk di sana lalu memanggil sang bunda agar menyiapkan makan malam segera.


Kirana masih duduk di sana. Menunduk saja. Sedangkan ayah dan bunda makan malam dengan suasana hening serta masih menghiraukannya.


"Maaf ...." lirih Kirana dengan isakan tertahan. Ia tak suka didiamkan. Apalagi oleh orang yang tersayang. Orang tuanya.


"Abang ngucapin talak kemaren," lanjutnya dengan isakan pelan. Kirana menyeka air matanya.

__ADS_1


"Bagus kalau gitu," sahut ayah tajam yang membuat Kirana mengangkat kepala.


"Maaf udah bikin Ayah kecewa," ucap Kirana sembari menatap laki-laki itu.


"Ayah udah gak nafsu makan Bun," ucap sang ayah lalu berdiri dan menuju kamarnya. Kirana berdiri dan ingin mengejarnya tapi sang bunda menahannya.


"Bunda ...." Kirana memeluk sang bunda dengan tangisnya yang pecah.


"Semua rencana Raga Bun, dan Kirana masuk dalam jebakannya," ucapnya di sela tangisnya. Bunda melepaskan pelukan pada putri sulungnya lalu mendudukkan Kirana.


"Udah minta maaf sama keluarga Bratajaya?" tanya Bunda lembut. Awalnya ia juga marah dan kecewa. Tapi melihat Kirana yang nampak kacau dengan berderai air mata. Wanita paruh baya itu tak tega lagi menghiraukan sang putri.


Kirana menggelengkan kepala. Lalu berkata, "Besok Kirana mau nyusul Abang ke rumah Papa. Sebelum itu ke rumah Keluarga Bratajaya dulu."


Bunda menganggukan kepala. Wanita itu mengerti bahwa putri sulungnya pasti meminta saran dan ingin bercerita sekarang mengenai segala hal yang terjadi.


"Tapi sekarang Kiran mau makan dulu boleh?" tanya Kirana sembari menatap sang bunda. Saat bunda menganggukkan kepala, Kirana lantas segera mengambil piring dan melahap makan malam.


"Belum makan malam yaa sayang?" tanya Bunda lembut yang dibalas gelengan.


"Udah tadi sama Dita," sahutnya di sela mengunyah makanan.


"Aku laper banget Bun," lanjut Kirana yang membuat sang bunda menautkan alisnya.


Bersambung


Gak jadi seminggu yaa😂 Dukung terus Zaraa melalui like, komentar dan votenya.


Banyakin komentarnya. Spam juga gak papa😌 Terimakasih atas apresiasi dari kalian semua ❤

__ADS_1


__ADS_2