
Beberapa jam yang lalu
Akbar masuk ke apartemennya lalu menuju dapur dan membuka kulkas untuk minum. Melihat cake cokelat di sana membuat amarahnya tak terbendung lagi. Lelaki itu berjalan ke ruangan pribadi miliknya. Menghancurkan segala apa yang di sana. Berteriak untuk mengeluarkan amarah yang membuncah di dada.
"Aaarghhh!!"
Lelaki itu memegang rahangnya setelah berteriak. Nyeri yang luar biasa membuat bulir bening yang di tahannya jatuh begitu saja. Akbar tersungkur di atas lantai dengan mata terpejam dan dahi berkerut dalam.
"Sakit Ya Allah ...." gumamnya pelan. Ia masih memegang rahangnya. Tak ada yang tau bagaimana ia selama ini menderita. Pun mengenai rahangnya. Semua orang menganggap Akbar menjadi pendiam karena kecelakaan yang di alaminya membuat kepribadiannya berubah padahal tak sepenuhnya benar. Ia pendiam memang karena kecelakaan itu. Rahangnya akan sangat sakit jika terus berbicara. Ingin sekali ia bertanya berbagai hal pada Umi atau Kirana. Bagaimana hari istrinya? bertukar cerita dan hal lainnya. Tapi sekali lagi, ia tak bisa.
Rahang Akbar hampir hancur karena kecelakaan yang juga merenggut sepertiga dari wajahnya. Wajah yang orang bilang dulu tampan sekarang bisa membuat orang berteriak ketakutan. Seperti kejadian tadi, seorang bocah perempuan yang berteriak ketika melihat wajahnya, itu sudah menjadi hal biasa bagi Akbar tapi sekarang ia tak ingin lagi seperti ini. Akbar sudah merasa tak kuat lagi. Ia ingin seperti orang lain yang bisa keluar tanpa ada sorot mata ketakutan melihatnya. Seperti dulu lagi.
Lelaki itu menyaut ponselnya di atas meja lalu memejamkan mata. Memanggil seseorang yang selalu ada untuknya.
"Abi ...."
"Akbar udah gak kuat lagi ...."
"Please Bi, Akbar pengen operasi ...."
Akbar mematikan sambungan itu tanpa mendengar sahutan dari Ardi. Ia tau, ayahnya tak lagi mendaftarkannya sebagai calon penerima donor transplantasi wajah karena Abi Ardi takut dengan segala resiko yang di terimanya.
***
Sementara itu, di kediaman keluarga Bratajaya, Abi Ardi menelan Saliva tatkala melihat mata tajam istrinya seolah ingin menerkamnya.
"Mi?" tegur Ardi pelan. Ia berdehem pelan. Meskipun tak merasa melakukan kesalahan, Ardi tetap merasa gugup saat mata itu menatapnya dengan tatapan mengerikan.
"Itu tadi siapa yang nelpon?" tanya Ardi lembut. Ia menatap ponsel yang ada di tangan istrinya. Entah siapa yang menelpon dan membuat raut wajah istrinya seperti itu.
"Akbar," sahut Umi Indah ketus. Ia meletakkan ponsel itu di atas nakas lalu duduk di tepi ranjang. Abi Ardi ikut duduk di sebelahnya.
"Abang bilang pengen operasi."
__ADS_1
Ardi terkesiap. Ia berdehem pelan lalu menatap dalam mata sang istri.
"Abi kok jahat banget sih? emangnya segitu pentingnya yaa uang Abi sampai gak mau Abang operasi? selama ini Umi kira Abi udah daftarin putra kita sebagai pasien penerima donor transplantasi wajah. Tapi berdasarkan apa yang Akbar ucapin tadi. Umi udah tau!" cerca Umi Indah dengan mata berkaca-kaca. Bibirnya bergetar. Sementara Abi Ardi terkesima sesaat lalu menghela napas panjang.
"Dia putra kita Bi, kalau emang Abi sampai segitunya gak mau bayarin operasi abang. Biar Umi yang kerja!" Umi Indah berdiri namun terhenti saat lengannya di tahan tangan kekar Abi.
