
"Besok ada pemotretan?" tanya Akbar dengan napas yang sudah teratur. Lelaki itu mengecup mesra kening istrinya. Kirana mendongakkan sedikit kepalanya dan mengikis jarak agar bisa melihat mata sang suami.
Kirana terdiam sesaat, melihat Akbar yang masih memakai topeng, membuatnya ingin tertawa. Lelaki itu, bahkan saat pergumulann mereka seperti tadi tak pernah melepaskan benda itu barang sebentar atau sesekali.
"Sebenarnya gak, tapi besok ada beberapa hal yang harus diurus karena mau pindah agency," Kirana berucap dengan nada pelan. Ia memang berbohong pada Raga tapi entah mengapa tak bisa dengan Akbar, suaminya.
"Beneran?" tanya Akbar dengan suara girang. Kirana mengerjap heran kemudian menyadari bahwa ada sesuatu antara Bagas Gerald dan sang suami.
"Iya, kenapa Bang?" tanya Kirana dengan mengatur suara dan raut wajahnya agar tak terlihat begitu penasaran. Sayangnya, ia tak bisa.
"Gak papa," sahut Akbar pelan sembari memejamkan mata. Ia tau Kirana ingin membahas Bagas Gerald tapi ia belum siap. Menceritakan kisah lama yang membuatnya kembali merasa terluka.
Kirana menghela napas kasar dengan mendengus kesal. Memunggungi suami dengan raut wajah muram. Hingga sebuah tangan memeluknya dari belakang. Wanita itu tersenyum lebar lalu mulai terlelap nyaman.
***
Pagi harinya.
"Bunda mau datang?" tanya Akbar dengan menautkan alis. Ia baru saja keluar dari ruang pribadinya dan melihat Kirana tengah memasak di dapur. Momen yang langka. Jadi, ia pikir bunda atau ayah akan datang? tapi mengapa di jam yang sangat pagi seperti ini.
"Gak, aku masak buat abang," sahut Kirana tanpa menatap suaminya. Lelaki itu mengerjap tak percaya kemudian menarik kedua sudut bibirnya hingga terangkat sempurna.
"Tumben," sindir Akbar dengan wajah menyeringai. Kirana mendengus kesal.
"Lagi mood aja! lagian aku gak buru-buru perginya." Kirana menata nasi goreng masakannya di meja makan. Lalu menatap Akbar yang sudah lebih dulu duduk manis di salah satu kursi dengan tatapan tak suka.
__ADS_1
"Kalau gak mau, ya udah!" sungutnya kesal. Akbar tertawa kecil.
"Mau kok sayang," ucap Akbar sembari tersenyum pada Kirana yang terlihat gugup. Raut wajah yang sangat Akbar hafal ketika ia memanggil sang istri dengan kata 'sayang'
Lelaki itu lalu memakan nasi goreng perdana buatan sang istri. Menatap Kirana yang nampak menunggu responnya. Ia lalu berkata. "Enak banget," ucapnya dengan senyuman. Lalu kembali melahap sarapan.
Kirana tersenyum lebar lalu memakan nasi buatannya. Wanita itu menyipitkan mata kemudian menatap sang suami dengan mengerjap tak percaya.
"Ini keasinan," ucapnya pelan dengan nada kecewa. Kirana sebenarnya bisa memasak tapi kata bisa bukan berarti makanannya enak 'kan? wanita itu menelan saliva.
"Asin dikit doang," sahut Akbar sembari mengusap lembut kepala Kirana yang membuat sang empu merona.
Kirana lalu mengambil roti dan juga selai cokelat kesukaannya. Kemudian melihat Akbar yang hampir menandaskan nasi goreng asin buatannya membuat wanita itu menautkan kedua alisnya.
Bertepatan dengan Kirana yang memakan potongan roti terakhirnya, Akbar juga menghabiskan nasi goreng itu dengan senyuman lebar.
"Kenyang," ucap Akbar dengan terkekeh pelan. Rasanya sangat lama, ia sudah tak lahap makan. Bahkan sangat jarang sarapan.
"Abang aneh deh," ucap Kirana tiba-tiba. Lalu kembali berkata. "Mau dibuatin kopi?" tanya Kirana lalu sedetik kemudian menggelengkan kepala.
"Kenapa?" tanya Akbar yang melihat sikap sang istri yang agak aneh.
"Nanti kalau gak enak lagi padahal mau buatin Abang, kopi." Kirana menatap piring di hadapan Akbar yang sudah kosong.
Apa bakalan tetep diminum yaa meskipun kopi nanti rasanya aneh atau asin?
__ADS_1
"Gak papa, buatin gih," ucap Akbar dengan mata berbinar. Kirana tersenyum dan membuatkan kopi hitam kesukaan sang suami. Saat sudah selesai ia menyuguhkan di hadapan Akbar dengan mata berbinar.
"Enak," ucap Akbar sembari tersenyum. Raut wajahnya begitu bahagia.
Kirana tak percaya lalu menghirup kopi itu. Wanita itu rasanya ingin muntah. Ini kebanyakan gula. Perpaduan rasa kopi hitam yang pahit dengan rasa manis yang terlalu tinggi seperti tadi menjelma menjadi kopi dengan rasa yang tak bisa digambarkan seperti apa. Rasanya sangat aneh.
"Abang kenapa sih! ya ampun! Nasi goreng asin dan kopi yang rasanya aneh gini!" omel Kirana yang sebenarnya ditujukan pada diri sendiri. Wanita itu mengambil kopi tersebut lalu membuangnya di wastafel. Akbar tak sempat meraih gelas itu.
"Kok dibuang Dek?" tanya Akbar lembut dan bernada kecewa. Kirana memutar bola mata.
"Pake nanya lagi! aneh gitu Abang! kalau gak suka gak perlu maksa minum atau makan buat hargain aku!" Kirana menatap Akbar dengan tajam. Lelaki itu menghela napas pelan.
"Rasanya enak Dek, Rasa yang berbeda karena dibuatkan oleh seorang istri untuk suami. Pak Habibie bahkan pernah kembali ke rumahnya waktu mau pergi." Akbar menjeda ucapannya sesaat lalu kembali mengatakan. "Untuk meminum kopi buatan Ainun. Untuk segelas kopi yang dibuat dengan keikhlasan yang dibaluti kewajiban dari sang istri."
Kirana mendelikan mata. Lalu membereskan beberapa piring di atas meja. Menggerutu pelan pada sang suami yang mengibaratkan Tokoh Indonesia yang luar biasa. Kisah Habibie dan Ainun mana mungkin bisa di samakan dengan Akbar dan Kirana? pikirnya. Hingga perkataan Akbar selanjutnya, membuat mata Kirana berkaca-kaca.
"Lagian itu kopi buatan istriku yang pertama dan mungkin aja jadi yang terakhir juga," ucap Akbar dengan nada kecewa.
Bersambung
Maaf yaa dikit aja. Zaraa lagi sakit gigi soalnya :(
Jangan lupa like dan komentarnya❤
Kalau ada lebihan poin atau koin bisa disumbangkan kesini yaaa ^^
__ADS_1