
Pasukan raid saat ini telah kembali ke Kota Loka, setelah keberhasilan mereka menghancurkan satu Desa Goblin yang telah banyak meresahkan masyarakat disekitarnya.
"Adya, kakak antar ke kakek ya?" Ares bertanya pada gadis kecil yang ada disampingnya dengan senyum kecil, setelah mereka selesai makan di sebuah restoran di kota.
"Huum," dengan senyuman manisnya, Adya mengganguk dan mengacungkan ibu jarinya.
"Aku akan ikut," Suara seorang perempuan memasuki telinga Ares, perempuan itu adalah Lysa yang sedang menatap Ares dengan tajam, karena sepertinya ia belum terlalu mempercayai Ares untuk memulangkan Adya.
Ares hanya mengganguk untuk merespon Lysa, lalu menghela napasnya.
"Kita akan berangkat sekarang," Ares berdiri untuk membayar makanan yang sudah mereka makan, lalu berjalan keluar diikuti oleh Lysa dan Adya.
"Ne, ne, Kak Lysa, apa setelah aku pulang nanti kita masih bisa bertemu?" Adya yang tangannya digandeng oleh Lysa bertanya dengan suara polos dan senyum manis.
"Tentu saja! Kita masih bisa bertemu, walaupun tidak sering tapi, aku janji sesekali akan berkunjung," Lysa menghela napasnya dan tersenyum dengan ramah saat menjawab pertanyaan Adya.
'Apa NPC ini benar benar hanya program komputer?' Ares berpikir dengan serius saat ia menggigit ibu jarinya.
"Ini rumahmu kan?" Sampai di depan salah satu rumah yang berukuran cukup besar, Ares bertanya pada Adya untuk memastikan apa ini rumahnya atau bukan.
"Huum, ini rumah Adya," Adya dengan mata berbinar menatap kearah rumahnya, ia terlihat sangat bahagia.
Tok tok tok
Mendapatkan konfirmasi dari Adya, Ares mengetuk pintu rumah beberapa sebelum menunggu seseorang keluar dari dalam pintu.
"Sebentar," sebuah suara terdengar dari dalam rumah, beberapa saat kemudian seorang kakek-kakek keluar dari dalam rumah. Berbeda dari pertama kali mereka bertemu, kali ini Kakek Wasa tidak menggunakan baju besi, ia hanya mengenakan baju kain yang biasa digunakan oleh warga setempat.
"Adya!" Kakek Wasa saat melihat Adya langsung memeluknya dengan erat sambil menangis. Adya yang dipeluk juga menangis, ia tidak menyangka bisa keluar dari penjara goblin, bahkan bisa bertemu kembali dengan kakeknya yang ia sayangi.
"Terima kasih! Saya benar benar berterimakasih!" Setelah berpelukan beberapa saat, Kakek Wasa melepaskan pelukannya dan dengan cepat melihat ke arah Ares dengan pandangan berterimakasih.
"Sama sama kakek, saya senang bisa membantu," Ares berkata dengan tersenyum tulus pada Kakek Wasa.
__ADS_1
{Quest tingkat A' permintaan Kakek Wasa' Selesai!
Reward : Teknik Pertarungan
Respect +25
Kesukaan Kakek Wasa+85/100}
"Apa kamu mau mempelajari teknik pertarungan yang saya miliki?" Kakek Wasa bertanya pada Ares saat Adya sedang mengobrol dengan Lysa dengan gembira.
"Tentu saya mau," Ares menjawab tanpa adanya keraguan, sewaktu perjalanan kembali Kota Loka, Ares telah bertanya pada Sadawira tentang teknik pertarungan. Menurut penjelasan Sadawira, teknik pertarungan bisa dibilang sebagai teknik yang mengandalkan kekuatan tubuh, kelincahan, kecepatan, kepintaran dalam menggunakannya dan stamina pengguna. Tidak seperti skill, teknik pertarungan bisa digunakan terus menerus jika tubuh pengguna dan stamina pengguna kuat.
"Besok temui saya di hutan sebelah timur ya," Kakek Wasa dengan senyum hangat berkata pada Ares yang masih tersenyum kecil dan mengganguk menjawab Kakek Wasa.
"Oh! Kakek, maaf tapi saya harus pergi dulu," Saat melihat jam yang sudah hampir menunjukkan jam satu dini hari, Ares dengan cepat berpamitan dengan Kakek Wasa.
" Sepertinya kamu sedang ada urusan ya? Sampai jumpa," Kakek Wasa tersenyum hangat saat Ares sudah mulai berlari menjauh.
Merasa sudah cukup jauh dari kediaman Kakek Wasa, Ares dengan segera melakukan log out dari Terra Online.
"Ah, tubuhku terasa kaku," Kevin yang bangun dari tempat tidur sedikit mengeluh sebelum melakukan peregangan otot.
"Sekarang, waktunya tidur," Kevin segera memindahkan AlphaVR miliknya dari tempat tidur yang akan ia gunakan untuk tidur.
