
Hujan terus membasahi bumi sejak dini hari. Menjadikan beberapa orang sulit beraktivitas dan bahkan lebih suka rebahan. Sementara Akbar terus menatap ke luar jendela kamar. Melihat bagaimana rintik-rintik hujan terus berjatuhan. Indahnya bulir bening itu tak berlangsung lama ketika menyentuh tanah atau benda lainnya. Bulir hujan akan hancur dan lebur menjadi air biasa. Fenomena yang biasa tapi Akbar suka melihatnya. Seolah Allah mengajarkan pada kita. Segala hal yang indah tak akan berlangsung lama dan akan tersapu oleh waktu.
Akbar tersentak ketika merasakan pelukan dari belakang. Ia menarik kedua sudut bibirnya hingga sempurna sembari mengusap tangan lentik di perutnya.
"Abang ...."
Akbar suka nada manja Kirana, karena itu ia langsung berbalik dan mengecup kening istrinya. Lelaki itu bertanya, "Ada apa?"
"Dingin ...." sahut Kirana dengan menggigit bibirnya. Akbar mengusap bibir bawah Kirana dan berkata dengan sorot mata bahwa jangan menggigit bibirnya lagi, tapi Kirana nampaknya tak mengerti.
"Bang ...." Kirana menggigit bibirnya lagi. Kebiasaan ketika merasa ragu.
Akbar kembali mengusap bibir kemerahan itu dengan ibu jari, kemudian berucap dengan lembut, "Bilang aja, jangan gigit terus Dek, jangan menyakiti diri."
Kirana menautkan alisnya sembari menatap sang suami. Menyakiti diri apa yang dimaksud Akbar, begitu pikirnya.
Akbar mengangkat tubuh Kirana ala bridal dan membuat wanita yang memiliki perut buncit itu terkejut kemudian tertawa. Ia berkata, "Ish! abang gak berat apa?"
Akbar meletakkan tubuh Kirana di ranjang mereka. Kemudian ikut merebahkan diri di sana. Berusaha mengalihkan pembicaraan dari pertanyaan menjebak, ia lantas berkata, "Bilang aja mau apa ... jangan digigit lagi, nih bibir udah punya Abang."
"Enak aja!" sahut Kirana spontan. Kemudian kembali melanjutkan, "Ini bibir aku yaa bang!"
"Iya deh iya, mau apa tadi?" tanya Akbar lagi dengan tertawa kecil.
Kirana memberengut kesal menatap sang suami lalu membalikkan tubuhnya. Membelakangi Akbar. Bukankah sudah mengatakan, Kirana kedinginan? lalu mengapa lelaki itu masih bertanya! geram Kirana. Hingga ia merasakan kehangatan dari selimut yang dibalutkan ke tubuhnya. Di tambah tubuh kekar yang dari belakang memeluk Kirana. Wanita itu menarik kedua sudut bibirnya hingga sempurna. Memang ini keinginannya. Di manja.
"Udah gak dingin?" tanya Akbar lembut lalu mengecup tengkuk Kirana. Wanita itu kembali menggigit bibir bawahnya.
"Apa perlu rahimnya juga dihangatin Dek?"
Kirana spontan membalikkan tubuh dan mencubit pinggang sang suami. Masih dengan memukul dada Akbar, ia berucap dengan geram, "Ih Abang kok nanya gitu!"
__ADS_1
Akbar terkekeh sembari menahan pukulan selanjutnya dari Kirana. Pukulan kecil yang tak berasa dan justru bagi Akbar apa yang baru saja dilakukan Kirana adalah sesuatu yang mesra. Lelaki itu berkata, "KDRT nih Dek."
"Abisnya nanya gitu nyebelin banget," ucap Kirana yang sekarang tangannya justru mengelus dada sang suami.
Akbar menatap Kirana dengan lembut. Menyingkirkan surai rambut yang menutupi wajah Kirana ia kembali berkata, "Yaa 'kan siapa tau emang lagi mau."
Lelaki itu kemudian merosotkan tubuhnya ke bawah hingga kepalanya sejajar dengan perut Kirana. Akbar menyingkap daster rumahan Kirana di perutnya kemudian berkata, "Kami gak sabar nunggu kamu boy."
