
"Jagain Kirana yaa. Bantu olesin salepnya juga. Kirana nolak tadi pasti karena gak enak aja sama Umi."
Akbar mengangguk. Lalu melangkah masuk ke kamar. Pemandangan yang ia lihat pertama kali. Kirana sudah membuka seluruh pakaiannya dan hanya tersisa BH. Ia terlihat menggaruk seluruh tubuhnya dengan wajah yang kesakitan. Matanya juga berkaca-kaca.
Nampaknya, istrinya itu masih tak menyadari kehadiran suaminya. Akbar masih mematung canggung dan bingung dengan mata masih tertuju pada sesosok sang istri yang duduk di atas ranjang. Mengoleskan beberapa kulit yang memerah karena alergi dengan tubuh yang memunggungi Akbar. Kirana terlihat kesulitan mengoleskan di punggungnya. Tangannya yang lentik terlihat sulit menjangkau bagian tengah punggung. Hingga posisi itu membuatnya terlentang diringi erangan kesal dari mulutnya.
Gadis itu lalu membalikkan tubuh hingga tengkurap. Spontan wajahnya menghadap arah pintu. Di mana Akbar berdiri mematung
"Abang kok gak ngetuk dulu!" protesnya sembari menggulingkan diri dan menyelimuti tubuh mulusnya. Wajahnya semakin memerah malu. Sesaat Akbar terdiam Lalu lelaki itu menautkan alis saat mengingat ucapan Kirana.
Memangnya harus ngetuk dulu kalau masuk ke kamar sendiri?
Tentu saja itu hanya suara hati Akbar. Dengan wajah datar ia melangkah pelan ke arah Kirana. Sang istri meringsut menjauh dari tepi ranjang kala sang suami duduk di sana.
Ck, nyebelin banget si!
Akbar mendesah pelan sembari memutar bola mata, Lihatlah Kirana. Istrinya bersikap seolah ia ingin memperkosanya.
"Apa?!" bentaknya keras saat melihat bibir Akbar terbuka ingin mengucapkan beberapa kata. Akbar menatapnya tajam.
"Gak usah ngeliat kayak gitu!"
"Abang tuh seharusnya ngetuk dulu!"
"Kirana kegatelan ini!"
"Kirana juga malu!"
Kirana berucap dengan satu tarikan napas. Jangan lupakan tangannya yang terus bergerak di dalam selimut. Menggaruk setiap inci tubuhnya yang terasa gatal di sertai rasa sakit sedikit. Tapi cukup membuat Kirana meringis pelan. Pasalnya, sudah sangat lama alerginya tak kambuh.
"Kirana."
Kirana menatap Akbar dengan sorot mata sedikit takut. Nada tegas itu seolah membuat instingnya bekerja cepat dengan posisi siaga. Apa suaminya sedang marah atau kesal padanya?
__ADS_1
"Udah diminum obatnya?" Kirana mengangguk.
"Tapi masih gatel," keluhnya pelan. Masih di dengar Akbar.
"Makanya, lain kali jangan kayak gini lagi, seharusnya bilang aja yang sebenarnya. Umi pasti ngerti!"
"Gak tega sama Umi, denger 'kan apa kata Abi tadi? Umi ngemasakin itu khusus buat Kirana." Kirana berucap dengan nada menggerutu. Lalu menatap salep yang berada tepat di sebelah sang suami duduk. Kemudian mata itu menatap Akbar.
"Biar ku bantu," ucap Akbar lalu mengambil salep dan menatap Kirana yang melotot padanya.
"Gak mau Abang!" Akbar yang sekarang sedikit terlonjak. Mengusap pelan telinganya yang sangat kasihan mendengar penolakan disertai teriakan yang begitu memekikkan.
"Gak perlu teriak kek gitu," ucap Akbar dengan nada tegas. Kirana diam masih memberengut kesal. Lalu Akbar meraih tubuh sang istri yang masih terbalut selimut. Mengunci sepasang mata kecokelatan itu dengan mata tajamnya.
"Eh?" Kirana tersentak ketika merasakan tangan Akbar yang ada di punggungnya. Sedangkan Akbar masih mengunci tubuhnya dengan pelukan.
"Diam."
"Gak perlu Bang," lirih Kirana sembari membalas tatapan Akbar. Namun ia tak meronta lagi. Merasakan setiap sentuhan Akbar di punggungnya. Ia tau, sang suami memang sedang mencoba membantunya tapi tetap saja. Ini agak ... canggung.
