Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa

Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa
Tak Bisa


__ADS_3

Puspa tercengang menatap Kirana. Wanita yang selalu angkuh itu bersimpuh di hadapan Abi untuk sang suami. Itu berarti Akbar memang sangat penting bagi Kirana.


Puspa tau siapa kakaknya. Wanita itu sangat sulit mengungkapkan rasa. Meminta maaf atau mengekpresikan rasa, cukup sulit bagi seorang Kirana. Jadi, kadangkala ia langsung memberikan sikap yang tak terduga. Sebagaimana dulu, demi ia dan bayinya. Kirana siap menikahi kakak dari suaminya.


"Sayang, tenang dulu," ucap Umi sembari membantu wanita itu berdiri dan mendekapnya erat. Lalu kembali berucap, "Ayo duduk dulu, kamu harus menjaga dirimu Kirana. Pada trimester pertama, kandungan biasanya sangat lemah."


Kirana menyeka air mata dan menatap sang mertua. Lalu bertanya, "Maksud Umi apa?"


"Iya Nak, kamu hamil." Sahutan dari Umi membuat Kirana tercengang. Sementara Bunda, tersenyum senang karena sudah menduganya. Ia ingin menanyakan beberapa hal kemaren tapi Kirana justru tergesa pergi dan mengatakan akan kembali ke rumah nanti.


"Hamil?" gumam Kirana pelan sembari menyentuh perutnya sendiri. Matanya berkaca-kaca lalu perlahan. Kedua sudut bibirnya terangkat sempurna.


"Aku hamil!" serunya senang dengan mata berbinar. Lalu kembali berucap dengan penuh kebahagiaan. "Abang pasti seneng banget."


"Ini alasannya. Dokter bilang sama kami tadi kalau berbahaya melakukan perjalanan jauh apalagi saat masih trimester pertama," ucap Umi sembari mengusap kepala Kirana. Rasanya kemarahannya langsung sirna saat mendengar kabar ini dari suaminya tadi. Lagipula, bisa jadi saat hari itu karena memang perasaan Kirana yang tengah sensitif, pikir Umi.


"Kami sama sekali gak menghalangi hubungan kalian Nak," imbuh Umi sembari mengulas senyum teduhnya. Kirana terdiam dengan dahi berkerut dalam.


"Tentang Abang, kami akan mengabarinya. Dan biar dia yang kesini aja," ucap Umi lagi saat melihat binar Kirana meredup saat dikatakan bahwa ia tak bisa menyusul sang suami.


"Bi, kabari abang sekarang juga," ucap Umi sembari mengalihkan tatapan pada Abi. Raut wajah lelaki itu membuat Umi menautkan alisnya.

__ADS_1


"Nomer Abang gak bisa dihubungi dari kemaren," ucap Kirana dengan mata berkaca-kaca. Sementara Randy langsung mencoba menelpon sang kakak. Tapi ternyata benar.


"Emang gak bisa Mi, udah kucoba nih," ucap Randy yang membuat Umi menautkan alisnya. Menatap tajam sang suami dan mendekat pada laki-laki itu.


"Bi, kok diam aja si?" tanya Umi sembari memegang lengan lelaki itu. Lalu kembali berkata, "Abi nyembunyiin sesuatu tentang abang?"


Abi menghela napas berat. Kemudian berucap, "Maaf, abang sendiri yang mau hal ini dirahasiakan. Tapi sekarang gak ada pilihan selain memberikan alasan apa yang terjadi sama laki-laki itu."


Kirana menatap khawatir pada Abi. Perasaannya tiba-tiba saja tak enak. Hingga ucapan selanjutnya dari sang mertua membuat Kirana mengerjap tak percaya.


"Abang sedang melakukan perawatan sebelum transplantasi wajah." Abi menghela napas kasar sembari menatap Kirana yang raut wajahnya sudah berubah.


"Sebelum operasi, Abang harus konsultasi ke psikiater dulu. Dan itu sebabnya. Kita tak bisa menghubunginya. Itu akan mempengaruhinya—katanya. Daddy yang ada di sana mengabarkan hal itu pada Abi kemarin. Jadi memang Akbar gak diperbolehkan memegang ponselnya dan fokus melakukan berbagai prosedur rumit dan panjang di sana."


***


Kota Amiens, Prancis.


Sementara itu, seorang lelaki tengah duduk tenang dalam sebuah ruangan yang memang di desain menenangkan.


"Kau sudah bertahan 10 tahun dengan wajah seperti ini dan memilih transplantasi sekarang karena mantan istri?" tanya laki-laki paruh baya dengan bahasa Inggris yang begitu kental.

__ADS_1


Lelaki muda yang duduk di hadapannya mengulas senyum. Kemudian berucap dengan sorot mata penuh cinta.


"Ya, mantan istriku sangat cantik dan sempurna. Aku ingin agar pantas berada di sisinya."


"Tapi mengapa sebelumnya, kau menceraikannya?"


"Karena aku tak tau apa bisa selamat dari hal ini. Aku tak ingin memberinya harapan."


Lelaki paruh baya itu menganggukkan kepala tanda mengerti lalu berucap dengan hati-hati, "Aku mengerti, memang resiko terbesar tranplantasi ini adalah kematian."


"Tak apa, aku siap menerima resiko apapun itu demi dirinya," sahut Akbar sembari tersenyum lebar.


Bersambung


Zaraa ingetin kalau-kalau lupa ;)


Daddy/Papa : ayah Abi/kakek Akbar & Randy


Transplantasi beda sama operasi plastik. Bisa lihat chapter 22 berjudul transplantasi wajah.


Jangan lupa like nya, banyakin komentarnya dan tambahin votenya dong yaa 😌

__ADS_1


Terima kasih atas apresiasi


dari kalian semua ❤


__ADS_2