
"Udah selesai?"
Raga tersentak dan menoleh. Menautkan alis ketika menatap lelaki paruh baya yang memiliki garis wajah yang persis sepertinya.
"Papa?" Raga membereskan sajadahnya dan melepas kopiah di kepala yang baru saja di gunakan setelah sholat isya. Lalu duduk di sofa kamarnya tepat di sebelah sang ayah.
"Ada apa Pa?" tanya Raga datar. Lelaki yang di sebelahnya terdiam sebentar.
"Sudah saatnya kamu ikut ke perusahaan Papa," sahut ayahnya yang membuat Raga menautkan kedua alisnya. Tak mungkin jika hanya tentang itu ayahnya duduk di sofa kamarnya. Pasti ada lagi yang ingin ayahnya bicarakan. Jadi, pemuda itu memilih diam sampai ayahnya melanjutkan ucapan.
"Papa tau tentang model itu."
Raga menaikkan salah satu sudut bibirnya. "Terus kenapa?" tanya Raga datar.
"Papa sudah siapkan istri-"
"Apaan sih Pa?" potong Raga dengan nada kesal.
"Aku bisa ngelakuin apapun kemauan Papa tapi gak bisa tentang memilih seorang istri!" ucap Raga dengan nada tinggi. Ayahnya masih duduk dengan tenang. Sama sekali tak terpengaruh dengan nada bicara putranya.
"Papa tau 'kan, Kirana yang udah ubah Raga jadi laki-laki kayak gini. Laki-laki yang lebih baik," lanjut Raga dengan mata sendu. Menerawang ketika hidupnya masih liar dulu. Mabuk-mabukkan sampai bermain perempuan sudah biasa Raga lakukan. Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang Kirana.
"Tapi dia juga yang udah buat kamu kembali jadi laki-laki yang lebih buruk."
Raga tersentak dan menatap ayahnya. Mendengus kesal lalu berjalan menuju balkon kamarnya. Hingga ucapan ayahnya kembali menghentikan langkah kaki Raga.
"Dulu," ucap laki-laki paruh baya itu dengan senyuman tenang. Menjeda ucapan sebentar lalu kembali melanjutkan. "Kamu berubah menjadi lebih baik karenanya. Laki-laki yang baik yaa?" ejek Sang Papa dengan berdiri dan menatap tenang sang putra tunggalnya.
Raga menatap tajam ayahnya lalu berkata. "Apaan sih Pa?"
__ADS_1
"Kamu pikir Papa gak tau siapa dia?" berdecak pelan dengan seringai ejekan. Ayahnya kembali melanjutkan ucapan. "Laki-laki yang baik gak akan rebut istri orang lain!"
Raga terkesiap.
"Kirana nikah karena terpaksa Pa, sudah seharusnya pernikahan tanpa cinta yang membuatnya tertekan atau tersiksa diakhiri secepatnya," tukas Raga dengan nada kesal.
Ayahnya tertawa menatap sang putra dengan menggelengkan kepala. "Cinta ada seiring berjalannya sebuah hubungan Raga. Jangan lupa, ayah menikah dengan ibumu juga karena dipaksa."
Raga terdiam. Ia tau ayah dan ibunya menikah karena sebuah perjodohan. Lelaki itu masih menatap tajam ayahnya dengan amarah yang sudah membuncah di dada.
"Kirana gak mudah jatuh cinta kayak Mama atau Papa. Raga aja udah lama ngejar dia tapi masih gak dapet-dapet juga," tukas Raga masih kekeh dengan pendapatnya. Ia berpikir sang ayah hanya mencoba untuk memberikan alasan agar ia menikahi perempuan dari perjodohan yang pasti sudah lama direncanakan.
"Tau dari mana?" ejek ayahnya dengan menaikkan satu alisnya.
"Yaa tau aja," sahut Raga dengan mendengus kesal. Membuang muka karena bingung menjawab apa.
Setelah berucap seperti itu, ayahnya langsung meninggalkan Raga yang terpaku. Pemuda itu menuju balkon kamarnya dan berdiri di sana. Menerawang saat dulu menyatakan ingin menjadi pacar Kirana. Wanita itu memintanya agar belajar agama. Hingga ia menjadi sedikit lebih tau agama. Hanya sedikit dan dengan niat untuk wanita yang bukan mahramnya.
Membuat Raga seolah melangkah sudah dengan niat yang salah. Pemuda berusia sama dengan Kirana itu tau tentang kewajiban dari Sang Maha Kuasa tapi masih kurang mendalami tentang hubungan antar sesama. Masih suka semena-mena dan berbuat sekehendaknya.
Raga menghela napas berat dengan kedua tangan yang terkepal erat. Sorot mata memancarkan tekad yang sangat kuat.
"Kirana ...."
***
Sementara itu, Kirana sekarang tengah duduk di depan meja riasnya. Mengoleskan sesuatu pada seluruh tubuhnya untuk menjaga kemulusan kulit putihnya. Akbar meliriknya beberapa kali.
"Lama banget sii!" gerutu Akbar dalam hati.
__ADS_1
Drrt! drrrt!
Suara ponsel Kirana berbunyi tepat saat wanita itu selesai. Ia mengambil ponselnya di atas nakas sebelah ranjang dan mengangkat telepon yang ternyata dari Raga.
"Halo Ga? kenapa?" tanya Kirana santai seperti biasa. Tak melihat bagaimana tajamnya mata Akbar melihat dirinya. Hingga Kirana menyadari ketika sebuah pelukan dari belakang.
"Abang ...." gumamnya pelan namun masih didengar Raga di seberang sana.
"Malam ini malam apa?" tanya Akbar dengan mengerjap polos. Tanpa berusaha melepaskan pelukannya, Kirana menjawab spontan dengan nada santai biasa.
"Malam jum'at," sahutnya.
"Ya udah, sunah Rosul dulu sayang ..." Akbar berucap dengan nada mesra dan mendekatkan mulutnya ke ponsel Kirana lalu mematikan sambungan telepon itu begitu saja.
"Abang!" ucap Kirana dengan mengerjap kaget. "Kok dimatiin?" tanyanya dengan mengerjap polos. Akbar menariknya hingga jatuh di atas ranjang.
Membawa istrinya ke dalam puncak kenikmatan sehingga merasa terbang di puncak nirwana. Alih-alih marah, Kirana justru merasa bahagia.
Bersambung
Mari doakan yang terbaik untuk mereka. Dan jangan pernah marah kalau cerita atau part selanjutnya gak sesuai sama harapan kalian semua 😐
Jangan lupa jempolnya. Zaraa tuh heran yaa, kok bisa ada aja yang malas tinggal tekan gambar jempol sampai warna merah doang. Tapi yaa udahlah.
Komentarnya kencengin, votenya di tambahin
Biar Zaraa semangat untuk part selanjutnya ^^
Big love for you are ❤
__ADS_1