
Kedua mata itu mengerjap pelan. Menyesuaikan cahaya yang membias ke retina. Kirana membuka mata dan memijit pelipisnya.
Pusing!
Kirana bergumam dalam hati lalu menutup matanya kembali. Sebuah kilasan singkat membuat tenggorokannya tercekat. Malam tadi, apa yang terjadi?
Kirana membuka mata dan mengerjap gugup. Menghela napas pelan lalu membuka selimut. Melihat tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang membuatnya mengerang pelan. Kirana mengedarkan pandangan. Matanya tak menangkap sesosok sang suami di kamar itu. Namun telinganya menangkap suara di kamar mandi.
Lagi, Kirana menelan saliva. Memejamkan mata kembali dan berusaha mengingat jelas apa yang terjadi. Malam tadi, Akbar membuka penutup dadanya lalu kepala sang suami langsung tenggelam di sana. Kirana mengerang pelan. Sentuhan Akbar membuatnya belingsatan.
Perasaan yang tak ia mengerti begitu mendominasi dirinya malam tadi. Akbar terus mengecup leher dan dadanya. Bahkan ujung dada Kirana juga di pelintir suaminya.
Lalu setelah itu ... Kirana lupa apa yang terjadi selanjutnya!
Kirana duduk dan menyenderkan punggungnya di kepala ranjang. Berusaha mengingat lagi. Matanya terpejam dengan dahi berkerut dalam. Ia ingat sekarang!
Setelah itu, Akbar mulai membuka kain tipis yang menutupi bagian inti Kirana. Dan dia menyukai itu. Sensasi ketika Akbar menatapnya dengan sayu. Kirana mendesah pelan saat jari-jari sang suami mulai menyentuh bagian inti kewanitaannya. Bermain di sana tanpa memasukinya. Kirana mengerang panjang saat merasakan kenikmatan yang baru ia rasakan. Sesuatu yang orang sebut pelepasan.
Hanya itu yang ia ingat. Kepalanya yang pusing membuat Kirana heran. Seolah ia baru saja meminum obat dengan dosis yang kuat, tubuh Kirana memang sangat sensitif terhadap obat apapun. Seringkali hal itu membuat dokter kesulitan saat ia tengah sakit. Kirana harus meminum obat dengan dosis yang rendah, jika tidak kepalanya akan sangat sakit.
Gadis itu mengigit bibir bawahnya. Apa memang ia dan Akbar sudah melakukan hubungan layaknya suami istri? Apa yang harus ia lakukan? Kedua matanya secara tiba-tiba membulat sempurna. Nampaknya mengingat sesuatu. Perlahan tubuh ramping itu turun dari ranjang dengan selimut yang menutup seluruh tubuhnya. Kirana melompat-lompat dan tersenyum girang.
Sekarang sudah dipastikan, Akbar dan dirinya belum melakukan 'itu'. Karena bagian kewanitaannya tak terasa nyeri. Kirana melompat lagi dengan girang. Seolah hal itu sangat membanggakan. Hingga suara pintu kamar mandi membuatnya terlonjak kaget. Membuat tubuh cantiknya mendarat dengan kasar di lantai.
Kirana meringis pelan lalu menatap Akbar yang juga tengah menatapnya. Perasaan girang sudah sirna. Tergantikan rasa malu yang luar biasa. Meskipun belum melakukannya, Akbar sudah tau seluruh jengkal tubuhnya. Kirana menunduk dengan pipi yang merona.
Akbar berjalan mengacuhkannya. Kirana mengangkat kepala dan menatap punggung Akbar yang menuju balkon kamarnya. Ia menelan saliva. Mengapa ia merasa Akbar sedang marah padanya?
__ADS_1
Biasanya lelaki itu memang pendiam tapi tak pernah bersikap sangat dingin padanya. Selalu bersikap dan mengeluarkan aura cukup hangat meskipun kadang dingin pula. Berdecak pelan, Kirana lantas menuju kamar mandi dengan perasaan yang aneh, semacam rasa bersalah dan ia tak mengerti apa maksudnya.
***
Kirana melirik sekilas Akbar yang tengah duduk di belakang kemudi. Mereka tengah menuju apartemennya. Kirana juga harus meminta izin untuk tak bisa ikut pemotretan. Ia jujur dan mengatakan bahwa salah makan hingga alerginya datang. Untung saja, temannya Dita membantu dan ia akhirnya di izinkan. Pemotretan di undur hingga Kirana pulih sempurna. Meskipun. Kirana adalah model majalah muslimah yang menutup sebagian besar kulitnya tapi tetap saja. Tangan dan wajahnya tentu sangat terlihat. Bercak seperti bintik-bintik merah terlihat cukup jelas di kulit putih Kirana. Meski sudah tak terasa gatal lagi.