"Emang udah ada namanya Bang?" tanya Kirana sembari mengusap kepala sang suami yang tengah menciumi perutnya. Mereka memang tak pernah mendiskusikan sebuah nama karena sesuai dengan catatan kecil yang tertera di ruang pribadi Akbar dulu, Kirana hanya ingin suaminya sendiri yang memilih nama.
"Udah," sahut Akbar singkat. Kirana ingin bertanya dan kemudian terpekik pelan saat sang suami justru sudah semakin kebawah dan mengecup betisnya.
"Bang," erang Kirana pelan. Akbar merangkak di atas tubuh Kirana tentu tanpa menyakiti istrinya. Dengan bertumpu pada kedua tangannya, Akbar mengecup kening Kirana dalam dan lama.
Lelaki itu kemudian menatap istrinya. Saling mengunci lewat tatapan mata lalu menyatukan bibir mereka. Akbar melumatt bibir Kirana dengan lembut seolah takut bibir itu terluka. Mengecapnya dalam dan penuh luapan kasih sayang.
Bibir itu beralih ke leher jenjang Kirana. Akbar mengecup dan mengisap kulit di sana. Feromon yang dikeluarkan tubuh Kirana selalu membuatnya menggila. Kirana memperdalam dengan meraih tengkuk sang suami. Mereka kembali mengecap indahnya hubungan suami istri.
***
"Atur napas dulu Nyonya," ucap wanita yang tengah menangani Kirana.
"Hah ... hah ...." Kirana berusaha mengatur napas seperti titah wanita itu. Ia menatap sang bunda yang di sebelah lalu berkata, "Pengen abang Bun."
"Udah bukaan 9, sekarang ikuti aba-aba saya yaa. Tarik napas panjang. Hitungan ketiga mengejan sekuat tenaga. Satu, dua, tiga!"
"Aaargh!!" Kirana mengejan sekuat tenaga. Kemudian wanita itu melihat Akbar masuk dengan raut wajah tak tega melihatnya. Tapi ia ingin Akbar berada di sisinya dalam mempertaruhkan nyawa buah hati mereka. Hingga sekarang ia dampingi bunda dan suaminya.
"Lagi Nyonya, dorong!"
"Aaargh!" Kirana mengejan lagi dengan sekuat tenaga sembari meremass tangan sang suami. Kecupan di dahi dan penyemangat dari mulut sang suami membuat wanita itu kian bersemangat.
__ADS_1
"Dorong lagi!"
"Aarrrrrghh!! Aaargh!!" Wajah Kirana memucat dipenuhi keringat.
"Dorong lagi! dorong yang kuat!"
"Aaarghhh!!" Satu dorongan yang kuat membuat Kirana membulatkan mata saat merasa sesuatu yang besar lolos di bawah sana. Di iringi tangisan merdu yang terdengar begitu luar biasa.
"Oek! Oek!" Suara yang menggetarkan hati Akbar dan Kirana. Wanita itu menoleh ke bunda yang tengah tersenyum padanya. Lalu pada Akbar yang tengah mengecupnya dengan mesra.
"Makasih Dek, makasih!" ucap Akbar sembari mengecup puncak kepala Kirana. Wanita itu nampak begitu lelah.
"Selamat Tuan dan Nyonya, bayinya laki-laki." Kirana sekarang mengerti mengapa banyak wanita yang mampu melahirkan. Karena sekarang ia merasakan. Rasa lelah dan sakit yang baru ia rasakan begitu terbayar lunas dengan makhluk mungil yang menggemaskan.
"Namanya Athaya Giandra Bratajaya," ucap Akbar sembari mengecup bayi yang sudah ada di tangannya.
***
Holla ! apa kabar! ^_^
Aku suka nama Athaya. Itu nama bisa untuk laki-laki sama perempuan yaa, hehe
Btw, Zaraa gak lelah ngucapin terima kasih karena sudah memberikan apresiasi melalui like, komentar dan votenya.
Zaraa udah putuskan ada season keduanya yang berjudul My Lovely Husband. Masih kisah rumah tangga Akbar dan Kirana. Tentu dengan konflik yang baru. Gimana juga keseharian mereka dalam menjaga Athaya? hehe. apa nanti ada adiknya?
Tapi sayangnya, Zaraa masih perlu riset mendalam untuk season kedua. Zaraa harap kalian sabar yaa. Covernya udah jadi dong, nih wkwk
Jangan di unfavorit yaa kalau tertarik sama season dua. Nanti ada pemberitahuannya
__ADS_1
Terimakasih semuanya ❤❤