"Dengerin Abi dulu Mi," ucap Ardi tenang. Umi duduk kembali.
"Kapan sih Mi, Abi pelit sama anak sendiri? Abi juga sayang sama Abang."
Umi terdiam. Ardi memang bukan lelaki yang terlalu sayang harta tapi mengapa suaminya ini tak mendaftarkan anak sendiri agar bisa operasi transplantasi wajah?
"Abi takut karena pengobatan itu prosesnya panjang dan rumit Umi. Bahkan nyawa Abang akan dipertaruhkan," tutur Ardi lembut. Umi Indah terkesiap. Dengan menghela napas panjang. Ardi kembali menjelaskan apa yang ia tau mengenai hal ini.
Salah satu adegan film Ayat Ayat Cinta 2 menceritakan tentang permintaan terakhir Hulya, istri kedua Fahri yakni memindahkan wajahnya untuk Aisha, istri pertama Fahri.
Karena wajah Aisha rusak, Hulya ingin membantu agar wajah sepupunya kembali utuh dan berharap agar anak yang baru saja ia lahirkan tetap bisa melihat rupa ibunya meski ia wafat. Dikisahkan, transplantasi wajah dilakukan dengan melaser wajah Hulya dan menempelkannya pada wajah Aisha bagai memasangkan topeng.
Namun kenyataan sebenarnya. Transplantasi wajah tak semudah itu. Selain menghabiskan uang milyaran, resiko yang di tanggung juga sangat besar.
Dokter akan mencari kecocokan dari segi warna kulit, ukuran wajah, golongan darah, jenis jaringan, dan usia yang sebanding antara pendonor dan pasien. Jadi, nantinya pasien hanya akan menerima komponen yang diperlukan saja dari wajah pendonor, tidak serta-merta seluruh wajahnya dipindahkan pada orang lain.
Komponen-komponen dari pendonor tersebut akan diambil dan disesuaikan dengan struktur wajah pasien. Maka, hasil akhirnya bukan berarti pasien memiliki wajah pendonor.
Ahli bedah akan menghubungkan pembuluh darah pada wajah pasien ke bagian wajah yang dicangkok sebelum menghubungkan saraf dan jaringan lainnya seperti tulang, tulang rawan, dan otot.
Saat operasi ini berlangsung, operasi terpisah lainnya juga akan dilakukan. Biasanya, dokter akan mengambil sampel kulit dari lengan pendonor untuk ditempelkan ke dada atau perut pasien. Tujuannya agar kulit cangkok bekerja seperti jaringan transplantasi wajah yang akhirnya akan menjadi bagian dari kulit pasien sendiri.
Operasi itu sendiri kadang dilakukan berjam-jam hingga berhari-hari dan proses pemulihan hingga tiga bulan lamanya.
Data dunia mencatat hingga tahun ini hanya sekitar 40 operasi saja yang baru di lakukan. Beberapa dari mereka meninggal. Dalam berbagai macam hal seperti seseorang yang bernama Isabella Dinoire.
Isabelle Dinoire menjalani operasi untuk mengganti wajah aslinya, yang telah dianiaya oleh anjingnya. Segitiga jaringan wajah dari hidung dan mulut wanita yang mati otak dicangkokkan ke pasien. Pada 13 Desember 2007, laporan terperinci pertama dari kemajuan transplantasi ini setelah 18 bulan dirilis di New England Journal of Medicine dan mendokumentasikan bahwa pasien senang dengan hasilnya tetapi juga bahwa perjalanannya sangat sulit, terutama dengan respon sistem kekebalan tubuhnya. Dinoire meninggal pada 22 April 2016 pada usia 49 tahun setelah kanker akibat pengobatan. Hal itu terjadi karena obat imunosupresan yang harus di konsumsi seumur hidup pasca operasi.