Sekarang yang membuat Kirana kepikiran adalah sikap Akbar yang sangat pendiam. Oke, suaminya memang suka diam tapi aura yang ia keluarkan sangat dingin. Lelaki itu berubah menjadi dingin bahkan saat tadi Kirana mencoba membantu suaminya yang kesulitan mengambil makanan saat sarapan. Akbar justru menatapnya dengan tajam. Seolah tak suka atas tindakannya barusan.
Untung saja saat itu, hanya ia dan Akbar yang sedang sarapan. Penghuni Bratajaya lainnya sudah lebih dulu makan. Tentu saja Kirana malu saat tidur di rumah mertua justru kesiangan. Namun Umi hanya tersenyum padanya dan mengatakan tak apa-apa. Kirana merasa beruntung memiliki mertua Indah Giandra Bratajaya.
Brakk!
Kirana terlonjak ketika Akbar menutup pintu mobil dengan keras. Ia bahkan baru menyadari kalau mereka sudah sampai di parkiran apartemen. Gadis itu menghela napas dalam lalu melepaskan earphone di telinga dan melangkah di belakang suaminya.
"Bang!" tegur Kirana saat mereka di dalam lift. Akbar meliriknya sekilas. Lalu kembali menatap ke depan. Kirana terdiam. Ia tak pernah di acuhkan. Biasanya Akbar membalas ucapannya meskipun dengan deheman pelan saja.
"Abang marah?" tanyanya pelan. Kirana menatap wajah Akbar dari samping.
Hening
"Marah kenapa sih gak jelas banget. Ya udah lah! Kirana gak peduli!"
Ting!
Suara khas lift dan diringi terbukanya pintu di hadapannya. Membuat Kirana melangkah keluar dengan tergesa. Sedangkan Akbar menatapnya dengan menggelengkan kepala.
"Seharusnya aku yang marah!" gerutunya dalam hati. Ia menatap punggung Kirana yang cukup jauh dari tempat ia berjalan sekarang. Ia berdecak pelan. Akbar memang kesal saat Kirana dengan egoisnya. Setelah pelepasan justru tidur atau ... pingsan. Entahlah Akbar tak peduli. Hasratnya yang saat itu sudah di ujung ubun-ubun membuatnya harus mandi saat tengah malam yang dingin. Dan sekarang justru Kirana yang menjadi kesal padanya? Mengapa seperti ini?
__ADS_1
Akbar menghela napas panjang dan masuk ke apartemen mereka. Baru ia ingat, bahwa perempuan memang tak pernah ingin disalahkan apalagi istrinya adalah seorang Kirana yang angkuh. Lagipula dirinya siapa? Akbar menunduk dalam sembari melangkah ke balkon kamar kemudian berteriak pada diri sendiri dalam hati. Sadarlah Akbar!
****
Tak peduli!
Itulah yang selalu Kirana ucapkan. Ia tak peduli Akbar marah atau sedang merajuk.
"Gue gak peduli."
Kirana mengucapkannya lagi seperti jampi-jampi. Sambil membereskan seluruh ruangan apartemen mereka. Saat sudah selesai, ia menghempaskan tubuhnya. Melirik sekilas jam dinding di sana. Sudah sore ternyata. Ia tak pernah tau bahwa mengerjakan pekerjaan rumah tangga sesulit ini ternyata. Lelah dan sangat menyebalkan karena moodnya yang berantakan.
Saat di rumah Keluarga Cakrawangsa. Ia tak pernah melakukan hal ini. Bahkan memegang sapu pun ia sangat jarang. Karena sejak kecil, rumah itu ada pembantu dan asisten rumah tangga. Namun sekarang ia melakukan semua ini untuk apa?
"Abang ...." lirihnya pelan. Ia berjalan ke kamar dan perhatiannya tertuju pada tubuh kekar yang tidur terlentang di atas ranjang. Lelaki itu bahkan tak peduli saat dia membereskan apartemen seluas ini sendiri.
Kirana berjalan hingga tepi ranjang. Menatap dalam wajah Akbar yang terlelap nyaman. Meski tak tau apa salahnya, Kirana hanya ingin mengucapkan.
"Maaf Bang ...."
Bersambung
Mohon maaf yaa kalo kalian kecewa. Zaraa cuma ingatkan kalau chapter sebelumnya gak ada yang menceritakan mereka sudah berhubungan. So, itu cuma ekpetasi kalian ^^
Komentar dan like nya di kencengin yaa biar Zaraa semangat up-nya ^^
Yang mau crazy up? ayo komentar spamnya 👌☺
__ADS_1