"Aku bisa terlambat! Sial!" Jam enam pagi, Kevin dengan tergesa-gesa bersiap untuk berangkat ke sekolah, dengan roti yang berada di mulutnya, Kevin melihat jam tangannya dan dengan segera berlari karena takut ketinggalan angkot yang mengarah ke sekolahnya.
"Bang! Angkot!" Masih sambil berlari, Kevin berteriak saat ia melihat angkot yang ingin dinaikinya akan pergi setelah menerima penumpang. Supir angkot yang melihat Kevin menginjak rem.
"Huh, huh, makasih bang," Kevin dengan terengah-engah berterimakasih kepada supir angkot yang hanya tersenyum dan mengangguk.
"Hi...shi...shi...shi... Kamu kesiangan ya Kevin?" Seorang gadis yang terlihat seperti seumuran dengan Kevin tertawa saat ia melihat Kevin yang terengah-engah.
"Liyana?!" Kevin sedikit terkejut, karena walaupun ia satu sekolah dengan gadis didepannya, Kevin hampir tidak pernah berada dalam satu angkot karena Liyana biasanya membawa mobil sendiri.
__ADS_1
"Maksudmu, Kak Liyana kan?" Dengan tersenyum manis Liyana menekankan kata kak pada ucapannya.
"Tidak, maksudku Liyana ya Liyana, tidak pakai kak," Kevin membantah ucapan Liyana dengan penekanan, karena walaupun Liyana adalah kakak kelasnya, mereka sudah kenal sejak masih kecil yang membuatnya tidak terbiasa jika harus memanggilnya dengan tambahan kata kak.
"His, terserah deh," Menggelembungkan pipinya, Liyana berusaha memalingkan wajahnya dari Kevin yang tidak terlalu peduli.
"Oh iya, Kevin kamu sudah baca itu? Lomba untuk para petualang di Kerajaan Nusantara," seperti teringat sesuatu, Liyana berbicara pada Kevin seperti tidak ada yang terjadi sama sekali.
"Hem, ada lomba ya? Kapan? Dimana? Sepertinya menarik," Kevin yang merasakan ketertarikan bertanya pada Liyana.
"13 hari lagi di ibukota Kerajaan Nusantara, Kota Truewill," Liyana menjawabnya dengan ucapan santai.
"Kota Truewill, itu di daerah Jawa Timur ya?" Kevin yang hanya ingat samar samar bertanya kembali pada Liyana yang sedang tersenyum dengan manis.
"Yah kamu benar!" Liyana menjawab sambil mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum manis pada Kevin yang terlihat cuek.
'hem, semoga aku bisa selesai mempelajari teknik Kakek Wasa sebelum lomba itu,' Kevin menggigit ibu jarinya, ia berharap agar bisa mengikuti lomba yang akan diadakan oleh pihak kerajaan.
"Oh aku lupa, itu lomba untuk tim lima orang," Liyana tersenyum manis saat memberitahu Kevin yang seketika kembali berpikir, apakah anggota New Olympus yang lain mau diajak untuk mengikuti lomba itu atau tidak.
Melewati gerbang sekolah, langkah kaki Kevin menjadi sedikit berat, walaupun ia tidak ingin terlambat ke sekolah, tetap saja ia merasa sulit berada di tempat dimana ia tidak diinginkan.
"Ayo Vin," Liyana yang merasa Kevin melambat menariknya untuk masuk ke dalam sekolahan.
"Hey, lihat itu! Si pecundang itu bersama Kak Liyana!" Salah seorang murid membicarakan Kevin dan diikuti oleh yang lain, ini adalah keseharian Kevin saat berangkat ke sekolah. Di sekolah, ia hanya bisa tenang saat memasuki kelas, karena walaupun banyak yang tidak menyukainya juga di kelas, mereka tidak akan dengan teramg terangan membicarakannya. Selain itu, di kelas juga ada Farel yang bisa ia ajak mengobrol.
"Pergilah Li, kau bisa kena gosip buruk jika terus bersamaku," Kevin menyuruh Liyana untuk pergi, ia tidak ingin Liyana yang sudah baik dengannya, digosipkan dan dimusuhi oleh murid lain gara gara dirinya.
"Jika aku pergi, aku yang akan merasa buruk dengan diriku sendiri," Liyana menjawab Kevin dengan serius.
Setelah melewati banyak hal yang seperti neraka, Kevin akhirnya masuk ke dalam kelasnya, di lorong sebelumnya ia sudah berpisah dengan Liyana karena berbeda kelas.
"Hey Vin!" Farel menyapa Kevin yang baru datang dari tempat duduknya dengan senyumannya yang biasa.
__ADS_1
"He," Kevin menjawab dengan singkat sebelum duduk di bangku miliknya dan membuka Mall Online untuk menjual rune yang tidak ia gunakan selama pertempuran kemarin, tetapi ia masih menyisakan sedikit untuk dipakainya sendiri.