__ADS_1
Pasien lainnya , Pada April 2006, Dr Guo Shuzhong di rumah sakit militer Xijing di Xi'an, Cina, juga melakukan transplantasi pada pipi, bibir atas, dan hidung Li Guoxing, yang dianiaya oleh beruang hitam Asia sambil melindungi domba-dombanya. Pada 21 Desember 2008, dilaporkan bahwa Li telah meninggal pada bulan Juli di kampung halamannya di Yunnan . Sebelum kematiannya, sebuah film dokumenter di Discovery Channel menunjukkan bahwa ia telah berhenti minum obat penekan kekebalan demi pengobatan herbal; keputusan yang kemungkinan merupakan faktor penyebab kematiannya, menurut ahli bedahnya.
Ada sejumlah besar perdebatan etis seputar operasi dan kinerjanya. Masalah utama adalah bahwa, seperti disebutkan prosedur ini mensyaratkan pengajuan orang yang secara fisik sehat untuk menjalani terapi imunosupresan yang berpotensi fatal seumur hidup. Sejauh ini, empat orang telah meninggal karena komplikasi terkait dengan prosedur. Mengutip komentar dari berbagai ahli bedah plastik dan profesional medis dari Perancis dan Meksiko, antropolog Samuel Taylor-Alexander menyarankan bahwa operasi telah diresapi dengan impor nasionalis, yang pada akhirnya mempengaruhi pengambilan keputusan dan penilaian etis dari pihak yang terlibat.
Selain Li Guoxing dan Isabelle Dinoire ada banyak pasien lainnya yang memiliki berbagai macam hal kendala dan resiko yang di alami mereka.
"Bahkan, Abi pernah denger satu pasien dari negara mana lupa Mi, setelah pencangkokan dan katanya cocok aja tapi setelah tujuh tahun ternyata tubuhnya bereaksi menolak. Akhirnya pasien itu dibuat koma sambil menunggu pendonor keduanya. Dan habis itu-"
"Cukup Bi!" potong Umi cepat. Abi menatapnya.
"Kalau gitu kita harus gimana Bi? Bisa gak kita nahan Abang biar gak usah operasi?"
"Gak lagi Mi," sahut Abi Ardi tenang.
"Abang itu anak yang cerdas. Dia pasti sudah tau resikonya tapi tetap pengen coba. Itu artinya kita gak bisa berbuat apa-apa selain mendukungnya," tutur Abi Ardi lembut. Lalu mengambil ponselnya di nakas.
"Kenapa udah sekian lama Abang baru mau operasi?" gumam Umi Indah pelan namun masih di dengar sang suami.
"Karena siapa lagi kalau bukan istrinya, Kirana," sahut Ardi singkat sembari tersenyum.
"Satu lagi Mi, sebelum operasi transplantasi wajah juga pasien harus memiliki daya juang yang tinggi. Dan putra kita udah punya penyemangatnya sekarang. Jangan khawatir. Abang pasti baik-baik aja," imbuh Abi sembari menggenggam tangan sang istri
Bersambung
Mau curhat dulu yaa ^^
Jadi sebelumnya cuma iseng nyari visual novel Zaraa sebelumnya eh nyasar ke artikel yang membhas kek gini. Akhirnya langsung punya ide bikin novel ini. Ada banyak orang di luar sana yang kaya Akbar lho. Cari aja di gugel dengan kata kunci transplantasi wajah. Bakalan banyak pasien di sana yang dijelaskan punya masalah beda-beda. Waktu baca hal ini terenyuh banget sumpah 😭
Kasus di indonesia juga ada. Operasi pertama di laksanakan pertama kali di Spanyol pada tahun 2005. Dulu itu gak bisa langsung mulus tapi sekarang udah bisa yaa kayak sistem di film ayat ayat cinta. Laser tiga dimensi kalau gak salah namanya.
Satu lagi, tiap pasien maksud Abi Ardi itu memang harus memiliki daya juang yang tinggi. Sebelum operasi biasanya pasien akan di temani psikiater dulu. Iya segitu rumitnya broo ^^
__ADS_1
Maaf yaa chapter ini ngebahas hal kek gini. Soalnya biar jelas karna gak semua readers tau. Waktu bikin awal aja ada yang langsung komen kenapa gak operasi plastik? Transplantasi wajah sama operasi plastik beda Mak 😴
Btw, kasih like sama komentarnya yaa ❤