
"Kirana!" seru Raga dengan wajah dan mata memelas. Lalu menatap Dita.
"Kirana pulangnya sama gue aja yaa Ta, lo pulang aja duluan sono gih!" ucap Raga dengan nada menggerutu.
"Gue bilang gak! Kirana pulangnya sama gue aja!" sahut Dita ketus.
"Ya elah Ta, nyebelin amat sih lo!" ucap Raga dengan nada kesal.
"Lagian kenapa lo gak bawa mobil sendiri sih Na?" tanya Mia dengan alis yang tertaut. Kirana diam, memikirkan alasan yang tepat. Setelah ijab qobul di laksanakan tentu saja ia langsung pindah apartemen Akbar lalu karena tak sempat mengambil mobil di rumah ayahnya yakni kediaman keluarga Cakrawangsa. Ia memakai taksi dan saat ingin mengambil mobilnya, Akbar justru menawarkan diri untuk mengantar dan menjemput. Kirana menurut karena ia merasa ketakutannya kembali pada kegelapan dan malam hari. Meski tak separah dulu lagi.
"Udah ah, ayo Na," ucap Dita sambil menarik tangan Kirana.
"Wa'alaikumsalam!" sindir Nila dengan menatap Dita dan juga Kirana yang lebih dulu pergi dari cafe.
***
"Mikirin apa sih Na?" tanya Dita pelan. Kirana berdecak pelan. Melirik Dita sekilas.
"Lo pasti tau 'kan apa yang gue pikirin. Bunda udah cerita juga kok," sahut Kirana ketus. Dita tertawa lalu menatap Kirana.
"Kok lo yang marah-marah si? bukannya harusnya gue yaa?" Dita berucap dengan nada sinis. Sementara Kirana kembali berdecak kesal. Kirana tau, Dita beberapa hari lalu datang ke rumahnya. Lebih tepat rumah ayah dan bunda yakni kediaman keluarga Cakrawangsa. Saat itulah sahabatnya ini tau bahwa Kirana sudah pindah dan menikah. Dan Kirana tau itu, dari tatapan Dita yang berbeda ketika Raga mengucapkan ingin segera menikahinya.
Hening tiba-tiba menyelimuti. Sesaat baik Kirana maupun Dita larut dalam pikiran masing-masing.
"Gue bingung." Kirana berucap dengan mata terus menunduk. Dita masih diam.
Kirana menghela napas panjang. Matanya menerawang jauh. Mengingat hari itu. Saat ia masih remaja SMA yang polos dan lugu. Sebagai anak baru, ia sering dibully oleh para kakak kelas hingga hari di mana ia membenci malam atau kegelapan. Dulu, Kirana tak mempunyai phobia apa-apa. Namun anak-anak nakal itu membuatnya harus merasakan ketakutan yang luar biasa.
Semuanya berawal ketika mereka mengunci Kirana di gudang sekolah. Gudang yang bau dan gelap. Sangat gelap sampai Kirana merasa tak bisa bernapas. Ia ketakutan tentu saja. Beberapa kali hewan-hewan menjijikan seperti tikus mengerubutinya di sana. Menggigit tangan dan kakinya. Ia berteriak memanggil siapapun tapi tak ada yang mendengar Kirana. Hingga ia merasa sudah lelah dan takut. Kirana hampir hilang kesadaran ketika berteriak terakhir kali dengan sekuat tenaga. Sebelum kesadarannya hilang ia melihat siluet berbadan kekar berlari ke arahnya.
__ADS_1
Saat terbangun, Ia sudah ada di rumah sakit dan ketika gadis itu bertanya siapa yang membawanya. Ternyata adalah teman seangkatannya. Raga. Sejak hari itu ia berubah. Ia tak lagi menjadi gadis polos dan lugu yang sering diperlakukan seenaknya.
Kirana menjadi gadis yang bahkan hanya dengan tatapan membuat orang-orang bergidik ngeri dan menyadari, bahwa ia bisa berbuat semena-mena dan akan melakukan apapun untuk mencapai keinginannya. Gadis itu berjalan dengan gaya angkuh khasnya. Mengenai kakak kelas itu? mereka bahkan dikeluarkan dari sekolah. Kirana menjadi gadis primadona SMA dan Raga yang sebagai penyelamatnya sering disebut kekasih Kirana. Padahal saat itu mereka tak punya hubungan apa-apa.
Namun saat hari kelulusan tiba, Raga mengatakan ingin menjadi kekasihnya. Saat itu, Kirana bingung harus bagaimana. Ia tak memiliki rasa apa-apa. Namun Raga pernah menyelamatkannya. Hingga hari itu, Kirana mengajukan sebuah persyaratan yang ia pikir tak akan pernah bisa Raga lakukan namun ternyata Raga bisa. Mereka pacaran pada akhirnya? tidak. tapi sikap Raga yang manis membuat Kirana mulai merasakan apa yang disebut jatuh cinta.