"Di sini masih belum di olesin," ucap Kirana dengan membuang muka. Malu saat meminta bantuan lagi. Bagian bawah punggung yang sebenarnya bisa ia jangkau. Tapi kedua tangan yang terperangkap di pelukan Akbar seolah tak ingin bergerak.
Akbar melakukannyaa lagi, kali ini hanya tangan kekarnya yang kosong mengusap punggung sang istri. Kirana masih membuang muka. Wajahnya memerah.
Beberapa saat di posisi seperti itu, Kirana terlihat menggigit bibir bawahnya. Ia merasakan tubuhnya panas dan bagian intinya terasa gatal. Mata kecokelatan itu berubah sayu. Namun masih menolak bersitatap pada sang suami. Entah apa yang terjadi pada tubuhnya, yang ia tau, ia sangat mendamba sentuhan Akbar pada tubuhnya.
Ekspresi Kirana tak luput dari perhatian Akbar. Beberapa kali menelan saliva saat sang istri mengigit bibir bawahnya. Itu membuatnya terlihat seksi. Hingga tangannya terus bergerilya di punggung dan tak sengaja mendekati bagian dada istrinya.
Kirana mengerang pelan dan spontan menatap Akbar. Sedangkan lelaki itu panik, takut Kirana marah dan spontan melepaskan tangannya di punggung. Namun beberapa saat Kirana tak melayangkan protes. Matanya yang sayu menatap Akbar dengan sorot mata penuh arti.
"Kirana ...." Kirana tak menjawab. Ia menggigit bibir bawahnya. Entah apa yang terjadi pada gadis cantik itu. Yang pasti, sekarang ia menginginkan sentuhan Akbar seperti tadi.
"Gatel banget," lirihnya pelan. Akbar lalu mengusap punggung istrinya lagi dengan kedua mata yang masih terkunci. Semakin dekat dan Akbar tak bisa menahan lagi.
__ADS_1
Kedua bibir itu menyatu. Kirana memejamkan mata, merasakan benda kenyal itu menyentuh bibirnya. Kecupan singkat yang ia kira, ternyata menjadi lumatann-lumataan yang lembut. Akbar mengecap, menjilat dan terus melumatt bibir istrinya. Kemudian melepaskannya sesaat.
Akbar menatap Kirana yang masih memejamkan mata, nampaknya sang istri tak keberatan. Tak menunggu lama ia kembali menyatukan bibir mereka. Kali ini sedikit mendorong tubuh Kirana agar terlentang di ranjang mereka.
"Bang ...." erang Kirana saat bibir mereka terlepas. Napasnya tersengal-sengal, ia masih memejamkan mata. Akbar tersenyum lalu melepaskan kaitan penutup dada kirana.
***
Sementara itu, di rumah yang sama namun di kamar berbeda. Kamar tempat Tuan dan Nyonya besar Bratajaya.
"Hah?!"
"Astaghfirullah Abi, sampai segitunya." Umi Indah nampak sedikit takut menatap suaminya yang masih terkejut.
"Umi salah yaa?" tanyanya pelan dengan wajah menunduk dalam. Ardi menghela napas panjang.
"Gak salah si Mi, tapi kurang tepat. Sebagai orang tua kita seharusnya mendukung mereka saja bukan malah mencampuri apa lagi yang Umi lakukan hari ini sudah termasuk keterlaluan." Indah menggigit bibir bawahnya.
"Tapi Udang itu Umi beneran gak sengaja," bela Indah dengan menatap suaminya.
"Tapi obat perangsang itu Mi yang seharusnya gak perlu Umi kasih," tutur Ardi lembut.
"Lagian kenapa si sampai ngasih itu?"
"Cuma langsung kepikiran aja tadi," sahut Indah sembari menelan saliva. Saat membeli obat alergi entah mengapa ia langsung terpikir obat perangsang itu. Entah karena instingnya yang sangat kuat sebagai Ibu. Ia melihat bahwa putra sulung dan menantunya tak seperti pasangan suami istri lainnya.
Anggap saja ia egois. Yang ia inginkan hanyalah satu, putra sulungnya berhak bahagia. Cukup wajahnya yang hancur. Untuk kehidupannya, ia tak membiarkan hancur pula.
Bagi Umi Indah, Kirana adalah awal dari kebahagiaan Putra sulungnya.
Bersambung
Kemaren itu mau up tenyata jaringan hilang di sini ;)
__ADS_1
Jadi, kasih komentarnya yang banyak yaa. Spam juga gak papa ^^
Biar Zaraa semangat nulisnya ^^