Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa

Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa
Pendapat Ayah & Bunda


__ADS_3

"Pernikahan Kirana sama Abang 'kan terpaksa," ucap Kirana dengan nada pelan. Ia menjeda ucapannya sesaat lalu kembali berucap, "Kalau Kiran gugat cerai Abang dan nikah sama Raga gimana?"


Kedua orang tuanya terkesiap. Ayah menatap putrinya dengan mengerjap tak percaya.


"Kamu bercanda Kirana?!"


Kirana dan bunda berjengit kaget. Wanita itu mengusap pelan telinganya dan menatap tajam sang ayah.


"Gak perlu pakai teriak ayah! biasa aja nanya-nya," ucap Kirana dengan mendengus kesal. Ayah memijit pelipisnya.


"Otak kamu itu ditaruh di mana?" tanya ayah lembut yang membuat Kirana menautkan kedua alisnya. Memilih diam dan sang ayah melanjutkan ucapan.


"Kamu mau mempermainkan sebuah pernikahan? pernikahan itu hubungan yang sakral Kirana." Ayah menjeda ucapannya sesaat karena mengatur emosi pada sang putri. Lalu kembali berucap. "Mana bisa habis cerai, nikah sama laki-laki lain. Gak semudah itu yaa maemunah!" geram ayah dengan mencubit lengan Kirana.


"Sakit ayah," ucap Kirana sembari meringis. Wanita itu kembali menatap tajam ayahnya. "Bisa dong yah."


"Abang itu pendiam banget. Terus sikapnya aneh. Minusnya yaa yang paling banyak wajahnya," ucap Kirana dengan mengalihkan tatapan. Ia menatap ke depan. Matanya menerawang jauh. Sementara ayah dan bunda hanya diam menyimak.


"Kirana gak pernah mempermainkan sebuah hubungan Yah, awalnya Kirana pikir semuanya bakalan baik-baik aja. Nikah sama Abang meski terpaksa tapi nanti akhirnya bisa saling nerima," ucap Kirana dengan nada pelan. Mengingat kembali bagaimana rasanya tak nyaman saat Akbar terus memakai topeng sepanjang siang ataupun malam.


Wanita itu kembali melanjutkan ucapan. "Tapi Raga tiba-tiba datang. Ngelamar Kirana meskipun udah tau Kirana udah nikah dan sekarang jadi istri orang lain."

__ADS_1


"Raga laki-laki yang baik ayah, dia nolongin Kirana dulu. Ayah gak tau 'kan gimana rasanya dikunci di dalam gudang. Di gigit tikus di kegelapan." Kirana menahan isakan saat mengingat hari itu.


"Raga bahkan nerima meskipun Kirana udah jadi janda nantinya," lanjut Kirana sembari tersenyum.


"Kamu gak ada perasaan apapun sama Akbar Nak?" tanya Bunda lembut. Kirana terdiam beberapa saat lalu menjawab.


"Gak Bun, hubungan kami cuma sebatas menghargai antar suami istri. Gak lebih dari itu," ucap Kirana pelan. Mengingat Akbar tak pernah mengungkapkan bahwa mencintainya, membuat Kirana merasakan sesak di dada. Wanita itu memegang dadanya dengan menautkan kedua alisnya. Aku kenapa yaa? Pikirnya


"Kenapa?" tanya Bunda yang membuat Kirana tersadar. Wanita itu menatap sang bunda.


"Apanya?" tanya Kirana balik.


"Malah nanya balik!" ucap ayah dengan ketus. Wajah lelaki paruh baya itu berubah muram sejak Kirana mengatakan ingin bercerai dengan Akbar.


"Udah udah," lerai bunda dengan menghela napas kasar. Kirana kembali menatap bundanya.


"Jadi gimana?" tanya Kirana dengan sorot mata frustasi. Ia bingung dengan perasaannya sendiri.


"Perceraian atau talak adalah satu-satunya perbuatan yang dihalalkan tapi sangat tak disukai oleh Allah Kirana," ucap bunda lembut. Wanita yang memiliki wajah perempuan jawa dengan kecantikan di atas rata-rata itu kembali melanjutkan ucapannya.


"Tapi kalau memang hubungan yang terpaksa membuat kamu tersiksa atau tertekan. Akan lebih baik di akhiri."

__ADS_1


"Apaan sih Bun?" protes ayah tak terima. Lelaki itu kembali berucap dengan bersungut kesal. "Aku mau menantu Akbar yaa, gak setuju sama Raga!" Ayah menghela napas berat. Raga Fatah Lesmana adalah putra satu-satunya dalam keluarga Lesmana. Bisa dipastikan bahwa laki-laki itu akan mengurus perusahaan keluarganya. Jadi tak bisa mengurus perusahaan Cakrawangsa tapi jika Akbar yang menjadi menantunya. Suatu hari, lelaki itu pasti akan menerima dan menjalankan perusahan miliknya sementara milik Bratajaya sudah ada Randy.


Kirana membulatkan matanya dengan sempurna. Baru ia menganga ingin memberikan banyak kata pada ayahnya, bunda kembali berucap yang membuatnya terdiam seketika.


"Sayang dengerin bunda, yang tau keinginan dan kebutuhan kamu itu cuma diri kamu sendiri. Jangan mengambil keputusan gegabah yang membuat diri kamu sendiri terluka. Masa sih gak ada rasa sama suami sendiri?"


"Lagian jangan ngomong nikah karena terpaksa mulu. Pernikahan kalian berarti emang udah takdirnya. Terlepas dari perbuatan Puspa." Ayah Haris menimpali.


Kirana terdiam mencerna segala yang ayah dan bundanya ucapkan. Wanita itu menautkan alisnya ketika sebuah kalimat teringat jelas di pikirannya.


'Allah selalu memberi apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan'


Kirana menghela napas berat. Bagaimana jika sebenarnya yang ia butuhkan adalah seorang Akbar? tapi ia menginginkan Raga.


Bersambung


Jadi, apakah Kirana merubah keputusannya? ๐Ÿ˜


Apapun keputusan Kirana. Harap tenang saudara-saudara. Dipersilakan mengumpat sepuas hati di kolom komentar ditujukan buat Kirana tapi jangan author Zaraa๐Ÿ˜’


Nanti Zaraa malah kesel dan malas melanjutkan ๐Ÿ˜‚ Jangan lupa like sama komentarnya yaaโค

__ADS_1


Kalau ada poin atau koin lebihan boleh dong di sumbangin kesini ^_^


__ADS_2