Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa

Terpaksa Menikahi Si Buruk Rupa
Nasehat Bunda


__ADS_3

Bunda, Kirana dan Akbar makan malam dengan suasana yang hangat. Sebab kehadiran bunda di tengah-tengah mereka. Akbar merasa memiliki dua ibu yang sangat luar biasa. Sikap bunda begitu lemah lembut dan terlihat penyabar. Berbanding terbalik sepertinya dengan sang anak. Matanya melirik Kirana yang terus tersenyum dan sesekali tertawa saat bunda menceritakan kenakalannya saat kecil. Mata Akbar berbinar bahkan jika hanya menatap bibir itu yang terus melengkung tersenyum dan mata Kirana yang penuh dengan sorot bahagia.


Eh tunggu! Apa aku jatuh cinta?


Akbar terkesima atas pertanyaan dari benaknya sendiri. Kemudian menggeleng pelan dan mengucapkan. Jangan Akbar!


"Akbar." suara itu membuat Akbar tersentak dan menatap bunda. Matanya mengerjap gugup entah karena apa.


"Ya Bun?"


"Kok diam aja?" tanya Bunda setelah menelan kunyahannya.


"Abang itu emang pendiam bun." Kirana yang menyahut tengah terkekeh.


"Ulu ulu... udah kenal sama kepribadian suaminya sendiri?" goda bunda dengan sorot mata penuh arti. Kedua suami istri itu terdiam. Mengerjap kaget kemudian menghela napas pelan.


"Udah dong Bun, 'kan udah tinggal sama-sama juga," sahut Kirana kikuk. Mata bunda beralih menatap Akbar. Lelaki itu tersenyum sebagai jawaban.


"Lagi nulis buku yang ke berapa Akbar?" tanya Bunda sembari tersenyum hangat.


"Ke empat belas Bun," sahut Akbar singkat.


"Hebat yaa, kata Umi kamu rata-rata novel hasil karya kamu best seller."


"Gak juga Bun, cuma beberapa. Emang Umi aja yang suka berlebihan," sahut Akbar sembari tersenyum kikuk.


"Ah masa sih?"


"Udah ah, di makan bunda. Sampai makannya gak ke sentuh. Nanti aja ngobrol sama abang nya," ucap Kirana dengan nada menggerutu. Seolah keberatan tentang ucapan bundanya yang terkesan mengagumi Akbar.


Akbar kembali melanjutkan makan sementara bunda menatap Akbar dan putrinya bergantian.


Setelah makan malam selesai. Akbar kembali ke ruangannya untuk menulis. Terlebih karena ingin memberi waktu pada Kirana dan bunda untuk berbicara berdua.


***


"Bunda mau ngomong," ucap bunda dengan raut wajah serius. Kirana menelan Saliva. Apa ia baru melakukan kesalahan? Kirana berpikir bahwa baik-baik saja, ia tak melakukan kesalahan apa-apa.

__ADS_1


"Iya Bun," sahut Kirana pelan dengan mata was-was.


"Kamu sama Akbar baik-baik aja?"


"Baik Bun," sahut Kirana spontan karena sudah menduga pertanyaan bundanya.


"Yakin?"


"Iya."


"Baik-baik aja?"


"Iya."


"Gak pernah ngelayanin suami?"


"Iya."


Beberapa detik kemudian, Kirana mengerjap kaget.


"Eh apa tadi bun?" tanyanya sembari mengerjap polos. Bunda menghela napas panjang. Ia tau, Kirana adalah wanita yang angkuh dan suka menang sendiri sementara Akbar nampaknya tipe lelaki yang acuh dan tak peduli. Hubungan mereka terlihat jelas oleh seseorang berpengalaman seperti bunda. Akbar dan Kirana bukan seperti suami istri pada umumnya.


"Saat Kirana memutuskan untuk menikah, harusnya Kirana udah tau, gimana ilmu tentang pernikahan dan juga mengenai hak dan kewajiban. Sebagai istri tentunya."


Kirana diam mendengarkan.


"Dari awal kami semua udah nanya, apa Kirana yakin tentang pernikahan ini. Bunda takut bahwa Kirana menerima pernikahan ini karena terpaksa. Dan kalau itu kenyataan yang sesungguhnya. Kirana sendiri yang memaksa diri untuk menikahi Akbar. Biar bunda ingatkan, ini adalah pernikahan sayang. Janji di hadapan Tuhan."