Tapi sebelum cinta itu tumbuh, Raga harus kuliah di luar negeri karena permintaan orang tua dan dia berjanji, Akan menikahi Kirana saat kuliahnya sudah selesai suatu hari nanti.
"Gue juga gak nyangka sih Raga masih demen aja sama lo." suara dari Dita membuat Kirana tersentak. Ia menatap Dita dengan sorot bingung harus melakukan apa.
"Gue juga," sahut Kirana pelan.
"Gue pikir dia udah punya pengganti di sana karena kami juga gak berhubungan lagi," imbuh Kirana pelan. Sejak Raga pergi, Kirana merasa hidupnya baik-baik saja. Dan ketika tahun terus berganti, Raga memutuskan melanjutkan S2 di negeri yang sama. Kirana dan yang lainnya tentu saja berpikir bahwa Raga sudah memiliki wanita lain di sana.
Ejekan dari Mia tadi hanya ingin tau, Raga sebenarnya sudah memiliki kekasih atau masih mengharapkan Kirana dan semua pertanyaan mereka sudah jelas terjawab tadi.
"Terus perasaan lo sekarang gimana sama Raga?" tanya Dita pelan. Kirana mengerjap gugup. Sepintas segala sikap manis Raga saat SMA membuatnya merona. Bukankah cinta di masa itu memang sering membuat siapapun terlena? begitu pula dengan Kirana.
"Astaga Kirana! lo di tanyain cowok dua ngejawabnya sama sama gugup dan merona gitu. Sialan lo!" pekik Dita dramatis lalu tertawa.
"Apaan sih Dit!" sentak Kirana kesal. Ia gugup karena spontan mengingat saat kejadian di rumah Bratajaya dulu. Semburat merah di pipinya bukan merona tapi malu.
"Gue aja terpaksa nikah sama dia!" gerutu Kirana lalu melipat lengannya di dada.
"Terpaksa apa dipaksa?"
"Terpaksa Dit, orang tua sama mertua gue gak ada yang maksa. Karena keadaan akhirnya bikin gue terpaksa." sahut Kirana dengan nada santai.
"Mending pikirin baik-baik Na dan lo harus jujur sama dua cowok itu." Dita berucap dengan serius. Sebelum Kirana menjawab ia kembali berucap "Mau gue anter sampe dalam?" tawarnya pelan. Kirana mengerjap sesaat. Baru menyadari bahwa mereka sudah sampai parkiran apartemen.
__ADS_1
"Lo tau di mana alamat gue?" tanya Kirana dengan mata membulat sempurna.
"Bunda," sahut Dita santai.
"Ya udah, gue bisa sendiri ke dalam. Gak gelap juga kok di dalam terang!" Kirana lalu turun dari mobil Dita. Suara teriakan Dita membuatnya tertawa.
"Makasih tumpangannya Kiranaaa!"
***
Kirana berjalan menuju kamar apartemennya. Melirik jam tangan yang menunjukkan angka sepuluh membuat Ia sedikit waspada. Perlahan Kirana masuk dan berjalan dengan santai menuju kamarnya. Akbar terlihat sudah tidur di atas sofa. Kirana menatapnya dengan sorot mata penuh arti.
Gadis itu lalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah mandi, ia sholat isya dan meminta petunjuk sang maha kuasa. Siapa yang harus dipilihnya. Akbar atau Raga? Saat selesai, Kirana merasa haus dan menuju dapur. Membuka lemari es di sana. Sesuatu di dalamnya membuat Kirana tersenyum merekah.
"Abang?" gumamnya pelan sembari menatap Akbar yang keluar kamar dengan keadaan berantakan. Ia tersenyum lebar.
"Ini abang yang nyiapin yaa?" tanyanya sembari membawa cake cokelat ke atas meja pantri.
"Enggak," sahut Akbar singkat lalu meminum mineral di kulkas.
"Dari Puspa, katanya kakaknya lagi ulang tahun," imbuh Akbar lalu berjalan menuju kamarnya. Sama sekali tak mengucapkan selamat pada Kirana bahkan sama sekali tak menatapnya.
Kirana mengambil ponselnya dan menelpon Puspa.
"Makasih Dek kuenya!" ucap Kirana dengan nada biasa. Entah mengapa seperti ada rasa kecewa.
"Kue Mbak? Aku gak ada ngasih kue apa-apa." tanpa menunggu sahutan Kirana, Puspa kembali berucap, "Kata bunda besok acara buat Mbak Kirana diadain di rumah ayah. Jadi Puspa gak ada beliin apa-apa. Rencananya besok aja sekalian. Selamat ulang tahun Mbakku sayang!"
Bersambung
__ADS_1
Like dan komentarnya yaa ❤