"Yang pertama, Kirana harus belajar bertanggung jawab pada keputusan sendiri."


Kirana meremass ujung baju rumahnya. Tak berani mengangkat kepala dan menatap mata bunda.


"Terakhir, apa Kirana udah pernah tau hadits tentang menolak melayani suami maka akan dilaknat malaikat sampai pagi?" tanya Bunda lembut. Gadis itu spontan menatap bundanya dengan mata membulat sempurna.


"Pertama: Asy-Syaikhain meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda yang artinya : “Jika seorang suami mengajak istrinya ke atas ranjangnya, tetapi ia tidak mematuhinya, maka para Malaikat akan melaknatnya sampai pagi.” "


Kirana menatap nanar pada bunda. Meskipun Akbar tak pernah meminta. Bagaimana jika sebentar lagi lelaki itu meminta haknya? Ia harus bagaimana?

__ADS_1


"Yang kedua: Asy-Syaikhani meriwayatkan dari Abu Hurairah pula ia berkata, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya : “Jika seorang wanita tidur dengan meninggalkan tempat tidur suaminya, maka para Malaikat melaknatnya sampai pagi.”"


"Dalil yang ketiga-"


"Udah Bun!" potong Kirana dengan cepat.


"Kenapa?" tanya Bunda dengan lembut berbanding terbalik dengan tatapan mengintimidasinya. Kirana terdiam lalu menunduk dalam. Bunda meraih jemari Kirana dan meremassnya dengan lembut.


"Dengerin yaaa sayang, laknat dalam hadits itu sendiri dijelaskan oleh Imam an-Nawawi berlangsung sampai kemaksiatan itu hilang dengan terbit fajar dan rasa gak membutuhkan dari pihak suami, atau dengan taubat dan kembalinya sang istri dengan memenuhi keinginan sang suami."


Kirana menatap jemarinya yang tertaut dengan jemari bunda.


"Satu dalil terakhir. Al-Imam ath-Thabrani meriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah Radiyallahu 'anhu “Ada tiga orang yang shalatnya tidak akan diterima, dan kebaikan mereka tidak akan naik kepada Allah, (1) orang yang mabuk sehingga dia sadar, (2) seorang wanita yang dibenci oleh suaminya, dan (3) seorang hamba sahaya yang lari sehingga dia kembali dan meletakkan tangannya di tangan tuannya.”


Kirana menelan saliva dengan susah payah, apakah Akbar benar membencinya?


"Akbar ngejalanin kewajibannya 'kan?" tanya Bunda lembut. Kirana mengangguk.


"Terakhir yang mau bunda ingatkan. Hak dan kewajiban udah jadi dua hal yang gak bakalan bisa terpisahkan. Masing-masing dari istri dan suami memiliki kewajiban satu sama lain. Kalau suami udah ngerjain kewajiban, haknya harus dipenuhi yaa sayang."


"Kirana ngerti Bun," sahut Kirana pelan. Bunda menghela napas lega. Sesungguhnya bunda bukanlah mertua atau ibu yang suka berucap sesuatu frontal seperti kepada Akbar tadi. Bunda hanya ingin memastikan sesuatu dengan menggoda Akbar dengan kata 'gadis' dan melihat respon Kirana sekarang, bunda yakin bahwa perkiraannya memang benar.


***


Akbar sekarang tengah duduk di belakang kemudi dengan bunda di sebelahnya. Ia menuju rumah Cakrawangsa untuk mengantar sang ibu mertua.


"Maaf ya Bar, bunda ngerepotin."


"Enggak kok Bun, Bunda 'kan juga ibu Akbar. Gak perlu sungkan gitu," sahut Akbar sembari tersenyum samar.


"Banyak-banyak sabar yaa ngadepin Kirana."


Akbar melirik sekilas mertuanya. Lalu kembali menatap jalan lurus ke depan. Mengingat raut wajah Kirana dan saat ingin pergi tadi Kirana mengucapkan hati-hati. Akbar mulai merasa ada sesuatu sensitif yang tadi di bahas oleh Kirana dan bunda. Mungkin juga berhubungan dengannya.


"Oh yaa, hampir lupa. Tadi mau ngasih tau Kirana tapi ya udah bilang sama kamu aja yaa?" tanya Bunda yang mendadak girang. Sesaat Akbar mengerjap heran lalu mengiyakan.


Bersambung

__ADS_1


Apa yang mau bunda kasih tau? hehe..


__ADS_2